VOKASI NEWS – Kanker payudara masih menjadi salah satu tantangan terbesar dalam dunia kesehatan. Penyakit ini menempati urutan teratas sebagai kanker yang paling banyak dialami perempuan di berbagai negara, termasuk Indonesia. Perkembangan ilmu kedokteran telah menghadirkan berbagai pilihan terapi yang mampu meningkatkan angka harapan hidup pasien. Salah satu terapi yang paling sering digunakan pada kanker payudara stadium awal adalah kemoterapi. Terapi ini berperan penting dalam menghancurkan sel kanker sekaligus menurunkan risiko kekambuhan setelah tindakan operasi.
Efek Kemoterapi terhadap Kondisi Hematologi Pasien
Di balik manfaat tersebut, kemoterapi juga memiliki efek samping yang tidak dapat diabaikan. Obat sitotoksik yang digunakan tidak hanya menyerang sel kanker, tetapi juga dapat memengaruhi sel normal yang memiliki kemampuan membelah dengan cepat. Salah satu jaringan tubuh yang paling rentan terhadap kondisi tersebut adalah sumsum tulang, yaitu tempat pembentukan sel-sel darah. Akibatnya, produksi hemoglobin, neutrofil, dan trombosit dapat mengalami penurunan selama menjalani kemoterapi.
Penurunan kadar hemoglobin dapat menyebabkan anemia yang ditandai dengan tubuh mudah lelah, lemas, dan berkurangnya kemampuan tubuh mengangkut oksigen. Penurunan jumlah neutrofil atau neutropenia meningkatkan risiko infeksi karena sistem pertahanan tubuh menjadi lebih lemah. Sementara itu, trombositopenia dapat meningkatkan risiko perdarahan akibat berkurangnya kemampuan pembekuan darah. Efek samping tersebut tidak hanya memengaruhi kondisi fisik pasien, tetapi juga dapat menyebabkan penundaan pemberian kemoterapi berikutnya apabila kondisi hematologi belum kembali membaik.
Berbagai regimen kemoterapi digunakan dalam tata laksana kanker payudara stadium awal. Regimen berbasis Antrasiklin dan Taxane merupakan pilihan yang paling sering digunakan karena terbukti efektif menghambat pertumbuhan sel kanker. Selain kedua regimen tersebut, kombinasi Antrasiklin dan Taxane juga banyak diterapkan sesuai kondisi klinis pasien. Meskipun memiliki tujuan terapi yang sama, setiap regimen mempunyai karakteristik toksisitas yang berbeda sehingga pemantauan efek samping menjadi bagian penting dalam proses pengobatan.
Perbedaan Profil Hematologi Berdasarkan Regimen Kemoterapi
Penelitian yang dilakukan di RSPAL dr. Ramelan Surabaya bertujuan membandingkan efek samping hematologis pada pasien kanker payudara stadium awal yang menjalani kemoterapi menggunakan regimen Antrasiklin, Taxane, maupun kombinasi keduanya. Analisis dilakukan terhadap lima puluh tiga data pasien menggunakan hasil pemeriksaan darah lengkap selama menjalani kemoterapi. Parameter yang dievaluasi meliputi kadar hemoglobin, jumlah neutrofil, dan jumlah trombosit sebagai indikator utama kondisi hematologi pasien.
Hasil penelitian menunjukkan adanya variasi nilai hemoglobin, neutrofil, dan trombosit pada seluruh kelompok regimen kemoterapi. Analisis statistik memperlihatkan adanya perbedaan bermakna pada kadar hemoglobin antarkelompok regimen. Kelompok yang menjalani kemoterapi berbasis Taxane menunjukkan kecenderungan memiliki kadar hemoglobin lebih rendah dibandingkan kelompok lainnya. Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa anemia menjadi efek samping hematologis yang perlu memperoleh perhatian lebih selama penggunaan regimen tersebut.
Berbeda dengan hemoglobin, jumlah neutrofil dan trombosit tidak menunjukkan perbedaan yang bermakna secara statistik antarregimen kemoterapi. Meskipun demikian, kecenderungan penurunan kedua parameter tetap ditemukan pada sebagian pasien selama menjalani pengobatan. Temuan tersebut menunjukkan bahwa setiap pasien dapat memberikan respons biologis yang berbeda terhadap regimen kemoterapi yang diterima. Faktor usia, kondisi kesehatan, status gizi, penyakit penyerta, serta respons individu terhadap obat diduga turut memengaruhi perubahan profil hematologi selama terapi berlangsung.
Pentingnya Pemantauan Hematologi Selama Kemoterapi
Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa pemeriksaan darah lengkap memiliki peranan yang sangat penting dalam mendukung keberhasilan terapi kanker payudara. Pemeriksaan hematologi secara rutin memungkinkan tenaga kesehatan mendeteksi perubahan kondisi pasien sejak tahap awal sehingga komplikasi dapat dicegah sedini mungkin. Informasi tersebut juga menjadi dasar dalam menentukan apakah kemoterapi dapat dilanjutkan sesuai jadwal, memerlukan penyesuaian dosis, atau membutuhkan terapi suportif terlebih dahulu.
Kontribusi pemeriksaan laboratorium tidak hanya terbatas pada penyediaan hasil pemeriksaan, tetapi juga mendukung pengambilan keputusan klinis secara menyeluruh. Hasil pemeriksaan hemoglobin, neutrofil, dan trombosit menjadi indikator penting dalam mengevaluasi keamanan pemberian kemoterapi. Oleh karena itu, peran pelayanan laboratorium, khususnya pemeriksaan hematologi, menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari keberhasilan penatalaksanaan pasien kanker payudara.
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan tambahan informasi mengenai karakteristik efek samping hematologis pada berbagai regimen kemoterapi yang digunakan di Indonesia. Temuan tersebut juga dapat menjadi bahan pertimbangan bagi tenaga kesehatan dalam melakukan pemantauan pasien secara lebih optimal sesuai karakteristik regimen yang diberikan. Pemantauan hematologi yang dilakukan secara rutin diharapkan mampu meningkatkan keamanan terapi, mengurangi risiko komplikasi, serta mendukung kualitas hidup pasien kanker payudara selama menjalani proses pengobatan.
[BACA JUGA: Smart Sentiment Monitoring System: Solusi Pemantauan Reputasi Digital Perguruan Tinggi berbasis Machine Learning]
Penulis: Ifqih Salsabila Alifanti
Pembimbing: Manik Retno Wahyunitisari dan Nur Septia Handayani
Editor: Vioretha (Tim Vokasi Branding)



