Beban Kerja Mental dan Dehidrasi Picu Kelelahan Operator Dump Truck

VOKASI NEWS – Kelelahan kerja menjadi salah satu faktor risiko tertinggi terjadinya kecelakaan kerja di sektor pertambangan. Kondisi ini juga memicu penurunan produktivitas kerja para karyawan. Operator dump truck di PT Sentosa Laju Sejahtera menghadapi tuntutan pekerjaan yang berat. Mereka harus bekerja dengan sistem shift sepanjang dua belas jam.

Jalan hauling sepanjang 13 kilometer yang sering rusak membutuhkan kewaspadaan tinggi sepanjang perjalanan. Kondisi jalanan tersebut akhirnya menciptakan tekanan mental tersendiri bagi para operator. Selain itu, keterbatasan akses terhadap air minum di sepanjang jalur pengangkutan menjadi tantangan. Persediaan air bersih hanya tersedia di titik awal dan akhir perjalanan mereka. Kondisi ini berisiko menyebabkan dehidrasi yang berdampak buruk pada keselamatan kerja

Ancaman Dehidrasi di Balik Kemudi Jalur Tambang

Penelitian terhadap 80 operator dump truck mengungkapkan fakta yang cukup mencengangkan. Sebanyak 78,8% operator terbukti mengalami beban kerja mental dalam kategori tinggi. Angka ini sejalan dengan temuan penelitian Darsini (2022), penelitian tersebut melaporkan bahwa sebagian besar operator memiliki beban kerja mental kategori tinggi. Nilai rata-rata beban mental para pekerja mencapai angka 77%. Tuntutan mencapai target produksi dan kondisi jalan menantang menjadi faktor utama peningkatan beban.

Hasil pengukuran status hidrasi menggunakan metode PURI juga menunjukkan hasil mengkhawatirkan. Metode Periksa Urin Sendiri ini menunjukkan bahwa 91,3% responden mengalami dehidrasi. Dehidrasi yang terjadi berulang setiap shift dapat memicu gangguan fungsi ginjal. Dalam jangka panjang, pekerja dapat mengalami kelelahan kronis yang berbahaya.

Berdasarkan hasil observasi, operator hanya membawa botol minum dari mess mereka. Mereka tidak memiliki akses isi ulang air selama berada di perjalanan. Suhu lingkungan yang panas dapat merangsang tubuh untuk mengeluarkan keringat berlebih. Pengeluaran keringat adalah upaya alami tubuh menurunkan suhu ke rentang normal 36°C-37°C.

Produksi keringat berlebihan tanpa diimbangi asupan cairan cukup menyebabkan dehidrasi. Kondisi dehidrasi tersebut kemudian berdampak langsung pada munculnya kelelahan. Operator dump truck yang terpapar iklim kerja panas memiliki risiko dehidrasi tinggi. Hal ini dibuktikan oleh beberapa penelitian tentang hubungan iklim kerja dan dehidrasi. Kabin unit ber-AC yang memiliki tingkat kelembaban rendah justru mempercepat penguapan air. Penguapan terjadi tanpa disadari sehingga mereka tidak merasa haus meskipun kekurangan cairan.

Kaitannya dengan Saraf Simpatik dan Kelelahan Kerja

Hasil uji korelasi Spearman menunjukkan terdapat hubungan signifikan antara beban mental dan kelelahan (p-value=0,000). Kekuatan hubungan kedua aspek tersebut tergolong kuat dengan koefisien korelasi 0,625. Arah hubungan positif mengindikasikan bahwa semakin tinggi beban kerja mental, semakin tinggi kelelahan.

Penelitian Nurahma (2022), pada operator haul dump truck menemukan hasil serupa. Kombinasi tuntutan pekerjaan tinggi dengan lingkungan kerja berat memicu kelelahan kerja. Beban kerja mental tinggi menyebabkan peningkatan aktivasi saraf simpatik. Tekanan psikologis yang tinggi akhirnya terakumulasi menjadi kelelahan fisik. Waktu kerja 12 jam berturut-turut menyebabkan akumulasi kelelahan yang parah. Kondisi ini memerlukan waktu pemulihan yang jauh lebih lama dari biasanya. Pekerja dengan shift panjang memerlukan minimal tiga hari untuk pemulihan optimal.

Analisis statistik menunjukkan hubungan signifikan antara status hidrasi dengan kelelahan kerja p-value=0,000. Kekuatan hubungan berada pada tingkat sedang dengan koefisien korelasi 0,476. Arah hubungan positif berarti semakin buruk status hidrasi, semakin tinggi kelelahan operator. Dehidrasi merupakan kondisi ketidakseimbangan cairan tubuh yang mempercepat kelelahan fisik. Kondisi ini juga mengurangi tingkat kewaspadaan operator saat mengemudi.

Penelitian Safitri (2025), pada nelayan membuktikan status hidrasi berhubungan dengan kelelahan. Pemberian cairan yang mengandung elektrolit alami dapat membantu mengembalikan keseimbangan tubuh. Edukasi tentang pentingnya hidrasi dapat berdampak pada penurunan tingkat kelelahan kerja. Peningkatan akses terhadap persediaan air minum juga sangat membantu pekerja. Konsumsi air putih cukup merupakan cara paling efektif menjaga produktivitas pekerja.

Solusi Strategis Demi Keselamatan Operator

Penelitian ini membuktikan beban mental dan status hidrasi berhubungan dengan kelelahan. Oleh karena itu, perusahaan perlu menyediakan fasilitas water station strategis. Fasilitas air minum gratis harus ditempatkan di sepanjang jalan hauling. Pemasangan poster tentang pentingnya konsumsi air putih juga sangat diperlukan. Perusahaan juga perlu mengadakan pelatihan manajemen stres secara berkala.

Pekerja disarankan membawa air minum minimal dua liter setiap hari. Mereka harus membiasakan minum setiap satu jam meskipun tidak merasa haus. Pemeriksaan status hidrasi menggunakan metode PURI pada awal dan akhir shift sangat membantu. Langkah ini dapat membantu memantau kondisi kesehatan pekerja secara berkala.

[BACA JUGA: Dari Teori Menjadi Praktik: Magang Sebagai Ruang Berkembang Mahasiswa Terapan Bersama BPJS Ketenagakerjaan Cabang Juanda]

Penulis: Karis Novitasari

Pembimbing: Neffrety Nilamsari

Editor: Nawal Eka Paramita (Tim Vokasi Branding)