VOKASI NEWS – Sektor akuakultur terus berkembang seiring meningkatnya kebutuhan pangan dan ekonomi global. Salah satu komoditas yang memiliki nilai ekonomi tinggi adalah kepiting soka. Komoditas ini banyak diminati pasar lokal maupun global karena kandungan proteinnya tinggi dan kadar lemaknya rendah.
Namun, proses budidaya kepiting soka masih menghadapi tantangan besar, terutama pada fase molting atau pergantian cangkang. Pada fase tersebut, kepiting sangat rentan mengalami stres, kanibalisme, hingga kematian apabila tidak segera ditangani. Kondisi tersebut mendorong pengembangan sistem monitoring dan deteksi molting berbasis smart vertical crab farming.
Perancangan Sistem Monitoring dan Deteksi Molting
Pada praktik budidaya, pemantauan kondisi air dan deteksi molting masih banyak dilakukan secara manual. Cara tersebut membutuhkan waktu, tenaga, dan ketelitian yang tinggi. Akibatnya, momen molting sering terlambat terdeteksi sehingga berdampak pada rendahnya tingkat kelangsungan hidup dan produktivitas budidaya.
Sistem yang dikembangkan menggunakan Arduino Uno sebagai pusat pengendali. Perangkat tersebut terhubung dengan sensor pH, sensor suhu NTC, dan dua sensor ultrasonik. Sensor pH mengukur tingkat keasaman air, sedangkan sensor suhu memantau temperatur air. Sementara itu, dua sensor ultrasonik dipasang pada sisi kanan dan kiri kotak budidaya untuk mendeteksi posisi kepiting sekaligus mengenali indikasi molting melalui pola pembacaan objek ganda.
Monitoring Kualitas Air Secara Otomatis
Seluruh data hasil pembacaan sensor ditampilkan secara real-time melalui layar OLED sehingga peternak dapat memantau kondisi lingkungan budidaya secara langsung. Selain itu, sistem dilengkapi relay dan pompa air yang bekerja secara otomatis ketika nilai pH berada di luar ambang normal, yaitu kurang dari 6,5 atau lebih dari 8,5.
Melalui mekanisme tersebut, kualitas air dapat tetap terjaga tanpa memerlukan intervensi manual secara terus-menerus. Sistem ini juga membantu peternak melakukan pemantauan lingkungan budidaya secara lebih efisien.
Hasil Pengujian Sistem
Hasil pengujian menunjukkan performa yang baik pada seluruh komponen. Sensor suhu memiliki rata-rata persentase error sebesar 3,12 persen. Sementara itu, sensor ultrasonik menghasilkan rata-rata error sebesar 3,91 persen dibandingkan pengukuran manual. Sensor juga mampu membedakan kondisi normal dan objek ganda sebagai indikator molting dengan cukup akurat.
Pengujian relay dan pompa air menunjukkan respons yang sesuai dengan rancangan. Pompa aktif secara otomatis ketika pH berada pada kondisi terlalu asam maupun terlalu basa, kemudian berhenti saat kondisi air kembali normal. Pada pengujian keseluruhan sistem yang mengintegrasikan sensor, aktuator, dan tampilan OLED, seluruh skenario pengujian dinyatakan berhasil dengan tingkat keberhasilan mencapai 100 persen.
Potensi Penerapan pada Budidaya Kepiting Soka
Penerapan sistem ini berpotensi mengurangi ketergantungan pada pengawasan manual. Selain itu, sistem dapat mempercepat deteksi momen kritis molting serta meningkatkan efektivitas pengelolaan budidaya kepiting soka.
Penelitian ini turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 2 (Tanpa Kelaparan) melalui peningkatan produktivitas hasil akuakultur serta SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) melalui penerapan teknologi sensor dan otomasi pada sektor perikanan. Dengan kinerja yang stabil dan tingkat akurasi yang baik, sistem monitoring dan deteksi molting berbasis smart vertical crab farming ini berpotensi menjadi solusi teknologi untuk membantu peternak mewujudkan budidaya kepiting soka yang lebih efektif, terukur, dan berkelanjutan.
[BACA JUGA: Strategi Tepat Perusahaan Konstruksi Surabaya Hadapi SP2DK dari Kantor Pelayanan Pajak]
***
Penulis: Rangga Arjuna
Editor: Cheiza Xaviera (Tim Branding Vokasi)



