Studi di Rumah Sakit Universitas Airlangga: Hubungan eGFR dengan Natrium dan Kalium pada Pasien Penyakit Ginjal Kronis

VOKASI NEWS – Penyakit Ginjal Kronis (PGK) menjadi salah satu penyakit tidak menular yang prevalensinya terus meningkat, terutama di Indonesia. Penyakit ini ditandai dengan penurunan fungsi ginjal secara bertahap. Akibatnya, kemampuan ginjal menjaga keseimbangan cairan serta elektrolit tubuh ikut menurun. Apabila tidak ditangani dengan baik, kondisi tersebut dapat memicu berbagai komplikasi berbahaya. Komplikasi yang dapat muncul di antaranya adalah penyakit aritmia dan hipertensi.

Salah satu indikator yang digunakan untuk menilai fungsi ginjal adalah estimated Glomerular Filtration Rate (eGFR). Menurut KDIGO (Kidney Disease Improving Global Outcomes), nilai eGFR merupakan parameter utama dalam menilai derajat kerusakan ginjal. Indikator ini juga berfungsi menentukan tingkatan atau stadium pasien PGK. Penurunan eGFR mencerminkan berkurangnya kemampuan ginjal dalam mempertahankan fungsi homeostasis tubuh. Homeostasis yang terganggu terutama melibatkan kadar natrium dan kalium. Kedua komponen ini berperan penting menjaga fungsi saraf, otot, dan cairan tubuh. Keseimbangan tekanan darah juga sangat dipengaruhi oleh kedua elektrolit tersebut.

Sebuah penelitian yang dilakukan di Rumah Sakit Universitas Airlangga. Penelitian menganalisis hubungan antara nilai eGFR dengan kadar natrium dan kalium pada pasien Penyakit Ginjal Kronis yang belum menjalani hemodialisis. Penelitian menggunakan data rekam medis pasien dengan pendekatan cross-sectional. Tujuannya untuk mengetahui kaitan penurunan fungsi ginjal dengan kadar elektrolit.

Hasil Analisis Hubungan eGFR dengan Natrium

Pada hasil analisis ditemukan bahwa lebih dari setengah pasien (62,1%) memiliki kadar natrium di bawah nilai normal atau hiponatremia. Namun, hubungan antara nilai eGFR dan kadar natrium tidak menunjukkan hasil yang bermakna secara statistik.

Hal ini mengindikasikan bahwa perubahan kadar natrium tidak hanya dipengaruhi oleh penurunan fungsi ginjal. Faktor lain seperti asupan cairan, nutrisi, dan penggunaan diuretik turut memengaruhi. Homeostasis natrium juga melibatkan beberapa sistem yang saling berkaitan. Sistem tersebut meliputi saraf simpatik, renin-angiotensin-aldosterone system (RAAS), arginine vasopressin (AVP), dan peptida natriuretik yang membantu mengatur homeostasis natrium tetap stabil.

Hasil Analisis Hubungan eGFR dengan Kalium

Berbeda dengan natrium, kadar kalium menunjukkan hubungan yang bermakna dengan arah negative pada pasien PGK non-hemodialisis. Hal ini mengindikasikan bahwa penurunan fungsi ginjal cenderung diikuti oleh peningkatan kadar kalium dalam darah. Kondisi tersebut disebabkan oleh menurunnya kemampuan ginjal dalam mengekskresikan kalium akibat kegagalan adaptasi kalium, sehingga terjadi retensi kalium. Seiring penurunan fungsi ginjal secara progresif akan meningkatkan risiko terjadinya hiperkalemia. Kondisi ini dapat memicu aritmia, kardiovaskular, bahkan kematian.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa pemantauan fungsi ginjal tidak cukup dilakukan hanya dengan melihat nilai eGFR. Pemeriksaan kadar elektrolit, khususnya kalium, juga penting dilakukan secara berkala sebagai bagian dari evaluasi kondisi pasien. Deteksi dini terhadap gangguan elektrolit diharapkan dapat membantu penatalaksanaan. Langkah ini sekaligus meminimalkan terjadinya komplikasi pada pasien Penyakit Ginjal
Kronis.

[BACA JUGA: BMI Belum Tentu Menentukan Kekuatan Genggaman pada Dewasa Muda]

Penulis: Lukita Dwi Pratista Diyas

Editor: Nawal Eka Paramita (Tim Vokasi Branding)