VOKASI NEWS – Kebisingan merupakan salah satu bahaya fisik yang paling sering dijumpai di lingkungan industri. Paparan suara mesin produksi dengan intensitas tinggi secara terus-menerus tidak hanya mengganggu konsentrasi dan komunikasi antarpekerja, tetapi juga dapat menyebabkan gangguan pendengaran permanen apabila tidak dikendalikan dengan baik. Oleh karena itu, penggunaan Alat Pelindung Telinga (APT) menjadi salah satu langkah sederhana namun sangat penting untuk melindungi kesehatan pekerja.
Kebisingan Menjadi Ancaman Serius di Tempat Kerja
Di berbagai sektor industri, pekerja setiap hari terpapar suara mesin, peralatan, maupun proses produksi yang menghasilkan tingkat kebisingan tinggi. Apabila paparan tersebut berlangsung dalam waktu lama tanpa perlindungan yang memadai, risiko terjadinya Noise-Induced Hearing Loss (NIHL) atau gangguan pendengaran akibat kebisingan akan semakin meningkat.
Penggunaan pelindung telinga, seperti earplug maupun earmuff, menjadi bagian penting dari upaya pengendalian risiko ketika kebisingan di lingkungan kerja belum dapat dikurangi melalui pengendalian teknis maupun administratif.
Pendekatan Perilaku Mendorong Kepatuhan Penggunaan APT
Menyediakan pelindung telinga saja belum cukup untuk melindungi pekerja. Kepatuhan dalam menggunakan APT dipengaruhi oleh perilaku pekerja yang dibentuk melalui berbagai faktor.
Salah satu pendekatan yang banyak digunakan adalah teori Activator-Behavior-Consequence (ABC). Teori ini menjelaskan bahwa perilaku seseorang dipengaruhi oleh tiga komponen utama, yaitu Activator sebagai faktor pemicu, Behavior sebagai tindakan yang dilakukan, dan Consequence sebagai konsekuensi yang diterima setelah perilaku tersebut dilakukan.
Dalam penerapannya di tempat kerja, pengetahuan, pelatihan, dan pengawasan menjadi faktor yang mendorong pekerja menggunakan pelindung telinga secara konsisten. Sementara itu, pemberian penghargaan maupun penerapan sanksi berfungsi memperkuat perilaku aman agar terus dipertahankan.
Kepatuhan Dipengaruhi Faktor Internal dan Eksternal
Hasil kajian pada area produksi PT X menunjukkan bahwa kesadaran pekerja terhadap penggunaan APT telah mengalami perkembangan yang positif. Sebagian besar pekerja telah disiplin menggunakan pelindung telinga selama bekerja.
Meski demikian, konsistensi penggunaan APT sepanjang jam kerja masih perlu terus ditingkatkan agar perlindungan terhadap gangguan pendengaran dapat berlangsung secara optimal.
Kepatuhan tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkaitan. Faktor internal meliputi usia, tingkat pendidikan, dan masa kerja yang membentuk persepsi pekerja terhadap risiko kebisingan. Sementara itu, faktor eksternal mencakup pengetahuan mengenai K3, pelatihan yang berkelanjutan, efektivitas pengawasan, serta penerapan positive reinforcement dan punishment secara konsisten.
Budaya Keselamatan Dibangun dari Kebiasaan Sehari-hari
Budaya keselamatan kerja tidak terbentuk secara instan, tetapi melalui kebiasaan yang dilakukan secara konsisten oleh seluruh pekerja maupun manajemen perusahaan.
Pelatihan yang rutin, pengawasan yang berkesinambungan, serta pemberian apresiasi kepada pekerja yang patuh menggunakan APT dapat meningkatkan motivasi untuk bekerja dengan aman. Di sisi lain, perusahaan juga perlu menerapkan aturan yang tegas terhadap setiap pelanggaran. Langkah tersebut membantu membangun budaya kepatuhan yang melekat dalam aktivitas kerja sehari-hari.
Melalui pendekatan perilaku berbasis teori ABC, perusahaan dapat meningkatkan kepatuhan penggunaan pelindung telinga sekaligus menekan risiko gangguan pendengaran akibat kebisingan. Upaya tersebut tidak hanya menjaga kesehatan pekerja, tetapi juga mendukung peningkatan produktivitas serta memperkuat implementasi budaya Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) yang berkelanjutan.
[BACA JUGA: Mahasiswa Teknologi Radiologi Pencitraan UNAIR Teliti Pemanfaatan AI untuk Meningkatkan Kualitas Citra MRI]
Penulis: Ika Amanda Windiadanah
Pembimbing: Fadilatus Sukma Ika Noviarmi, S.KM., M.KL
Editor: Inviana (Tim Vokasi Branding)



