Mengenal Klasifikasi Obat Bahan Alam Indonesia

VOKASI NEWS – Suasana di lokasi pengabdian masyarakat pada pagi hari tampak hidup. Mahasiswa D3 Keperawatan Fakultas Vokasi Universitas Airlangga berinteraksi dengan warga. Selain itu, kegiatan ini disertai edukasi mengenai obat bahan alam. Di tengah diskusi, muncul pertanyaan mendasar dari masyarakat. Pertanyaan tersebut berkaitan dengan pengelompokan obat bahan alam. Mulai dari Jamu, Obat Herbal Terstandar (OHT), hingga Fitofarmaka.

Edukasi Klasifikasi Obat Bahan Alam

Edukasi yang disampaikan mahasiswa Vokasi UNAIR tidak hanya bersifat teknis. Namun demikian, edukasi ini bertujuan meluruskan persepsi masyarakat. Selain itu, penggunaan obat bahan alam harus tetap mengutamakan keamanan. Oleh karena itu, pengklasifikasian obat dilakukan secara ilmiah oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Selanjutnya, BPOM menetapkan tiga kategori utama obat bahan alam. Kategori tersebut adalah Jamu, OHT, dan Fitofarmaka. Pengelompokan ini bertujuan memberikan standar ilmiah yang jelas. Dengan demikian, obat bahan alam dapat digunakan secara aman dan efektif.

Jamu: Warisan Tradisi yang Bersandar pada Pengalaman

Pertama, Jamu merupakan kategori obat bahan alam paling tradisional. Dasar pembuktiannya berasal dari data empiris. Selain itu, Jamu digunakan secara turun-temurun oleh masyarakat. Penggunaan ini telah berlangsung selama puluhan tahun. Namun demikian, Jamu tidak melalui uji laboratorium kompleks. Evaluasi dilakukan berdasarkan pengalaman pengguna.

Produk Jamu memiliki logo lingkaran hijau dengan gambar pohon. Oleh karena itu, masyarakat dapat mengenalinya dengan mudah. Dalam praktik keperawatan, Jamu lebih bersifat preventif. Jamu bukan pengganti utama pengobatan medis pada penyakit berat.

Obat Herbal Terstandar (OHT): Lompatan Menuju Uji Laboratorium

Selanjutnya, Obat Herbal Terstandar (OHT) merupakan pengembangan dari Jamu. Produk ini memiliki standar yang lebih tinggi. Selain itu, OHT didukung oleh bukti empiris dan uji laboratorium. Uji tersebut dilakukan pada hewan coba. Uji pra-klinis ini mencakup keamanan dan efek farmakologi. Oleh karena itu, hasilnya lebih terukur dibandingkan Jamu.

Dengan demikian, OHT memiliki konsistensi khasiat yang lebih baik. Produk ini juga lebih dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. OHT dapat dikenali melalui logo lingkaran hijau dengan tiga bintang. Logo ini menjadi penanda standar kualitas produk.

Fitofarmaka: Standar Emas Obat Modern

Kemudian, Fitofarmaka merupakan tingkat tertinggi obat bahan alam di Indonesia. Kategori ini telah melalui uji klinis pada manusia. Selain itu, uji klinis dilakukan secara ketat dan ilmiah. Proses ini mirip dengan pengembangan obat modern.

Hasil uji tersebut membuktikan keamanan, khasiat, dan dosis yang tepat. Oleh karena itu, Fitofarmaka dapat digunakan dalam dunia medis. Bahkan, dokter dapat meresepkan Fitofarmaka sebagai terapi. Baik sebagai terapi utama maupun terapi pendamping. Produk Fitofarmaka memiliki logo lingkaran hijau dengan simbol salju atau kristal.

Peran Vokasi dalam Menjembatani Sains dan Tradisi

Selain itu, kegiatan penyuluhan ini menegaskan pentingnya literasi kesehatan. Mahasiswa D3 Keperawatan Vokasi UNAIR berperan dalam edukasi masyarakat. Dengan demikian, masyarakat dapat memahami klasifikasi obat bahan alam dengan lebih baik. Pemahaman ini membantu masyarakat menjadi konsumen yang lebih bijak.

Lebih lanjut, kegiatan ini juga menjadi bentuk pengabdian mahasiswa. Tujuannya adalah meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Pada akhirnya, pemahaman masyarakat diharapkan terus meningkat. Hal ini mendukung pengembangan obat bahan alam Indonesia.

Selain itu, Indonesia diharapkan mampu mengembangkan produk herbal unggulan. Mulai dari Jamu hingga Fitofarmaka berbasis bukti ilmiah. Dengan demikian, kolaborasi antara tradisi dan sains dapat memperkuat kemandirian kesehatan nasional.

[BACA JUGA: Ibu-ibu PKK Dibekali Pengetahuan Penggolongan Obat]

Penulis: Najwa Salsabila

Editor: Sinta Rahmah (Tim Vokasi Branding)