VOKASI NEWS – Antibiotik merupakan obat yang digunakan untuk mengobati infeksi bakteri. Penemuan antibiotik telah menyelamatkan jutaan nyawa di seluruh dunia. Namun, penggunaan antibiotik yang tidak tepat, seperti membeli antibiotik tanpa resep, tidak menghabiskan obat sesuai anjuran, atau menggunakannya saat tidak diperlukan, dapat menyebabkan bakteri menjadi kebal terhadap antibiotik. Kondisi tersebut dikenal sebagai resistensi antimikroba (Antimicrobial Resistance/AMR).
Menurut World Health Organization (WHO), AMR menjadi salah satu ancaman kesehatan terbesar di dunia. Jika bakteri sudah kebal terhadap antibiotik, infeksi akan semakin sulit diobati. Akibatnya, waktu perawatan menjadi lebih lama, biaya pengobatan meningkat, serta risiko komplikasi hingga kematian juga bertambah (World Health Organization, 2023).
Apa Itu MRSA?
Salah satu bakteri yang menjadi perhatian akibat resistensi antibiotik adalah Methicillin-Resistant Staphylococcus aureus (MRSA). Pada dasarnya, Staphylococcus aureus merupakan bakteri yang hidup secara normal di kulit dan rongga hidung manusia. Namun, ketika bakteri masuk ke dalam tubuh melalui luka atau saat daya tahan tubuh menurun, infeksi dapat terjadi.
MRSA merupakan jenis Staphylococcus aureus yang telah kebal terhadap antibiotik golongan β-laktam. Kekebalan tersebut terjadi karena adanya gen mecA yang menghasilkan protein PBP2a. Akibatnya, antibiotik tidak lagi mampu menghambat pembentukan dinding sel bakteri. Oleh karena itu, infeksi MRSA lebih sulit diobati dibandingkan infeksi Staphylococcus aureus biasa.
Peran Cefoxitin dalam Deteksi MRSA
Salah satu cara mendeteksi MRSA adalah menggunakan uji difusi cakram (disk diffusion) dengan cakram cefoxitin 30 µg. Metode ini direkomendasikan oleh Clinical and Laboratory Standards Institute (CLSI) karena memiliki kemampuan yang baik dalam mendeteksi bakteri yang membawa gen mecA.
Pada pemeriksaan tersebut, bakteri ditanam pada media Mueller Hinton Agar. Selanjutnya, cakram cefoxitin diletakkan di atas media. Setelah proses inkubasi, akan terbentuk daerah bening di sekitar cakram yang disebut zona hambat. Diameter zona hambat kemudian diukur dan dibandingkan dengan standar CLSI untuk menentukan apakah bakteri tergolong sensitif atau resisten. Selain akurat, metode ini juga sederhana, relatif murah, mudah dilakukan, serta tidak memerlukan peralatan laboratorium yang rumit.
Mengapa D-Test Perlu Dilakukan?
Beberapa bakteri MRSA juga kebal terhadap antibiotik golongan makrolida, seperti erythromycin. Dalam beberapa kasus, hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa bakteri masih sensitif terhadap clindamycin. Namun, sebenarnya bakteri memiliki resistensi yang dapat muncul selama pengobatan berlangsung. Kondisi tersebut dikenal sebagai Inducible Macrolide-Lincosamide-Streptogramin B (iMLSB).
Untuk mendeteksi kondisi tersebut, dilakukan D-test. Pemeriksaan ini menggunakan cakram erythromycin dan clindamycin yang diletakkan berdekatan pada media Mueller Hinton Agar. Selanjutnya, bentuk zona hambat yang terbentuk akan menunjukkan apakah clindamycin masih aman digunakan sebagai terapi. Dengan demikian, pemeriksaan ini dapat membantu mencegah kegagalan pengobatan akibat resistensi yang sebelumnya tidak terdeteksi.
Peran Laboratorium Klinik
Laboratorium klinik memiliki peran penting dalam penanganan infeksi bakteri. Selain membantu menegakkan diagnosis, laboratorium juga melakukan uji kepekaan antibiotik untuk mengetahui obat yang paling efektif terhadap bakteri penyebab infeksi.
Hasil pemeriksaan tersebut menjadi dasar bagi dokter dalam menentukan terapi antibiotik yang tepat. Selain itu, data pola resistensi bakteri dimanfaatkan untuk mendukung program Antimicrobial Stewardship. Program ini bertujuan mendorong penggunaan antibiotik secara bijak dan rasional sehingga resistensi antibiotik dapat ditekan.
Pada akhirnya, pemeriksaan mikrobiologi yang akurat serta pemantauan resistensi secara berkala menjadi bagian penting dalam menjaga efektivitas antibiotik. Dengan demikian, laboratorium klinik turut berperan dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan.
[BACA JUGA: Pertolongan Pertama pada Luka Bakar: Edukasi Preventif Berbasis Komunitas]
Penulis: Ladya Farras Zhafira
Editor: Sinta Rahmah (Tim Vokasi Branding)



