VOKASI NEWS – Gas toksik merupakan salah satu potensi bahaya yang perlu diwaspadai dalam berbagai proses industri. Berbeda dengan bahaya lain yang mudah dikenali, gas berbahaya sering kali tidak terlihat oleh mata. Meski demikian, gas dapat menyebar mengikuti arah angin. Kondisi ini berpotensi mengancam keselamatan pekerja maupun masyarakat di sekitar kawasan industri. Oleh karena itu, pemodelan dispersi gas menjadi salah satu langkah penting dalam mengidentifikasi arah penyebaran bahaya sebelum insiden benar-benar terjadi.
Salah satu gas yang menjadi perhatian adalah sulfur dioksida (SO₂). Gas ini tidak berwarna dan memiliki bau menyengat. Dalam konsentrasi tertentu, sulfur dioksida dapat mengganggu sistem pernapasan apabila terhirup. Pada industri asam sulfat, sulfur dioksida terbentuk dari proses pembakaran sulfur sebelum dikonversi menjadi sulfur trioksida. Apabila proses konversi tidak berlangsung secara optimal, sebagian sulfur dioksida dapat terlepas ke atmosfer melalui stack.
Pemodelan Dispersi Gas Membantu Mengantisipasi Risiko
Pemodelan dispersi gas dilakukan untuk memperkirakan arah penyebaran, jarak paparan, serta area yang berpotensi terdampak oleh gas toksik. Informasi tersebut menjadi dasar dalam menentukan zona aman, jalur evakuasi, titik pemantauan kualitas udara, hingga kebutuhan alat pelindung pernapasan bagi pekerja.
Tanpa pemodelan, pengambilan keputusan saat kondisi darurat berisiko hanya mengandalkan perkiraan visual yang belum tentu akurat. Dalam keselamatan proses, pemodelan dispersi gas membantu perusahaan mengenali berbagai skenario terburuk sehingga langkah pencegahan dapat disiapkan sebelum insiden terjadi.
Sulfur Dioksida Berpotensi Menjadi Major Accident Hazard
Sulfur dioksida termasuk gas yang perlu mendapat perhatian dalam kajian Major Accident Hazard karena pelepasannya dapat berdampak terhadap keselamatan manusia, lingkungan, aset perusahaan, dan keberlangsungan operasional.
Pada proses start-up unit asam sulfat, konversi sulfur dioksida menjadi sulfur trioksida belum selalu berlangsung secara sempurna. Kondisi tersebut dapat meningkatkan emisi sulfur dioksida yang keluar melalui cerobong (stack). Apabila tidak dikendalikan, kondisi yang awalnya tampak sederhana dapat berkembang menjadi insiden dengan dampak yang lebih luas.
Kajian pada Stack Unit SA II Pabrik III PT Petrokimia Gresik menggunakan pendekatan Major Accident Hazard untuk memodelkan penyebaran sulfur dioksida. Pemodelan dilakukan menggunakan perangkat lunak Areal Locations of Hazardous Atmospheres (ALOHA) dengan pendekatan heavy gas dispersion, memanfaatkan data stack, data meteorologi, dan skenario pelepasan gas secara terus-menerus selama 60 menit.
Hasil pemodelan menunjukkan bahwa metode tersebut dapat dimanfaatkan untuk menentukan zona pemantauan, mengendalikan akses ke area berisiko, memilih alat pelindung pernapasan yang sesuai, serta memperkuat kesiapsiagaan menghadapi kondisi darurat.
Regulasi Menjadi Dasar Pengendalian Emisi
Pengendalian emisi sulfur dioksida di Indonesia mengacu pada Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.17/MENLHK/SETJEN/KUM.1/4/2019 tentang baku mutu emisi industri pupuk dan industri amonium nitrat.
Selain itu, perangkat lunak ALOHA menggunakan nilai Acute Exposure Guideline Levels (AEGL) sebagai acuan untuk menilai tingkat bahaya paparan akut. Nilai tersebut dibagi menjadi kategori AEGL-1, AEGL-2, dan AEGL-3 yang digunakan sebagai Level of Concern dalam menentukan threat zone. Dengan demikian, regulasi dan standar paparan tidak hanya berfungsi sebagai persyaratan administratif, tetapi juga sebagai dasar perlindungan keselamatan pekerja dan masyarakat.
Membangun Kesiapsiagaan Sebelum Bahaya Terjadi
Pemanfaatan ALOHA memungkinkan perusahaan memvisualisasikan arah dan jangkauan penyebaran gas toksik berdasarkan kondisi cuaca, karakteristik bahan kimia, sumber pelepasan, dan durasi emisi. Informasi tersebut membantu perusahaan menyusun prosedur evakuasi, melaksanakan simulasi tanggap darurat, memberikan pelatihan kepada pekerja, serta memperkuat komunikasi risiko.
Di tengah meningkatnya tuntutan keselamatan industri, pemodelan dispersi gas perlu menjadi bagian dari sistem manajemen risiko perusahaan. Kemampuan membaca potensi bahaya sebelum insiden terjadi merupakan langkah penting untuk mencegah kecelakaan besar, melindungi pekerja, menjaga lingkungan, dan memastikan keberlangsungan operasional industri.
[BACA JUGA: Aktivitas Fisik Bantu Ringankan Gejala Menopause pada Wanita Premenopause]
Penulis: Grace Tamariska
Pembimbing: Tofan Agung Eka Prasetya, S.Kep., M. KKK., Ph.D.
Editor: Inviana (Tim Vokasi Branding)


