Menghadapi Era Digital, Mahasiswa D-III Perpajakan UNAIR Asah Kompetensi Perpajakan Melalui Magang

VOKASI NEWS – Implementasi Coretax Administration System menjadi salah satu tonggak transformasi digital administrasi perpajakan di Indonesia. Sistem yang dikembangkan oleh Direktorat Jenderal Pajak (DJP) tersebut dirancang untuk mengintegrasikan berbagai layanan perpajakan sehingga proses administrasi menjadi lebih efektif, efisien, dan transparan (Direktorat Jenderal Pajak, 2024). Momentum tersebut sekaligus memberikan pengalaman belajar yang berbeda bagi mahasiswa Program Studi D-III Perpajakan Universitas Airlangga melalui program magang di sektor jasa perpajakan.

Selama enam bulan magang, berbagai aktivitas administrasi perpajakan dikerjakan secara langsung. Kegiatannya meliputi penyusunan SPT Masa PPN, PPh Pasal 21, PPh Pasal 23, PPh Final Pasal 4 ayat (2), hingga PPh Unifikasi. Kegiatan tersebut memberikan gambaran nyata mengenai penerapan teori perpajakan dalam lingkungan kerja profesional sekaligus menunjukkan pentingnya ketelitian dalam memenuhi kewajiban perpajakan wajib pajak.

Menghadapi Transformasi Digital Perpajakan

Salah satu pengalaman yang paling berkesan adalah keterlibatan dalam proses adaptasi terhadap penggunaan Coretax yang masih berada pada tahap implementasi. Berbagai penyesuaian, perubahan alur administrasi, hingga pembaruan fitur menjadi tantangan yang harus dihadapi selama pelaksanaan pekerjaan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa transformasi digital tidak hanya membutuhkan kesiapan teknologi, tetapi juga sumber daya manusia yang mampu beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan.

Selain proses pelaporan pajak, kegiatan magang juga melibatkan rekonsiliasi antara dokumen akuntansi dan perpajakan. Proses tersebut mencakup pencocokan laporan keuangan, bukti potong, faktur pajak, serta mutasi rekening untuk memastikan setiap transaksi telah dicatat secara benar. Ketelitian menjadi faktor utama karena setiap perbedaan data harus ditelusuri penyebabnya sebelum proses pelaporan diselesaikan.

Pengalaman lain yang memberikan pembelajaran berharga adalah keterlibatan dalam analisis Surat Permintaan Penjelasan atas Data dan/atau Keterangan (SP2DK). Analisis dilakukan dengan membandingkan data bukti potong PPh Pasal 23 dan Faktur Pajak Keluaran guna mengidentifikasi potensi perbedaan pelaporan penghasilan. Proses tersebut memperkuat kemampuan analitis sekaligus memberikan pemahaman mengenai keterkaitan antara data perpajakan, transaksi bisnis, dan kepatuhan wajib pajak.

Kompetensi yang Terus Berkembang

Pelaksanaan magang juga memperkuat kemampuan pengolahan data menggunakan Microsoft Excel melalui berbagai fitur, seperti Pivot Table, VLOOKUP, SUMPRODUCT, dan AGGREGATE. Penguasaan perangkat tersebut membantu meningkatkan efisiensi proses rekonsiliasi sekaligus mendukung analisis data perpajakan secara lebih akurat.

Selain kompetensi teknis, pengalaman magang turut mengembangkan kemampuan komunikasi, kolaborasi, dan manajemen waktu. Penyelesaian berbagai pekerjaan secara bersamaan meningkatkan kemampuan menentukan prioritas dan menjaga ketelitian. Pengalaman tersebut juga membentuk kebiasaan bekerja sesuai standar profesional. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan suatu pekerjaan tidak hanya ditentukan oleh penguasaan regulasi, tetapi juga kemampuan bekerja sama dan beradaptasi dengan dinamika dunia kerja.

“Program magang menjadi sarana untuk melihat bagaimana teori perpajakan diterapkan dalam situasi nyata. Pengalaman menghadapi transisi menuju Coretax menunjukkan bahwa dunia perpajakan terus berkembang sehingga calon profesional perlu meningkatkan kompetensi, adaptif terhadap perubahan, dan mampu bekerja secara cermat dalam setiap proses,” ungkap Khalista Olin, mahasiswa Program Studi D-III Perpajakan Universitas Airlangga.

Program magang menjadi jembatan yang menghubungkan pembelajaran di perguruan tinggi dengan kebutuhan dunia profesional. Pengalaman menghadapi transformasi digital perpajakan membuktikan bahwa lulusan vokasi tidak hanya dituntut memahami regulasi. Mahasiswa juga harus menguasai teknologi, berpikir analitis, dan mampu beradaptasi terhadap perubahan. Kompetensi tersebut diharapkan menjadi bekal dalam mendukung terwujudnya sistem administrasi perpajakan Indonesia yang semakin modern, efektif, dan akuntabel.

[BACA JUGA: Inovasi Deteksi Emosi Publik di Media Sosial X untuk Strategi Komunikasi UNAIR]

Penulis: Khalista Dzakirah

Pembimbing: Riska Nur Rosyidiana

Editor: Vioretha (Tim Branding Vokasi)