Mengatasi Selisih Persediaan dengan Sistem Akuntansi Persediaan yang Tepat

VOKASI NEWS – Selisih antara data persediaan dan kondisi barang di gudang masih menjadi tantangan bagi banyak perusahaan manufaktur. Ketidaksesuaian tersebut dapat menghambat operasional, menurunkan akurasi laporan persediaan, serta meningkatkan risiko kerugian. Oleh karena itu, perusahaan membutuhkan sistem akuntansi persediaan yang mampu menghasilkan informasi secara akurat sekaligus mendukung pengendalian internal.

PT XYZ merupakan perusahaan manufaktur di Surabaya yang memproduksi dan mendistribusikan berbagai jenis garam konsumsi maupun garam industri. Meningkatnya aktivitas operasional membuat pengelolaan persediaan menjadi aspek yang sangat penting. Persediaan yang tercatat dengan baik membantu perusahaan menjaga kelancaran produksi sekaligus memenuhi kebutuhan pelanggan.

Penerapan Sistem Akuntansi Persediaan

Hasil studi kasus dengan pendekatan kualitatif menunjukkan bahwa PT XYZ telah menerapkan metode mutasi persediaan (perpetual inventory method). Sistem tersebut mencatat setiap transaksi barang masuk dan barang keluar secara berkelanjutan. Dengan demikian, informasi persediaan dapat diperoleh secara lebih cepat dan akurat.

Perusahaan juga menggunakan metode First In First Out (FIFO). Metode ini memastikan barang yang lebih dahulu masuk akan lebih dahulu dikeluarkan. Penerapan FIFO dinilai sesuai dengan karakteristik produk garam yang memiliki masa simpan tertentu sehingga kualitas produk tetap terjaga selama proses penyimpanan.

Selisih Persediaan Masih Menjadi Kendala

Meskipun sistem pencatatan telah diterapkan, beberapa kendala masih ditemukan dalam pengelolaan persediaan. Salah satu penyebab utama adalah pembagian tugas yang belum berjalan secara optimal.

Beberapa aktivitas, seperti penyimpanan barang, pencatatan transaksi, perhitungan fisik, hingga pemeriksaan hasil persediaan, masih dilakukan oleh pihak yang sama. Kondisi tersebut menyebabkan terjadinya perangkapan fungsi sehingga pengendalian internal menjadi kurang efektif.

Selain itu, masih ditemukan perbedaan pencatatan antara admin gudang dan admin sales. Ketidaksesuaian tersebut menyebabkan selisih antara data administrasi dan kondisi fisik barang di gudang. Jika tidak segera diperbaiki, kondisi tersebut dapat mengganggu operasional perusahaan dan meningkatkan risiko kerugian.

Pengendalian Internal Perlu Diperkuat

Evaluasi menunjukkan bahwa perusahaan perlu memperkuat prosedur pengendalian internal. Salah satu langkah yang dapat dilakukan ialah menambahkan dokumen surat jalan barang keluar sebagai bukti pendukung setiap transaksi pengeluaran barang.

Perusahaan juga disarankan menerapkan prosedur double check pada setiap transaksi maupun hasil perhitungan fisik persediaan. Langkah tersebut membantu meminimalkan kesalahan pencatatan dan memastikan kesesuaian antara data administrasi dengan kondisi barang di gudang.

Selain itu, pembagian tugas yang lebih jelas perlu diterapkan. Fungsi penyimpanan, pencatatan, dan pemeriksaan sebaiknya dilakukan oleh personel yang berbeda. Pemisahan fungsi tersebut dapat meningkatkan efektivitas pengendalian internal sekaligus memperkuat keandalan informasi persediaan.

Penerapan sistem akuntansi persediaan tidak hanya bergantung pada metode pencatatan yang digunakan. Koordinasi antardepartemen serta pelaksanaan pengendalian internal yang baik juga menjadi faktor penting dalam menjaga akurasi data persediaan. Melalui evaluasi prosedur yang berkelanjutan, perusahaan dapat meningkatkan efisiensi operasional sekaligus mendukung pengambilan keputusan yang lebih tepat.

[BACA JUGA: Laporan Keuangan yang Andal Tidak Lahir Sendiri: Peran Krusial Pengendalian Internal]

Penulis: Rizka Susilo Apriliani

Pembimbing: Izmi Dwira Eriani

Editor: Alkeshar (Tim Vokasi Branding)