VOKASI NEWS – Pernahkah Anda membayangkan apa yang harus dilakukan ketika seseorang di dekat Anda mengalami luka bakar? Sayangnya, masih banyak masyarakat yang keliru dalam memberikan pertolongan pertama. Beberapa orang bahkan mengoleskan pasta gigi, mentega, hingga kecap pada area luka. Padahal, tindakan tersebut justru berisiko memperparah kondisi korban.
Penanganan pertama yang tepat dapat menjadi penentu antara pemulihan cepat dan komplikasi serius. Berangkat dari kondisi tersebut, sekelompok mahasiswa D3 Keperawatan menggelar penyuluhan pertolongan pertama pada luka bakar. Kegiatan ini ditujukan bagi anggota Karang Taruna (Kartar) di Perumahan Cerme Indah, Kelurahan Betiting, Kabupaten Gresik. Penyuluhan tersebut menjadi salah satu langkah nyata dalam mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) Tujuan ke-3, yaitu Kehidupan Sehat dan Sejahtera.
Kegiatan Penyuluhan Berlangsung Interaktif
Bertempat di ruang terbuka lingkungan RW 4, kegiatan ini dihadiri puluhan anggota Karang Taruna dari berbagai usia. Suasana penyuluhan berlangsung santai, tetapi tetap fokus. Para pemateri menyampaikan materi secara bergantian menggunakan media edukasi visual berupa leaflet informatif.
Antusiasme peserta terlihat dari banyaknya pertanyaan yang diajukan selama kegiatan. Pertanyaan tersebut berkaitan dengan pengalaman pribadi mereka ketika menangani luka bakar ringan di rumah. Diskusi dua arah membuat materi lebih mudah dipahami dan relevan dengan kondisi sehari-hari peserta.
Memahami Pertolongan Pertama pada Luka Bakar
Salah satu fokus utama penyuluhan adalah meluruskan mitos yang masih beredar di masyarakat. Peserta diajak memahami perbedaan antara kebiasaan turun-temurun yang keliru dan langkah pertolongan pertama sesuai standar medis. Luka bakar perlu didinginkan menggunakan air mengalir bersuhu ruangan, bukan air es atau es batu secara langsung.
Perhiasan atau pakaian ketat di sekitar area luka juga perlu dilepas sebelum terjadi pembengkakan. Selanjutnya, luka dapat ditutup menggunakan kain bersih, bukan kapas atau bahan yang mudah menempel. Penggunaan bahan rumah tangga, seperti pasta gigi, mentega, atau kecap, perlu dihindari karena berisiko menyebabkan infeksi.
Selain memahami langkah pertolongan pertama, peserta dibekali pengetahuan mengenai derajat keparahan luka bakar. Mereka juga mempelajari kondisi yang mengharuskan korban segera dibawa ke fasilitas kesehatan terdekat.
Karang Taruna sebagai Garda Terdepan Kesehatan Komunitas
Pemilihan Karang Taruna sebagai sasaran penyuluhan bukan tanpa alasan. Sebagai organisasi kepemudaan yang aktif di tingkat RW, anggotanya memiliki peran strategis sebagai penghubung informasi kesehatan. Informasi tersebut dapat disampaikan kembali kepada keluarga maupun tetangga di lingkungan sekitar.
Dengan bekal pengetahuan yang memadai, anggota Karang Taruna diharapkan mampu memberikan pertolongan pertama secara cepat dan tepat. Mereka juga dapat menjadi agen penyebar informasi kesehatan yang akurat di tengah berbagai mitos yang masih beredar.
Kegiatan ini sejalan dengan semangat SDGs 3 yang menekankan pentingnya upaya preventif dan promotif berbasis masyarakat. Upaya kesehatan tidak hanya bergantung pada layanan kuratif di fasilitas kesehatan. Edukasi semacam ini menunjukkan bahwa pencapaian target kesehatan global dapat dimulai melalui langkah kolaboratif sederhana di tingkat akar rumput.
Melalui penyuluhan ini, anggota Karang Taruna Perumahan Cerme Indah memiliki bekal pengetahuan untuk menghadapi situasi darurat di lingkungan sekitar. Kegiatan tersebut juga menunjukkan bahwa perubahan menuju masyarakat yang lebih sehat dapat dimulai dari edukasi sederhana yang tepat sasaran. Selain itu, kegiatan ini menjadi wujud peran generasi muda dalam mendukung terciptanya masyarakat yang lebih sehat dan tangguh.
[BACA JUGA: Resiliensi Warga Desa Tiwet Pasca Bencana Banjir Berulang]
***
Penulis: Maudy Sugianingrum
Editor: Cheiza Xaviera (Tim Branding Vokasi)



