VOKASI NEWS – Identifikasi bakteri patogen di laboratorium klinis memegang peranan krusial dalam menentukan diagnosis dan terapi yang tepat bagi pasien. Salah satu bakteri yang sering menjadi penyebab infeksi dari kulit hingga jaringan lunak adalah Staphylococcus aureus. Namun, proses kultivasi bakteri di laboratorium sering menghadapi kendala biaya karena harga media standar Nutrient Agar (NA) yang relatif mahal. Kondisi tersebut memicu pelaksanaan riset inovatif untuk mengeksplorasi potensi bahan alami alternatif yang ekonomis dan mudah didapatkan sebagai pengganti media komersial.
Riset dilakukan dengan memanfaatkan air rebusan kacang tanah (Arachis hypogaea) sebagai media pertumbuhan alternatif bagi bakteri Staphylococcus aureus. Pilihan ini didasarkan pada kandungan nutrisi kacang tanah yang kaya akan protein, karbohidrat, lemak, serta mineral esensial. Langkah ini diharapkan mampu memberikan opsi media kultur yang lebih terjangkau untuk laboratorium dengan keterbatasan sumber daya. Galuh Kusuma Wardani menyatakan bahwa pemanfaatan bahan alami ini mampu menekan biaya operasional laboratorium tanpa menurunkan kualitas pertumbuhan mikroorganisme secara signifikan.
Air Rebusan Kacang Tanah sebagai Media Alternatif Pertumbuhan Bakteri
Kacang tanah memiliki kandungan lemak berkisar 40–50%, protein sekitar 27%, dan karbohidrat sekitar 18%. Proses perebusan menyebabkan protein sebagai sumber nitrogen, gula sebagai sumber karbon, dan mineral esensial terlarut ke dalam air rebusan. Komponen nutrisi alami tersebut terbukti mampu memenuhi kebutuhan dasar untuk metabolisme dan pembelahan sel bakteri heterotrof. Pengujian dilaksanakan dengan membandingkan tiga kelompok media, yaitu media standar Nutrient Agar sebagai kontrol serta Air Rebusan Kacang Tanah (ARBT) konsentrasi 10% dan 20%. Setiap kelompok media dilakukan pengujian dengan sembilan kali pengulangan.
Karakteristik Koloni Staphylococcus aureus pada Media ARBT
Pengamatan kualitatif menunjukkan koloni Staphylococcus aureus yang tumbuh pada media alternatif ARBT 10% dan 20% memiliki karakteristik fenotipik yang identik dengan media kontrol. Koloni pada seluruh variasi media memiliki karakteristik berbentuk bulat, berukuran sedang, dan berpermukaan halus. Koloni tersebut juga memiliki elevasi cembung, tepian rata, serta berwarna putih susu mengkilap. Hal ini membuktikan keandalan nutrisi alami kacang tanah dalam mempertahankan karakteristik genetik dan fisiologis koloni bakteri. Karakteristik visual yang konsisten ini sangat penting agar tidak membingungkan praktikan atau tenaga laboratorium saat melakukan identifikasi bakteri secara makroskopis.
Performa Pertumbuhan ARBT 10% Mendekati Media Standar
Secara kuantitatif, rata-rata jumlah koloni tertinggi ditemukan pada media komersial NA sebesar 8,31×10⁸ CFU/mL. Selanjutnya, jumlah koloni pada media ARBT 10% sebesar 5,63×10⁸ CFU/mL dan media ARBT 20% sebesar 3,86×10⁸ CFU/mL. Uji statistik One-Way ANOVA menunjukkan terdapat perbedaan bermakna antar kelompok perlakuan. Namun, uji lanjutan Post Hoc Tukey HSD mengonfirmasi bahwa pertumbuhan bakteri pada media ARBT 10% secara statistik tidak berbeda signifikan dengan media kontrol NA.
Pertumbuhan yang lebih optimal pada konsentrasi 10% dipengaruhi oleh faktor tekanan osmotik dan senyawa penghambat alami. Konsentrasi 20% meningkatkan tekanan osmotik di luar sel sehingga menghambat difusi zat hara, serta membawa senyawa fenolik dan flavonoid dalam jumlah tinggi yang bersifat antibakteri. Pengenceran menjadi 10% berhasil menekan efek toksik tersebut sehingga menghasilkan jumlah koloni yang lebih tinggi dan mendekati media standar. Dwi Wahyu Indriati selaku dosen pembimbing menegaskan bahwa modifikasi formula sangat penting untuk mencapai keseimbangan cairan sel mikroba yang optimal.
Pengembangan Media Alami untuk Mendukung Laboratorium Mikrobiologi
Secara keseluruhan, media air rebusan kacang tanah konsentrasi 10% berpotensi besar menjadi alternatif media pertumbuhan Staphylococcus aureus yang murah dan mudah diakses. Riset lanjutan diperlukan untuk menguji stabilitas daya simpan media serta efektivitasnya pada isolat klinis segar dari sampel pasien. Pengembangan media alami ini ke depan dapat diarahkan menjadi sediaan bubuk instan siap pakai. Inovasi tersebut diharapkan dapat mempermudah operasional di laboratorium pendidikan dan mendukung keberlanjutan riset mikrobiologi.
[BACA JUGA: Mastering College Life: How to Manage Academic Stress and Stay Productive]
Penulis: Galuh Kusuma Wardani
Pembimbing: Erlinda Widyastuti dan Dwi Wahyu Indriati
Editor: Vioretha (Tim Branding Vokasi)


