Psychosocial Safety Climate: Kunci Membangun Perilaku Kerja Aman di Industri

VOKASI NEWS – Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) sering dikaitkan dengan penggunaan alat pelindung diri (APD), prosedur kerja, dan pengendalian bahaya fisik. Namun, keselamatan kerja tidak hanya bergantung pada perlengkapan atau aturan. Kondisi psikososial di lingkungan kerja juga berperan penting dalam menjaga keselamatan dan kesehatan pekerja. Lingkungan yang mendorong komunikasi terbuka, keterlibatan pekerja, dan komitmen manajemen terhadap keselamatan akan membantu menciptakan perilaku kerja yang lebih aman.

Konsep tersebut dikenal sebagai Psychosocial Safety Climate (PSC). PSC merupakan persepsi pekerja terhadap kebijakan, praktik, dan prosedur organisasi dalam melindungi kesehatan psikologis. Penerapan PSC yang baik tidak hanya mendukung kesejahteraan mental pekerja. Konsep ini juga memperkuat budaya keselamatan sehingga perilaku kerja aman dapat terbentuk secara berkelanjutan.

Empat Pilar Psychosocial Safety Climate

Psychosocial Safety Climate dibangun melalui empat dimensi utama, yaitu komitmen manajemen, prioritas manajemen terhadap keselamatan, komunikasi organisasi, dan partisipasi organisasi. Keempat aspek tersebut saling melengkapi dalam menciptakan lingkungan kerja yang aman dan sehat.

Komitmen manajemen menunjukkan bahwa keselamatan menjadi prioritas dalam setiap aktivitas operasional perusahaan. Prioritas tersebut memastikan target produksi maupun penyelesaian pekerjaan tidak mengesampingkan aspek keselamatan kerja. Sementara itu, komunikasi organisasi dan partisipasi pekerja memberikan ruang bagi seluruh pekerja untuk menyampaikan potensi bahaya, memberikan masukan, serta terlibat dalam penyelesaian berbagai persoalan keselamatan.

Lingkungan kerja yang mendukung komunikasi dan partisipasi akan meningkatkan kepercayaan pekerja terhadap organisasi. Kondisi tersebut mendorong pekerja lebih patuh terhadap prosedur keselamatan sekaligus lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan saat bekerja.

Tantangan pada Pekerjaan Maintenance

Pekerjaan maintenance merupakan salah satu aktivitas yang memiliki tingkat risiko tinggi karena melibatkan mesin, energi listrik, peralatan mekanik, serta berbagai pekerjaan perbaikan dan pemeliharaan aset perusahaan. Selain menghadapi risiko fisik, pekerja maintenance juga dituntut menyelesaikan pekerjaan secara tepat waktu agar tidak mengganggu proses operasional perusahaan.

Hasil observasi pada Unit Mekanik PT X menunjukkan bahwa komunikasi antara pekerja dan Team Leader telah berjalan dengan baik. Pekerja diberikan kesempatan untuk menyampaikan potensi bahaya maupun berbagai temuan di lapangan sebelum pekerjaan dimulai. Selanjutnya, setiap temuan didiskusikan bersama untuk menentukan langkah pengendalian yang paling tepat. Praktik tersebut mencerminkan penerapan dimensi komunikasi organisasi dan partisipasi organisasi dalam Psychosocial Safety Climate.

Meski demikian, masih ditemukan beberapa work order yang safety plan-nya belum terisi secara lengkap sebelum pekerjaan dilaksanakan. Kondisi tersebut berpotensi menyebabkan informasi mengenai potensi bahaya, penggunaan APD, serta langkah pengendalian risiko belum tersampaikan secara optimal kepada seluruh pekerja.

Budaya Keselamatan Dimulai dari Sistem

Penguatan Psychosocial Safety Climate perlu menjadi perhatian setiap perusahaan karena budaya keselamatan tidak hanya dibangun melalui pengendalian teknis, tetapi juga melalui sistem organisasi yang mendukung komunikasi dan keterlibatan pekerja. Ketika pekerja merasa didengar, dihargai, dan dilibatkan dalam pengambilan keputusan terkait keselamatan, mereka akan lebih terdorong untuk menerapkan perilaku kerja aman secara konsisten.

Sebagai langkah perbaikan, perusahaan dapat memastikan setiap work order telah dilengkapi safety plan sebelum pekerjaan dimulai melalui mekanisme validasi yang jelas. Langkah tersebut membantu pekerja memperoleh informasi keselamatan secara lengkap sekaligus memperkuat implementasi budaya keselamatan di tempat kerja.

Pada akhirnya, keberhasilan penerapan K3 tidak hanya ditentukan oleh tersedianya prosedur maupun APD, tetapi juga oleh lingkungan kerja yang mampu membangun kepercayaan, komunikasi, dan partisipasi seluruh pekerja. Melalui Psychosocial Safety Climate yang kuat, perusahaan dapat menciptakan tempat kerja yang lebih sehat, aman, produktif, dan berkelanjutan.

[BACA JUGA: Gas Tak Terlihat, Risiko Nyata bagi Keselamatan Industri]

Penulis: Onla Kahfi Pranata

Pembimbing: Tofan Agung Eka Prasetya, S.Kep., M.KKK., Ph.D.

Editor: Inviana (Tim Vokasi Branding)