Analisis Typical Dose Value pada Pemeriksaan CT Scan Urologi Non-Kontras sebagai Upaya Optimisasi Dosis Radiasi

VOKASI NEWS – Computed Tomography (CT) Scan merupakan salah satu modalitas pencitraan diagnostik yang banyak digunakan karena mampu menghasilkan citra anatomi secara detail dan akurat. Dibandingkan radiografi konvensional, CT Scan memiliki sensitivitas yang lebih tinggi dalam mendeteksi berbagai kelainan, termasuk batu saluran kemih. Salah satu pemeriksaan yang paling sering dilakukan adalah CT Scan urologi non-kontras, yang menjadi standar dalam evaluasi pasien dengan dugaan batu saluran kemih. Pemeriksaan ini menggunakan radiasi pengion dengan dosis yang relatif tinggi sehingga diperlukan upaya optimisasi untuk menjamin keselamatan pasien.

Pentingnya Optimisasi Dosis pada CT Scan Urologi

Pemeriksaan CT Scan urologi non-kontras dilakukan mulai dari daerah ginjal hingga simfisis pubis untuk memperlihatkan seluruh sistem saluran kemih. Area pemindaian tersebut juga melewati organ reproduksi yang memiliki tingkat radiosensitivitas tinggi. Kondisi ini menjadi perhatian penting karena sebagian pasien memerlukan pemeriksaan CT Scan berulang sebagai tindak lanjut perkembangan penyakit maupun evaluasi terapi. Oleh sebab itu, pengendalian dosis radiasi menjadi bagian penting dalam penerapan prinsip proteksi radiasi. Salah satu prinsip yang diterapkan adalah As Low As Reasonably Achievable (ALARA), yaitu memberikan dosis serendah mungkin tanpa mengurangi kualitas informasi diagnostik.

Indikator Evaluasi Dosis Radiasi: CTDIvol dan DLP

Evaluasi dosis radiasi pada CT Scan umumnya menggunakan dua indikator utama, yaitu Computed Tomography Dose Index Volume (CTDIvol) dan Dose Length Product (DLP). CTDIvol menggambarkan estimasi dosis radiasi rata-rata yang diterima pasien selama proses pemindaian. Sementara itu, DLP menunjukkan total dosis radiasi berdasarkan panjang daerah yang dipindai. Kedua parameter tersebut menjadi acuan dalam mengevaluasi apakah protokol pemeriksaan telah sesuai dengan standar keselamatan radiasi yang berlaku.

Sebagai pedoman optimisasi dosis di Indonesia, Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN) telah menetapkan Indonesian Diagnostic Reference Level (I-DRL). Untuk pemeriksaan CT Scan urologi non-kontras, nilai acuan I-DRL ditetapkan sebesar 17 mGy untuk CTDIvol dan 830 mGy.cm untuk DLP. Nilai ini bukan merupakan batas maksimum dosis yang diperbolehkan, melainkan acuan evaluasi. Apabila nilai dosis secara konsisten melebihi I-DRL, rumah sakit perlu melakukan peninjauan kembali terhadap protokol pemeriksaannya.

Metode Penelitian

Penelitian ini bertujuan menganalisis Typical Dose Value pada pemeriksaan CT Scan urologi non-kontras. Analisis dilakukan menggunakan data retrospektif sebanyak 290 pasien di Instalasi Radiologi Rumah Sakit Umum Pusat Persahabatan Jakarta Timur selama periode Januari–Desember 2025. Data diperoleh dari dua modalitas CT Scan 128-slice dengan memanfaatkan laporan dosis digital (DICOM Structured Report). Typical Dose Value dihitung menggunakan nilai median (Q2) sesuai pedoman BAPETEN sebagai representasi dosis yang paling umum diterima pasien pada suatu fasilitas pelayanan kesehatan.

Hasil Analisis Typical Dose Value

Hasil penelitian menunjukkan bahwa Typical Dose Value gabungan dari kedua modalitas adalah 11,31 mGy untuk CTDIvol dan 627,71 mGy.cm untuk DLP. Pada modalitas pertama diperoleh CTDIvol sebesar 8,78 mGy dengan DLP 479,61 mGy.cm. Sementara itu, pada modalitas kedua diperoleh CTDIvol sebesar 13,10 mGy dan DLP 729,09 mGy.cm. Seluruh nilai tersebut masih berada di bawah batas acuan I-DRL, sehingga menunjukkan bahwa protokol pemeriksaan yang diterapkan telah memenuhi prinsip optimisasi dosis radiasi.

Pengaruh Parameter Pemindaian terhadap Dosis Radiasi

Selain mengevaluasi nilai Typical Dose Value, penelitian ini juga menganalisis hubungan antara parameter pemindaian dengan besarnya dosis radiasi. Hasil analisis menunjukkan bahwa parameter arus tabung waktu (mAs) memiliki korelasi positif yang sangat kuat terhadap peningkatan CTDIvol dan DLP. Artinya, semakin besar arus tabung yang digunakan, semakin tinggi pula dosis radiasi yang diterima pasien.

Parameter tegangan tabung (kVp) dan scan length juga memiliki korelasi positif dengan dosis radiasi. Sebaliknya, parameter pitch menunjukkan korelasi negatif. Peningkatan nilai pitch cenderung menurunkan dosis radiasi karena meja pemeriksaan bergerak lebih cepat, sehingga paparan radiasi menjadi lebih rendah.

Perbedaan Dosis Berdasarkan Jenis Kelamin

Penelitian ini juga menemukan adanya perbedaan dosis radiasi berdasarkan jenis kelamin pada kelompok usia dewasa muda. Pasien laki-laki menerima dosis yang lebih tinggi dibandingkan perempuan. Perbedaan tersebut diduga berkaitan dengan variasi panjang daerah pemindaian (scan length). Pada beberapa kasus, batas bawah pemindaian laki-laki diperluas hingga mencakup testis, sedangkan pada perempuan umumnya hanya sampai simfisis pubis. Temuan ini menunjukkan pentingnya standardisasi batas anatomi pemindaian agar variasi dosis dapat diminimalkan tanpa mengurangi kualitas diagnostik.

Secara keseluruhan, penelitian ini membuktikan bahwa evaluasi Typical Dose Value merupakan salah satu metode yang efektif dalam memonitor penggunaan dosis radiasi pada pemeriksaan CT Scan. Informasi mengenai CTDIvol, DLP, serta hubungan parameter pemindaian terhadap dosis dapat digunakan sebagai dasar evaluasi protokol klinis dan pengembangan program optimisasi dosis di rumah sakit. Dengan penerapan evaluasi secara berkala, kualitas pelayanan radiologi dapat terus ditingkatkan. Dengan begitu, manfaat diagnostik tetap maksimal, sementara risiko paparan radiasi terhadap pasien dapat ditekan seminimal mungkin.

[BACA JUGA: Mengasah Kompetensi K3 melalui Evaluasi Jalur Forklift di Industri Keramik]

Penulis: Natasha Febrianti

Editor: Nadya Tika (Tim Branding Vokasi)