VOKASI NEWS – Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) masih menjadi tantangan di berbagai sektor industri. Ketika terjadi kecelakaan kerja, perhatian sering kali langsung tertuju kepada pekerja yang dianggap melakukan unsafe action atau tindakan tidak aman. Padahal, perilaku tersebut tidak selalu muncul karena kelalaian individu. Sistem keselamatan yang diterapkan perusahaan juga memiliki peran besar dalam membentuk perilaku kerja setiap pekerja.
Salah satu faktor yang memengaruhi perilaku keselamatan adalah safety climate atau iklim keselamatan kerja. Konsep ini menggambarkan bagaimana pekerja memandang komitmen perusahaan terhadap keselamatan melalui kebijakan, komunikasi, pengawasan, hingga dukungan manajemen dalam menjalankan program K3.
Memahami Pentingnya Safety Climate
Safety climate mencerminkan persepsi pekerja terhadap sejauh mana perusahaan benar-benar menjadikan keselamatan sebagai prioritas. Penilaian tersebut tidak hanya didasarkan pada keberadaan prosedur kerja, tetapi juga pada penerapannya dalam aktivitas sehari-hari.
Perusahaan yang memiliki safety climate positif umumnya mampu menciptakan lingkungan kerja yang mendukung pekerja untuk bekerja secara aman. Komunikasi mengenai bahaya berlangsung terbuka, manajemen memberikan teladan dalam menerapkan K3, serta pekerja merasa didukung ketika melaporkan potensi risiko di tempat kerja.
Melalui kondisi tersebut, keselamatan tidak lagi dipandang sebagai kewajiban administratif, tetapi menjadi bagian dari budaya kerja yang dijalankan bersama.
Unsafe Action Tidak Selalu Berasal dari Kesalahan Individu
Unsafe action merupakan tindakan yang tidak sesuai dengan prosedur kerja aman dan dapat meningkatkan risiko kecelakaan. Contohnya meliputi tidak menggunakan alat pelindung diri dengan benar, mengabaikan prosedur kerja, atau melakukan pekerjaan tanpa mempertimbangkan potensi bahaya.
Namun, tindakan tersebut tidak selalu muncul karena kesalahan pekerja semata. Tekanan target produksi, kurangnya pengawasan, komunikasi keselamatan yang tidak efektif, hingga budaya kerja yang belum menempatkan keselamatan sebagai prioritas dapat mendorong munculnya perilaku tidak aman.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa unsafe action juga dapat menjadi indikator adanya kelemahan dalam sistem keselamatan perusahaan. Oleh karena itu, evaluasi tidak cukup dilakukan pada individu, tetapi juga perlu menyasar proses kerja dan kebijakan organisasi.
Membangun Sistem Keselamatan yang Efektif
Perusahaan dengan safety climate yang baik memiliki peluang lebih besar membentuk perilaku kerja aman. Ketika pekerja merasa didengar, dilibatkan dalam identifikasi bahaya, serta memperoleh dukungan dari manajemen, kesadaran terhadap keselamatan akan meningkat secara alami.
Sebaliknya, apabila perusahaan hanya berfokus pada kepatuhan administratif tanpa membangun kepercayaan pekerja, prosedur keselamatan berpotensi menjadi dokumen formal yang kurang diterapkan dalam praktik.
Membangun sistem keselamatan yang efektif juga membutuhkan komunikasi yang terbuka, evaluasi rutin terhadap prosedur kerja, serta keterlibatan seluruh pekerja dalam upaya pengendalian risiko.
Keselamatan Kerja Menjadi Tanggung Jawab Bersama
Keselamatan kerja tidak hanya menjadi tanggung jawab pekerja di lapangan, tetapi juga seluruh unsur organisasi, termasuk manajemen. Perusahaan perlu menciptakan budaya yang tidak hanya mencari pihak yang bersalah ketika terjadi insiden, tetapi juga berupaya memahami penyebab munculnya tindakan tidak aman. Pendekatan tersebut membantu organisasi memperbaiki sistem secara berkelanjutan sehingga risiko kecelakaan dapat dicegah sejak awal.
Pada akhirnya, lingkungan kerja yang aman tidak tercipta hanya melalui aturan yang ketat. Komitmen manajemen, komunikasi yang efektif, serta sistem keselamatan yang kuat menjadi fondasi utama dalam membangun budaya K3 yang berkelanjutan.
[BACA JUGA: Digitalisasi Monitoring APAR Berbasis Website]
Penulis: Shyerin Debby Caila
Pembimbing: Tofan Agung Eka Prasetya, S.Kep., M.KKK., Ph.D.
Editor: Inviana (Tim Vokasi Branding)



