Postur Kerja dan Pencahayaan Tidak Memadai Picu Keluhan Muskuloskeletal Disorders (MSDs) bagi Pekerja Administratif

VOKASI NEWS – Pekerjaan administratif menjadi salah satu aktivitas yang banyak dilakukan di lingkungan perkantoran. Pekerjaan ini meliputi penyusunan laporan, pengolahan data, pengarsipan dokumen, serta berbagai tugas administrasi lainnya. Sebagian besar aktivitas tersebut dilakukan menggunakan komputer. Selain itu, pekerjaan administratif umumnya dikerjakan dalam posisi duduk dan berlangsung dalam waktu yang lama. Akibatnya, pekerja berisiko mengalami gangguan kesehatan, salah satunya Musculoskeletal Disorders (MSDs).

MSDs merupakan gangguan pada sistem muskuloskeletal yang meliputi otot, sendi, tendon, ligamen, saraf, dan tulang belakang. Keluhan yang muncul dapat berupa pegal, kaku, rasa tidak nyaman, hingga nyeri. Kondisi tersebut tidak hanya mengganggu aktivitas sehari-hari, tetapi juga dapat menurunkan produktivitas kerja.

Postur Kerja Menjadi Faktor Risiko

Salah satu penyebab utama keluhan MSDs adalah postur kerja yang tidak ergonomis. Kondisi ini sering dipengaruhi oleh fasilitas kerja yang belum memadai. Misalnya, kursi tidak dapat disesuaikan dengan tinggi badan pengguna atau posisi monitor terlalu rendah. Selain itu, rendahnya kesadaran pekerja dalam memanfaatkan fasilitas yang tersedia juga dapat menyebabkan postur kerja menjadi kurang ergonomis.

Beberapa contoh postur yang berisiko meliputi punggung membungkuk, leher terlalu condong ke depan, bahu terangkat, siku tidak membentuk sudut yang nyaman, serta pergelangan tangan yang tidak berada pada posisi netral saat menggunakan komputer. Apabila kebiasaan tersebut dilakukan secara terus-menerus, beban pada otot dan jaringan penyangga tubuh akan meningkat. Akibatnya, keluhan dapat muncul pada leher, bahu, punggung bawah, pinggang, hingga pergelangan tangan.

Pencahayaan Turut Memengaruhi Kenyamanan Kerja

Selain postur kerja, pencahayaan juga memengaruhi kenyamanan dan kesehatan pekerja. Pencahayaan yang baik membantu pekerja melihat objek dengan lebih jelas. Sebaliknya, pencahayaan yang kurang memadai dapat disebabkan oleh jenis lampu, jumlah lampu, distribusi cahaya yang tidak merata, tata letak ruangan, maupun kurang optimalnya pemanfaatan cahaya alami.

Ketika pencahayaan terlalu rendah, mata akan bekerja lebih keras. Oleh karena itu, pekerja sering mengubah posisi tubuh tanpa disadari. Misalnya, pekerja membungkukkan badan, memajukan kepala, atau mendekatkan wajah ke layar komputer maupun dokumen. Jika kondisi tersebut berlangsung dalam waktu lama, beban statis pada otot leher, bahu, dan punggung akan meningkat. Pada akhirnya, kondisi tersebut dapat memicu keluhan MSDs.

Upaya Mencegah Keluhan MSDs

Beberapa langkah dapat dilakukan untuk mengurangi risiko keluhan MSDs pada pekerja administratif. Pertama, gunakan kursi kerja ergonomis yang dapat disesuaikan dengan tinggi badan dan memiliki sandaran punggung yang baik. Selanjutnya, optimalkan pencahayaan alami atau tambahkan task lighting pada area kerja. Selain itu, pekerja juga perlu mengikuti sosialisasi ergonomi agar memahami posisi kerja yang aman dan nyaman.

Peregangan secara berkala juga penting dilakukan untuk mengurangi ketegangan otot. Di sisi lain, pekerja dapat menerapkan aturan 20–20–20. Aturan ini dilakukan dengan mengalihkan pandangan ke objek berjarak sekitar 20 kaki atau ±6 meter selama 20 detik setelah menatap layar selama 20 menit. Dengan demikian, kelelahan mata dapat dikurangi.

Penerapan prinsip ergonomi dan pengelolaan lingkungan kerja yang baik tidak hanya membantu menurunkan risiko MSDs. Lebih dari itu, langkah tersebut juga dapat meningkatkan kenyamanan, kesehatan, serta produktivitas pekerja administratif dalam jangka panjang.

[BACA JUGA: Seru dan Edukatif, Mahasiswa D3 Keperawatan UNAIR Kenalkan Perawatan Luka dalam Bahasa Inggris kepada Anak-anak]

Penulis: Rahma Meidiana

Pembimbing: Neffrety Nilamsari

Editor: Sinta Rahmah