VOKASI NEWS – Industri manufaktur memiliki tuntutan produksi yang tinggi untuk memenuhi target perusahaan dan permintaan pasar. Kondisi tersebut membuat pekerja dituntut bekerja secara cepat, teliti, dan konsisten agar kualitas produk tetap terjaga. Salah satu bagian yang memiliki peran penting dalam proses produksi adalah bagian sewing.
Dalam menjalankan pekerjaannya, pekerja dituntut bekerja secara cepat, teliti, dan konsisten agar target produksi dapat tercapai. Selain itu, pekerja harus mempertahankan konsentrasi selama bekerja, mengikuti ritme produksi, serta memastikan hasil jahitan tetap sesuai standar kualitas. Berbagai tuntutan tersebut membuat pekerjaan sewing tidak hanya membutuhkan kemampuan fisik, tetapi juga kemampuan mental.
Apabila tuntutan pekerjaan berlangsung secara terus-menerus tanpa pengelolaan yang baik, pekerja berisiko mengalami stres kerja. Stres kerja menjadi salah satu permasalahan yang perlu mendapat perhatian dalam penerapan keselamatan dan kesehatan kerja (K3). Kondisi ini dapat memengaruhi kesehatan pekerja, menurunkan kinerja, serta berdampak pada produktivitas perusahaan. Oleh karena itu, penting bagi perusahaan untuk mengelola faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko stres kerja guna menciptakan lingkungan kerja yang sehat dan produktif.
Tuntutan Kerja pada Pekerja Sewing
Tuntutan pekerjaan yang berlangsung terus-menerus dapat meningkatkan risiko stres kerja. Menurut Hart dan Staveland (1988), beban kerja mental merupakan persepsi pekerja terhadap tuntutan pekerjaan yang dipengaruhi oleh tekanan waktu, kebutuhan fisik, tingkat usaha, dan frustrasi selama bekerja. Pada bagian sewing, pekerjaan dilakukan secara berulang dengan target produksi tertentu. Selain menjaga kecepatan kerja, pekerja juga harus memastikan kualitas jahitan sesuai standar. Kesalahan yang terjadi mengharuskan produk diperbaiki (rework), sehingga menambah usaha fisik dan mental yang harus dikeluarkan. Kondisi tersebut membuat pekerja harus mempertahankan fokus dalam waktu yang lama sekaligus mengeluarkan usaha fisik dan mental untuk menyelesaikan pekerjaannya.
Penelitian Temukan Hubungan dengan Stres Kerja
Penelitian pada pekerja bagian sewing di PT X menunjukkan adanya hubungan antara beban kerja mental dan stres kerja. Semakin tinggi beban kerja mental yang dirasakan pekerja, semakin tinggi pula tingkat stres kerja yang dialami. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tuntutan pekerjaan yang semakin besar dapat meningkatkan tekanan psikologis selama bekerja. Dimensi tingkat usaha (effort) dan kebutuhan fisik (physical demand) menjadi aspek beban kerja mental yang paling dominan dirasakan pekerja.
Temuan tersebut sejalan dengan teori Job Demands-Resources yang dikembangkan oleh Bakker dan Demerouti (2007), yang menjelaskan bahwa tuntutan pekerjaan (job demands) yang tinggi dan tidak diimbangi dengan sumber daya (job resources) yang memadai dapat menimbulkan proses strain. Kondisi tersebut dapat menguras energi fisik maupun mental pekerja sehingga meningkatkan risiko terjadinya stres kerja yang berdampak pada menurunnya konsentrasi, meningkatnya risiko kesalahan kerja, serta menurunnya produktivitas.
Upaya Mencegah Stres Kerja
Pencegahan stres kerja perlu dilakukan melalui kerja sama antara perusahaan dan pekerja. Perusahaan dapat memberikan pelatihan pengembangan dan pendampingan untuk meningkatkan kemampuan pekerja dalam mengelola tuntutan pekerjaan serta menerapkan teknik kerja yang lebih efisien dan ergonomis.
Selain itu, penerapan active micro break yang disertai peregangan ringan secara berkala dapat membantu mengurangi kelelahan selama bekerja. Langkah sederhana tersebut memberikan kesempatan bagi tubuh dan pikiran untuk beristirahat sejenak sehingga pekerja dapat kembali bekerja dengan kondisi yang lebih nyaman.
Upaya tersebut diharapkan mampu menciptakan lingkungan kerja yang lebih sehat sekaligus mendukung produktivitas perusahaan. Dengan pengelolaan beban kerja mental yang baik, risiko stres kerja dapat dikurangi sehingga pekerja dapat bekerja secara optimal dan berkelanjutan.
[BACA JUGA: Meningkatkan Diagnosis Penunjang Kanker Payudara Melalui Gabungan Parameter Hematologi dan Tumor Marker]
Penulis: Aulia Nisa’ul Anazil
Pembimbing: Fadilatus Sukma Ika Noviarmi
Editor: Aghnia Faizatus (Tim Branding Vokasi)



