VOKASI NEWS – Pengemudi truk memiliki peran penting dalam menjaga kelancaran distribusi barang di Indonesia. Aktivitas mengemudi yang dilakukan dalam durasi panjang menuntut konsentrasi tinggi serta membuat pengemudi terpapar berbagai faktor risiko keselamatan dan kesehatan kerja.
Salah satu masalah kesehatan yang sering dialami adalah Musculoskeletal Disorders (MSDs), yaitu gangguan pada otot, tendon, ligamen, sendi, dan saraf yang dapat mengganggu produktivitas maupun keselamatan saat berkendara.
Usia, Masa Kerja, dan Kelelahan Berhubungan dengan Keluhan MSDs
Penelitian pada pengemudi truk PT X bertujuan menganalisis hubungan usia, masa kerja, dan kelelahan kerja dengan keluhan MSDs. Penelitian menggunakan desain cross-sectional dengan pengumpulan data pada satu waktu. Tingkat kelelahan kerja diukur menggunakan kuesioner Industrial Fatigue Research Committee (IFRC), sedangkan keluhan MSDs diidentifikasi menggunakan kuesioner Gangguan Otot Rangka (GOTRAK).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden berada pada kelompok usia produktif, yaitu 26–45 tahun. Mayoritas responden juga memiliki masa kerja lebih dari sepuluh tahun. Selain itu, lebih dari separuh responden mengalami kelelahan kerja dalam kategori tinggi. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pengemudi terpapar faktor risiko ergonomi dalam jangka waktu yang panjang.
Analisis statistik menunjukkan bahwa usia memiliki hubungan dengan keluhan MSDs pada beberapa bagian tubuh. Masa kerja juga berhubungan dengan meningkatnya keluhan muskuloskeletal. Sementara itu, kelelahan kerja berhubungan dengan keluhan pada leher, bahu, dan punggung. Temuan tersebut menunjukkan bahwa semakin bertambah usia, semakin lama masa kerja, dan semakin tinggi tingkat kelelahan kerja, maka semakin besar pula risiko terjadinya gangguan muskuloskeletal.
Keluhan MSDs Dapat Mengganggu Keselamatan Berkendara
Keluhan MSDs tidak hanya menimbulkan rasa nyeri dan tidak nyaman, tetapi juga dapat menurunkan konsentrasi serta performa pengemudi saat bekerja. Gangguan pada leher, bahu, maupun punggung berpotensi membatasi pergerakan tubuh sehingga respons pengemudi terhadap situasi lalu lintas menjadi kurang optimal. Apabila kondisi tersebut terus berlanjut, risiko kecelakaan kerja maupun kecelakaan lalu lintas dapat meningkat.
Karena itu, pengendalian faktor risiko ergonomi perlu menjadi bagian dari program Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di perusahaan transportasi. Pencegahan sejak dini dinilai lebih efektif dibandingkan penanganan ketika gangguan telah berkembang menjadi kondisi kronis.
Ergonomi dan Manajemen Kelelahan Perlu Diperkuat
Perusahaan dapat menerapkan berbagai upaya untuk mengurangi risiko MSDs pada pengemudi. Pengaturan jadwal kerja dan waktu istirahat perlu disesuaikan dengan beban kerja agar tubuh memiliki waktu yang cukup untuk pemulihan. Program peregangan sebelum dan sesudah bekerja juga dapat membantu mengurangi ketegangan otot akibat posisi duduk dalam waktu lama.
Selain itu, evaluasi terhadap desain kursi dan kabin kendaraan perlu dilakukan agar lebih ergonomis. Fasilitas kerja yang sesuai dapat mengurangi tekanan pada otot dan tulang belakang selama perjalanan. Pemeriksaan kesehatan secara berkala juga penting dilakukan untuk mendeteksi gangguan muskuloskeletal sejak dini sehingga penanganan dapat dilakukan lebih cepat.
Mewujudkan Transportasi yang Aman dan Produktif
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesehatan pengemudi merupakan faktor penting dalam mendukung keselamatan dan kelancaran operasional perusahaan transportasi. Pengendalian faktor risiko ergonomi, penerapan manajemen kelelahan, serta penyediaan fasilitas kerja yang ergonomis dapat membantu menurunkan keluhan MSDs sekaligus meningkatkan produktivitas kerja.
Penerapan program K3 secara berkelanjutan menjadi langkah penting untuk melindungi kesehatan pengemudi sekaligus mewujudkan sistem transportasi yang lebih aman, sehat, dan produktif.
[BACA JUGA: Pelindung Telinga Bukan Sekadar Formalitas, tetapi Investasi Keselamatan dan Kesehatan Pekerja]
Penulis: Sayudimas Ardiansyah Febrianto
Editor: Inviana (Tim Vokasi branding)



