VOKASI NEWS – Peningkatan kasus resistensi antibiotik menjadi tantangan serius dalam penanganan penyakit infeksi di berbagai negara. Staphylococcus aureus termasuk bakteri patogen yang sering menyebabkan infeksi kulit, jaringan lunak, saluran pernapasan, hingga infeksi sistemik. Kondisi tersebut mendorong pencarian sumber antibakteri alami yang berpotensi mendukung pengembangan terapi pendamping. Propolis merupakan salah satu produk lebah yang diketahui mengandung berbagai senyawa bioaktif, terutama golongan fenolik dan flavonoid, yang berperan sebagai antioksidan sekaligus antibakteri.
Pengujian dilakukan terhadap ekstrak propolis Trigona sp. dan Apis mellifera yang berasal dari Lawang, Kabupaten Malang. Ekstraksi menggunakan metode maserasi dengan pelarut etanol 70%, kemudian dilanjutkan pengukuran kadar total fenolik, total flavonoid, serta aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus aureus. Penetapan total fenolik dilakukan menggunakan metode Folin-Ciocalteu, sedangkan total flavonoid dianalisis dengan metode aluminium klorida. Aktivitas antibakteri diamati menggunakan metode difusi sumur pada berbagai konsentrasi ekstrak.
Perbandingan Kandungan Senyawa Bioaktif dan Aktivitas Antibakteri Ekstrak Propolis
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak propolis Trigona sp. memiliki kandungan total fenolik sebesar 92,10 ± 0,00 mg GAE/g, sedangkan Apis mellifera sebesar 18,08 ± 0,00 mg GAE/g. Kandungan total flavonoid juga lebih tinggi pada Trigona sp., yaitu 13,03 ± 0,00 mg QE/g, dibandingkan Apis mellifera sebesar 5,52 ± 0,00 mg QE/g.
Pengujian antibakteri memperlihatkan bahwa peningkatan konsentrasi ekstrak menghasilkan diameter zona hambat yang semakin besar. Zona hambat tertinggi diperoleh pada ekstrak Trigona sp. konsentrasi 100% sebesar 9,25 ± 0,29 mm, sedangkan Apis mellifera sebesar 3,88 ± 0,25 mm. Hasil uji beda Mann-Whitney didapatkan adanya perbedaan signifikan pada sebagian konsentrasi ekstrak propolis Trigona sp. dan Apis mellifera yang menunjukkan adanya aktivitas antibakteri.
Mekanisme Senyawa Fenolik dan Flavonoid dalam Menghambat Pertumbuhan Bakteri
Perbedaan aktivitas antibakteri diduga berkaitan dengan tingginya kandungan senyawa fenolik dan flavonoid pada propolis Trigona sp. Senyawa fenolik diketahui mampu merusak membran sel bakteri, menghambat aktivitas enzim, serta mengganggu proses metabolisme mikroorganisme. Flavonoid juga berperan dalam meningkatkan permeabilitas membran sel sehingga pertumbuhan bakteri dapat terhambat. Penelitian lanjutan masih diperlukan untuk mengidentifikasi senyawa aktif secara lebih spesifik. Selain itu, pengujian efektivitas terhadap bakteri patogen lainnya serta penambahan uji metode dilusi untuk antibakteri juga perlu dilakukan.
[BACA JUGA: Mengulik Potensi Air Rebusan Kacang Tanah sebagai Media Alternatif Staphylococcus aureus]
Penulis: Emirensiana Purnama Hanggung
Pembimbing: Ni Nyoman Purwani dan Ratna Wahyuni
Editor: Vioretha (Tim Branding Vokasi)



