VOKASI NEWS – Cedera pergelangan kaki (ankle sprain) masih menjadi salah satu cedera muskuloskeletal yang paling sering dijumpai. Kasus ini terutama sering terjadi pada atlet maupun individu yang aktif beraktivitas fisik. Cedera ini umumnya terjadi akibat gerakan plantar fleksi. Gerakan tersebut disertai dengan inversi secara tiba-tiba. Hal ini memberikan tekanan berlebih pada kompleks ligamen lateral pergelangan kaki. Kondisi tersebut tidak hanya menyebabkan nyeri dan penurunan fungsi gerak. Dampak lainnya juga dapat meningkatkan risiko cedera berulang jika tidak didiagnosis secara tepat
Salah satu struktur yang berperan penting dalam menjaga stabilitas lateral pergelangan kaki adalah Calcaneofibular Ligament (CFL). Ligamen ini bekerja mempertahankan stabilitas saat terjadi gerakan inversi maupun perubahan arah secara cepat. Oleh karena itu, visualisasi CFL yang jelas menjadi bagian penting dalam proses diagnosis cedera ligamen menggunakan pemeriksaan pencitraan.
Ultrasonografi Menjadi Alternatif Pemeriksaan
Selama ini, Magnetic Resonance Imaging (MRI) dikenal sebagai standar pemeriksaan jaringan lunak. Namun, penggunaan MRI masih memiliki beberapa keterbatasan. Keterbatasan tersebut seperti biaya pemeriksaan yang relatif tinggi. Faktor lainnya adalah waktu pemeriksaan cukup lama dan belum tersedia secara merata di berbagai fasilitas kesehatan.
Sebagai alternatif, ultrasonografi (USG) muskuloskeletal semakin banyak dimanfaatkan. Modalitas ini mampu menghasilkan gambaran secara real-time. USG juga tidak menggunakan radiasi pengion serta bersifat non-invasif. Kelebihan lain adalah memungkinkan evaluasi dinamis sesuai posisi sendi yang diperiksa. Berbagai keunggulan tersebut menjadikan USG sebagai salah satu modalitas yang efektif dalam mengevaluasi cedera ligamen pergelangan kaki.
Positioning Menentukan Kualitas Visualisasi
Kualitas citra USG tidak hanya dipengaruhi oleh spesifikasi alat. Faktor lain juga oleh teknik pemeriksaan dan posisi pergelangan kaki selama proses scanning. Perubahan positioning ankle dapat mengubah orientasi serabut ligamen terhadap arah datang gelombang ultrasonik sehingga memunculkan artefak anisotropi. Artefak ini menyebabkan ligamen tampak lebih gelap atau batasnya kurang jelas meskipun struktur ligamen sebenarnya normal. Akibatnya, interpretasi hasil pemeriksaan dapat menjadi kurang akurat apabila artefak tidak dikenali dengan baik.
Selain memengaruhi munculnya artefak anisotropi, variasi posisi ankle juga dapat mengubah tingkat ketegangan ligamen calcaneofibular. Ligamen yang berada dalam kondisi lebih tegang umumnya menghasilkan batas anatomi yang lebih jelas dibandingkan ketika berada dalam kondisi relaks. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pemilihan posisi ankle menjadi faktor penting. Pemilihan posisi berfungsi dalam memperoleh kualitas visualisasi ligamen yang optimal selama pemeriksaan.
Mendukung Standarisasi Pemeriksaan USG
Kajian mengenai pengaruh variasi positioning ankle terhadap kualitas visualisasi ligamen CFL terus berkembang. Informasi mengenai posisi ankle terbaik diharapkan dapat memberikan kontribusi. Informasi ini menjadi dasar pengembangan protokol pemeriksaan ultrasonografi muskuloskeletal yang objektif.
Standarisasi posisi pemeriksaan diharapkan tidak hanya membantu radiografer. Prosedur ini membantu memperoleh citra yang lebih optimal. Standarisasi juga berkontribusi dalam mengurangi kesalahan interpretasi akibat artefak anisotropi. Dengan demikian, kualitas pemeriksaan dapat meningkat. Proses penegakan diagnosis cedera ligamen pergelangan kaki juga menjadi lebih akurat
[BACA JUGA: Menyewakan Properti? Kenali Kewajiban Pajaknya]
Penulis: Ica Afif Asyifa Putri
Pembimbing: Rosy Setiawati dan Fira Khadijah
Editor: Nawal Eka Paramita (Tim Vokasi Branding)



