Prosedur Audit dalam Aset Tetap untuk Meminimalisir Risiko Salah Saji

VOKASI NEWS – Aset tetap adalah salah satu akun yang memiliki nilai materialitas pada perusahaan. Pernyataan Standar Akuntansi Keungan (PSAK) 216 paragraf 06 menjelaskan bahwa aset tetap adalah aset berwujud yang dimiliki perusahaan untuk digunakan dalam operasional dan tidak untuk dijual. Selain itu, aset tetap diperkirakan bisa digunakan dalam jangka waktu lebih dari satu periode. Contoh aset tetap adalah tanah, bangunan, kendaraan, mesin, dan peralatan kantor.

Pengakuan aset tetap sebagaimana termuat dalam PSAK 216, yaitu diakui jika dan hanya jika memiliki manfaat ekonomis bagi perusahaan dan diukur berdasarkan harga perolehannya dikurangi diskon dan potongan lainnya. Selama masa manfaat yang ditetapkan oleh manajemen, aset tetap akan mengalami penyusutan yang harus diakui.

Prosedur Audit atas Aset Tetap

Aset tetap memiliki nilai material sehingga berpotensi mengalami risiko salah saji yang cukup tinggi. Pada praktiknya, risiko salah saji yang sering ditemui adalah kesalahan pengakuan harga perolehan aset, kesalahan perhitungan beban penyusutan, dan aset yang telah dijual masih tercatat dalam laporan keuangan. Oleh karena itu, diperlukan pengawasan untuk memastikan bahwa aset telah disajikan secara wajar. Salah satu bentuk pengawasan tersebut dilakukan melalui proses audit.

Agoes & Trisnawati (2019) menjelaskan bahwa tahapan prosedur audit dimulai dengan perencanaan dan pendekatan audit, pengujian atas pengendalian, analytical procedures, serta penyelesaian audit. Prosedur audit aset tetap akan ditentukan auditor setelah melakukan pendekatan pada perusahaan sehingga setiap auditor dapat memiliki prosedur yang berbeda.

Tahapan Pengujian Aset Tetap

Prosedur pengujian aset tetap pada umumnya mencakup vouching dan tracing atas penambahan maupun pengurangan aset tetap pada periode audit. Langkah ini dilakukan untuk membuktikan keberadaan suatu aset. Selain itu, auditor juga melakukan aset opname atau observasi fisik terhadap aset tetap guna memastikan aset benar-benar ada secara fisik. Jika perusahaan memiliki jumlah aset tetap yang banyak, auditor dapat melakukan sampling dalam proses pemeriksaan.

Pengujian lainnya dilakukan melalui tes perhitungan aset tetap, mulai dari harga perolehan, pengakuan masa manfaat, beban penyusutan, hingga nilai wajar aset tetap. Ketika ditemukan salah saji setelah proses perhitungan, auditor akan melakukan Proposed Audit Adjustment Journal Entry (PAJE) kepada pihak manajemen. Usulan tersebut dapat diterima ataupun ditolak oleh perusahaan. Jika diterima, perusahaan dapat mengadopsinya pada tahun audit berjalan maupun tahun berikutnya.

Pentingnya Audit dalam Penyajian Laporan Keuangan

Aset tetap yang disajikan terlalu tinggi (overstatement) atau terlalu rendah (understatement) akan berpengaruh terhadap neraca, laporan laba rugi, dan arus kas perusahaan. Pada dasarnya, prosedur audit atas aset tetap merupakan langkah penting untuk menilai kewajaran penyajian aset tetap perusahaan. Dengan demikian, prosedur audit dapat membantu mengurangi risiko salah saji serta mendukung terciptanya laporan keuangan yang transparan dan dapat dipercaya oleh pengguna laporan keuangan.

[BACA JUGA: Praktik Kerja Mahasiswa TLM di RS Hermina Podomoro: Mengasah Kompetensi dan Budaya Kerja Profesional]

Penulis : Haslinda Noor Lailatul Janah

Pembimbing : Izmi Dwira Eriani S.A., M.A.

Editor: Sinta Rahmah (Tim Vokasi Branding)