Sadar Obat Cair: Mahasiswa Keperawatan Vokasi UNAIR Edukasi Ibu-ibu di Menganti, Gresik

VOKASI NEWS – Mahasiswa Program Studi D-III Keperawatan Fakultas Vokasi Universitas Airlangga mengadakan kegiatan edukasi kesehatan di Desa Hulaan, Kecamatan Menganti, Kabupaten Gresik. Kegiatan ini merupakan implementasi dari mata kuliah Farmakologi. Ibu-ibu dipilih sebagai peserta karena berperan penting dalam mengelola kesehatan keluarga. Obat cair seperti sirup, suspensi, dan emulsi menjadi fokus utama dalam edukasi ini. Ketiga jenis obat tersebut sangat sering digunakan oleh masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.

Pentingnya Edukasi Sediaan Obat Cair pada Masyarakat

Obat bentuk cair biasanya menjadi pilihan utama untuk anak-anak, lansia, dan orang yang sulit menelan tablet atau kapsul. Lebih dari 60 persen obat untuk infeksi saluran pernapasan pada anak berbentuk sediaan cair. Namun, masih banyak masyarakat yang melakukan kesalahan dalam menggunakan obat cair di rumah. Kesalahan yang sering terjadi antara lain tidak tepat dalam menentukan dosis, cara menyimpan yang salah, dan tidak mengocok obat sebelum digunakan.

Kesalahan-kesalahan ini menyebabkan angka keracunan obat yang tidak sedikit. Sebagian dari kasus tersebut melibatkan sediaan obat cair. Hanya seperempat ibu rumah tangga yang memahami perbedaan antara larutan, suspensi, dan emulsi beserta cara penggunaannya yang benar. Oleh karena itu, kegiatan edukasi seperti ini sangat diperlukan untuk meningkatkan literasi kesehatan masyarakat.

Materi dan Media yang Digunakan dalam Edukasi

Materi yang disampaikan meliputi pengertian, jenis, kelebihan, kekurangan, serta cara penggunaan sediaan obat cair yang benar. Peserta diajarkan untuk selalu memeriksa label dan tanggal kadaluarsa sebelum menggunakan obat. Untuk obat suspensi, peserta diingatkan mengocok botol terlebih dahulu agar partikel obat tercampur merata. Pengukuran dosis harus menggunakan alat takar standar dari kemasan, bukan sendok makan. Penyimpanan obat juga harus memperhatikan batas penggunaan setelah kemasan dibuka atau Beyond Use Date (BUD).

Tim mahasiswa menggunakan beberapa media edukasi seperti papan obat dan leaflet. Papan obat membantu peserta melihat contoh sediaan obat cair secara langsung. Leaflet dibagikan agar peserta dapat membaca ulang materi di rumah. Media ini dipilih karena mudah dipahami oleh ibu-ibu. Seluruh media dirancang dengan bahasa yang sederhana dan jelas.

Hasil dari Kegiatan Edukasi

Sebelum penyampaian materi dimulai, peserta mengikuti pre-test untuk mengukur tingkat pengetahuan awal tentang sediaan obat cair. Hasil evaluasi menunjukkan nilai rata-rata peserta sebesar 38,9. Angka tersebut menggambarkan bahwa sebagian besar peserta masih kurang memahami cara penggunaan obat cair yang tepat. Beberapa peserta belum mengetahui bagaimana cara menyimpan obat dengan benar. Selain itu, masih ada peserta yang belum bisa membedakan berbagai jenis sediaan obat cair seperti larutan, suspensi, dan emulsi.

Oleh karena itu, kegiatan edukasi ini sangat diperlukan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat. Dengan pemahaman yang lebih baik, penggunaan obat di lingkungan keluarga diharapkan menjadi lebih aman dan bertanggung jawab. Setelah seluruh rangkaian materi selesai disampaikan, peserta kembali mengikuti post-test sebagai bentuk evaluasi akhir. Hasil post-test menunjukkan nilai rata-rata peserta meningkat menjadi 65,6.

Dengan demikian, terjadi peningkatan sebesar 26,7 poin jika dibandingkan dengan hasil pre-test. Peningkatan ini membuktikan bahwa edukasi tentang sediaan obat cair mampu menambah pemahaman peserta mengenai penggunaan obat yang tepat. Selain mengalami peningkatan nilai, peserta juga terlihat aktif selama sesi diskusi berlangsung. Mereka mengajukan berbagai pertanyaan yang berkaitan dengan penggunaan obat dalam kehidupan sehari-hari. Oleh sebab itu, proses pembelajaran berjalan lebih komunikatif, interaktif, dan efektif.

Harapan ke Depannya Setelah Edukasi

Dari kegiatan ini diharapkan para ibu dapat menerapkan ilmu yang didapat dalam kehidupan sehari-hari. Pengetahuan tentang obat cair yang benar diharapkan tidak hanya dipahami, tetapi juga dipraktikkan di rumah masing-masing. Para ibu memiliki peran penting dalam mengelola kesehatan keluarga, termasuk saat memberikan obat kepada anak atau anggota keluarga lain yang sakit.

Masyarakat juga diharapkan tidak lagi mengonsumsi obat hanya berdasarkan ajakan teman atau informasi dari media sosial. Penggunaan obat harus didasarkan pada pemahaman yang benar tentang penyakit dan aturan pakai. Para ibu diharapkan menjadi agen perubahan dengan menyebarkan informasi ini kepada keluarga dan tetangga. Dengan demikian, kesalahan penggunaan obat cair dapat diminimalkan secara luas di masyarakat.

[BACA JUGA: Mengungkap Dampak Duduk Berkepanjangan terhadap Keseimbangan Tubuh Mahasiswa]

Penulis: Muhammad Zahir Firmansyah

Editor: Vioretha (Tim Vokasi Branding)