Terciptanya Solusi Cegah Heat-Stress Pekerja Industri, 3 Mahasiswa Vokasi UNAIR Raih Juara 2 OLIVIA XI 2026

VOKASI NEWS – Tiga mahasiswa Fakultas Vokasi Universitas Airlangga yang tergabung dalam Tim Trio Kalem berhasil meraih Juara 2 kategori Science & Technology. Prestasi tersebut diraih dalam ajang Olimpiade Vokasi Indonesia (OLIVIA) XI 2026. Ketiga mahasiswa tersebut adalah Muhammad Naufal Afif dari Program Studi D-IV Teknologi Rekayasa Instrumentasi dan Kontrol, Isra Dzorifatun Nisa dari Program Studi D-IV Teknologi Laboratorium Medik, dan Rona Elita Maharani dari Program Studi D-IV Keselamatan dan Kesehatan Kerja.

Kompetisi yang diselenggarakan oleh Forum Pendidikan Tinggi Vokasi Indonesia tersebut berlangsung pada 2–4 Agustus 2026 di Universitas Negeri Surabaya. Prestasi tersebut diraih melalui karya berjudul THERVIS (Thermal Vision-based Integrated Control System). Sistem ini mengendalikan kondisi termal berbasis Wet Bulb Globe Temperature (WBGT). Sistem tersebut diintegrasikan dengan thermal computer vision untuk membantu mencegah heat-stress pada pekerja industri.

Gagasan THERVIS berangkat dari kondisi fluktuasi iklim global yang semakin ekstrem dan berpotensi mengganggu ekosistem serta menurunkan produktivitas pekerja di lingkungan bersuhu tinggi. Solusi tersebut dirancang melalui kolaborasi tiga bidang keilmuan. Bidang tersebut meliputi Teknologi Rekayasa Instrumentasi dan Kontrol, Teknologi Laboratorium Medik, serta Keselamatan dan Kesehatan Kerja.

Berawal dari Kolaborasi Tiga Bidang Keilmuan

Proses menuju THERVIS dimulai dari sesi diskusi internal, tempat setiap anggota memaparkan latar belakang keilmuannya secara bergantian. Dari perbincangan itu, muncul benang merah antara instrumentasi dan kontrol, laboratorium medis, serta keselamatan kerja, tiga bidang yang jarang dipertemukan dalam satu solusi. Ketua Tim Muhammad Naufal Afif mengusulkan agar ketiganya dirangkai menjadi satu sistem, bukan berdiri sendiri-sendiri. Usulan itu menjadi cikal bakal kerangka THERVIS yang terus dimatangkan bersama.

Gagasan ini bertolak dari kegelisahan atas fluktuasi iklim global yang kian tidak menentu, yang menekan produktivitas kerja di lingkungan bersuhu tinggi, terutama pekerja yang setiap hari terpapar risiko heat-stress. Data ILO (2019) mencatat jam kerja hilang akibat panas di Indonesia naik dari 2,14 persen (1995) menjadi 2,97 persen (2030), setara 1,885 juta menjadi 4,018 juta FTE (Full-Time Equivalent) terdampak, dengan Asia Tenggara mencapai 3,7 persen (sekitar 13 juta FTE) dan sektor industri menyumbang 12 persen kerugian jam kerja global.

THERVIS Gabungkan Sensor, Kecerdasan Buatan, dan Sistem Kontrol

Menjawab persoalan tersebut, Tim Trio Kalem merancang THERVIS bukan sekadar sebagai alat pengukur suhu. THERVIS dikembangkan sebagai sistem pengendalian termal yang memanfaatkan kecerdasan buatan dan teknologi relevan dengan perkembangan Industri 5.0.

Sistem THERVIS terdiri atas tiga lapisan yang saling terhubung. Lapisan pertama merupakan lapisan penginderaan yang menghitung nilai WBGT pada setiap zona secara real-time. Kedua berupa lapisan kecerdasan yang mengolah citra termal menggunakan machine learning untuk memetakan sumber panas dan kepadatan pekerja. Lapisan ketiga merupakan lapisan kontrol yang secara otomatis mengatur kecepatan Exhaust Fan melalui Variable Speed Drive (VSD).

Ketiga lapisan tersebut bekerja dalam satu siklus tertutup. Kondisi termal setelah dilakukan penyesuaian akan kembali terbaca oleh sensor pada siklus berikutnya sehingga sistem dapat menyesuaikan pengendalian berdasarkan kondisi aktual.

Pendekatan tersebut membedakan THERVIS dari sistem ventilasi konvensional yang umumnya menggunakan satu titik ukur atau single-setpoint untuk seluruh area. Pemanfaatan machine learning memungkinkan sirkulasi udara disesuaikan berdasarkan kebutuhan setiap zona, bukan diseragamkan untuk seluruh area.

Pendekatan tersebut juga membuka peluang efisiensi energi hingga 49 persen dibandingkan sistem konvensional (Price et al., 2022). Pemanfaatan teknologi Internet of Things (IoT) dan kecerdasan buatan dalam sistem K3 juga sejalan dengan perkembangan teknologi pemantauan kondisi kerja secara non-invasif dan pengambilan keputusan kontrol secara adaptif (He et al., 2023).

Dari Prestasi Nasional Menuju Pengembangan Prototipe

Pencapaian ini tidak lepas dari bimbingan Bapak Deny Arifianto Selaku Dosen Pembimbing Tim. Sepanjang proses perancangan, mulai dari penajaman kerangka teori hingga penyusunan naskah ilmiah. Bagi Tim Trio Kalem, hasil ini terasa istimewa karena berangkat dari kolaborasi tiga program studi yang berbeda. Perbedaan tersebut justru berhasil dirangkai menjadi satu sistem yang utuh hingga mampu meraih pengakuan di tingkat nasional.

Dalam skala Technology Readiness Level (TRL), THERVIS saat ini masih berada pada tahap perancangan konseptual. Tahap selanjutnya diarahkan pada pembangunan dan pengujian prototipe secara langsung di lingkungan industri.

Pengujian tersebut akan dilakukan untuk memverifikasi akurasi perhitungan WBGT, performa machine learning, serta efektivitas cascade control yang sejauh ini masih diuji secara teoretis. Pengembangan juga direncanakan mencakup sistem HVAC sentral dan lingkungan luar ruangan.

Melalui pengembangan tersebut, THERVIS ditargetkan dapat berkontribusi terhadap lima tujuan pembangunan berkelanjutan. Tujuan tersebut meliputi SDG 3 tentang kesehatan pekerja, SDG 7 tentang efisiensi energi, SDG 8 tentang produktivitas kerja, SDG 9 tentang inovasi berbasis AI, dan SDG 13 tentang adaptasi terhadap perubahan iklim.

[BACA JUGA: Prodi D3 Perpajakan UNAIR Jajaki Kerja Sama dengan Integrity Tax Management]

Penulis: Muhammad Naufal Afif

Pembimbing: Deny Arifianto, S.Si., M.T.

Editor: Vioretha (Tim Vokasi Branding)