VOKASI NEWS – Perkembangan teknologi digital dan meningkatnya tuntutan akademik membuat mahasiswa semakin banyak menghabiskan waktu dalam posisi duduk. Aktivitas mengikuti perkuliahan, mengerjakan tugas, menyusun laporan, hingga penggunaan gawai dalam waktu lama menjadikan duduk berkepanjangan sebagai bagian dari rutinitas sehari-hari. Kondisi tersebut tidak hanya berdampak pada sistem muskuloskeletal, tetapi juga dapat mempengaruhi kemampuan tubuh dalam menjaga keseimbangan.
Salah satu indikator yang digunakan untuk menilai stabilitas tubuh adalah postural sway. Parameter ini menggambarkan pergeseran pusat tekanan tubuh (center of pressure) saat seseorang mempertahankan posisi berdiri. Semakin besar nilai postural sway, semakin besar pula osilasi tubuh yang terjadi ketika menjaga keseimbangan. Duduk dalam waktu lama diketahui dapat menyebabkan kekakuan otot, menurunkan aktivasi otot postural, serta mempengaruhi respons sensorimotor yang berperan dalam kontrol keseimbangan tubuh (Kett, Sichting, & Milani, 2021).
Meneliti Kebiasaan Duduk Mahasiswa
Penelitian dilakukan pada mahasiswa Fisioterapi Universitas Airlangga menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Sebanyak 49 mahasiswa yang memenuhi kriteria penelitian berpartisipasi dalam pengambilan data. Durasi duduk diukur menggunakan Adolescent Sedentary Activity Questionnaire (ASAQ), sedangkan keseimbangan tubuh dinilai melalui pengukuran postural sway pada beberapa kondisi berdiri menggunakan aplikasi Phypox berbasis sensor ponsel pintar.
Pengukuran keseimbangan dilakukan pada empat kondisi, yaitu berdiri dengan dua kaki dan satu kaki, masing-masing dengan mata terbuka maupun tertutup. Variasi kondisi tersebut digunakan untuk mengevaluasi kontribusi sistem visual, vestibular, dan somatosensorik dalam mempertahankan stabilitas postural.
Hasil Menunjukkan Hubungan yang Kuat
Analisis data menunjukkan adanya hubungan yang kuat dan signifikan antara durasi duduk dengan keseimbangan tubuh mahasiswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin lama waktu yang dihabiskan untuk duduk, semakin besar gangguan keseimbangan yang ditunjukkan melalui peningkatan nilai postural sway. Temuan tersebut menunjukkan bahwa semakin tinggi durasi duduk yang dilakukan mahasiswa, semakin besar nilai postural sway yang dihasilkan. Dengan kata lain, kebiasaan duduk berkepanjangan berkaitan dengan penurunan stabilitas postural dan kemampuan tubuh dalam mempertahankan keseimbangan.
Secara biomekanik, duduk dalam waktu lama dapat menyebabkan penurunan aktivasi otot postural, perubahan posisi panggul, serta peningkatan tekanan pada segmen tulang belakang tertentu. Kondisi tersebut berpotensi mengubah distribusi beban tubuh dan mengganggu mekanisme kontrol keseimbangan (Cho et al., 2023; Quijoux et al., 2021). Selain itu, kelelahan otot postural akibat posisi statis yang berlangsung lama dapat mengurangi kemampuan tubuh melakukan koreksi gerakan kecil yang diperlukan untuk mempertahankan posisi tegak (Amiri & Zemková, 2024).
[BACA JUGA: Pengembangan Keterampilan melalui Program Magang]
Pentingnya Mengurangi Perilaku Sedenter
Hasil penelitian ini menunjukkan pentingnya membatasi durasi duduk berkepanjangan pada mahasiswa. Aktivitas sederhana seperti berdiri, berjalan singkat, atau melakukan peregangan secara berkala dapat menjadi strategi untuk mengurangi dampak negatif perilaku sedenter terhadap sistem postural. Kesadaran untuk lebih aktif bergerak sejak usia muda diharapkan mampu membantu menjaga kesehatan muskuloskeletal sekaligus mempertahankan keseimbangan tubuh yang optimal.
Penulis: Ira Fadina Serdiyana
Pembimbing: Nanda Aulya Ramadhan, Devi Arianti
Editor: Vioretha (Tim Vokasi Branding)



