VOKASI NEWS – Mahasiswa D-IV Teknologi Laboratorium Medik menjalani PKL di Rumah Sakit Karsa Husada Batu sebagai ruang pembelajaran nyata untuk mengasah kompetensi laboratorium medik.
Laboratorium medik bukan sekadar ruangan steril dengan deretan reagen dan alat diagnostik. Bagi mahasiswa D-IV Teknologi Laboratorium Medik, PKL di Kota Batu menjadi arena pembelajaran yang sesungguhnya. Laboratorium menjadi tempat untuk menerapkan ilmu yang telah diperoleh di bangku kuliah. Ilmu tersebut diuji secara langsung dalam konteks pelayanan kesehatan nyata.
Di sinilah mahasiswa mulai memahami makna setiap pemeriksaan. Pemeriksaan tidak hanya menjadi latihan teknis. Lebih dari itu, pemeriksaan merupakan bagian dari rantai diagnosis yang berdampak pada keputusan klinis pasien.
Laboratorium sebagai Ruang Pembelajaran Nyata
Selama PKL, mahasiswa terlibat aktif dalam berbagai kegiatan rutin laboratorium, mulai dari pemeriksaan mikrobiologi, patologi klinik hingga pemeriksaan histopatologi. Setiap hari, spesimen dari pasien rawat inap maupun rawat jalan masuk ke laboratorium dengan urgensi yang tidak bisa ditawar. Melalui kegiatan ini, mahasiswa juga diperbolehkan untuk merasakan kecanggihan alat-alat laboratorium yang tersedia di Rumah Sakit Karsa Husada Batu. Para senior di sana juga berperan aktif dalam mengedukasi dan memberikan contoh penerapan standar operasional pelayanan laboratorium yang tepat kepada mahasiswa.
Selain perbedaan alat pemeriksaan yang tentunya lebih canggih, mahasiswa jugamenemukan perbedaan nyata pada kegiatan pewarnaan sediaan histopatologi di laboratorium patologi anatomi. Di kampus, prosedur pewarnaan Hematoxylin-Eosin (HE) dilaksanakan mengikuti protokol baku yang tertulis di modul praktikum. Waktu perendaman ditentukan secara ketat sesuai standar literatur.
PKL sebagai Pembentuk Kompetensi Profesional
Namun di laboratorium patologi anatomi rumah sakit, mahasiswa mendapati realitas yang berbeda. Waktu perendaman pada setiap larutan tidak selalu identik dengan panduan baku. Hal ini disesuaikan berdasarkan kondisi reagen, karakteristik jaringan, serta pertimbangan efisiensi waktu dan biaya operasional. Seorang
analis senior menjelaskan bahwa dalam setting pelayanan, kecepatan tanpa mengorbankan kualitas hasil adalah tuntutan yang tidak bisa diabaikan.
Pengalaman ini membuka kesadaran baru: ilmu laboratorium medik tidak bersifat hitam-putih. Kegiatan ini menuntut kemampuan analisis situasional, adaptasi terhadap kondisi lapangan, dan pemahaman bahwa setiap keputusan teknis sekecil apapun akan berimplikasi langsung pada efektivitas diagnosis dan keselamatan pasien.
Dengan demikian, kegiatan PKL tidak hanya pelengkap mata kuliah tetapi juga ruang pembentukan kompetensi
yang tidak bisa didapatkan dengan pembelajaran teoritis semata.
[BACA: Adaptasi Mahasiswa TLM PKL di RS Hermina Bekasi]
Penulis: Alifia Pratiwi Pamungkas
Editor: Inviana (Tim Vokasi Branding)



