Mengasah Kompetensi K3 melalui Evaluasi Jalur Forklift di Industri Keramik

VOKASI NEWS – Kegiatan magang industri menjadi wadah bagi mahasiswa untuk mengimplementasikan ilmu yang diperoleh selama perkuliahan ke dalam lingkungan kerja nyata. Mahasiswa Program Studi Sarjana Terapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Fakultas Vokasi Universitas Airlangga, Moch. Rizqi Al Akbar, melaksanakan kegiatan magang di PT Sinar Karya Duta Abadi (PT Arwana Citramulia Plant V), Mojokerto. Magang ini berlangsung selama Februari hingga April 2026. Melalui kegiatan ini, mahasiswa berkesempatan memahami penerapan K3 secara langsung sekaligus berkontribusi dalam mengidentifikasi potensi bahaya pada proses operasional perusahaan.

Sebagai perusahaan manufaktur keramik, PT Sinar Karya Duta Abadi memanfaatkan forklift sebagai sarana utama pemindahan bahan baku, produk setengah jadi, hingga produk jadi menuju area penyimpanan. Aktivitas ini berlangsung hampir di seluruh area produksi dan gudang. Kondisi tersebut memerlukan sistem pengaturan lalu lintas internal yang aman untuk mencegah terjadinya kecelakaan kerja.

Mengidentifikasi Potensi Bahaya di Area Operasional Forklift

Selama kegiatan magang, observasi difokuskan pada penerapan jalur operasional forklift dan jalur pejalan kaki di beberapa area perusahaan. Hasil identifikasi menunjukkan bahwa masih terdapat beberapa titik yang memerlukan peningkatan pengendalian keselamatan. Beberapa temuan tersebut antara lain marka jalur yang mulai memudar, serta pemisahan jalur forklift dan jalur pedestrian yang belum optimal pada beberapa lokasi. Selain itu, rambu keselamatan sebagai media informasi bagi operator maupun pekerja juga masih terbatas.

Temuan tersebut menjadi perhatian karena aktivitas forklift berlangsung bersamaan dengan mobilitas pekerja di area produksi dan gudang. Berdasarkan hasil observasi lapangan, kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko interaksi antara kendaraan material handling dengan pejalan kaki. Risiko ini terutama muncul pada area dengan ruang gerak terbatas dan visibilitas operator yang berkurang akibat muatan yang diangkut. Kondisi tersebut sejalan dengan hasil evaluasi pada laporan magang, yang menunjukkan pentingnya pengaturan jalur operasional sebagai salah satu upaya pencegahan kecelakaan kerja.

Menyusun Rekomendasi Berbasis Identifikasi Risiko

Sebagai tindak lanjut dari hasil observasi, disusun beberapa rekomendasi pengendalian yang mengacu pada prinsip manajemen risiko K3. Rekomendasi tersebut meliputi perancangan jalur pedestrian yang terpisah dari jalur operasional forklift. Pembaruan marka lantai menggunakan kombinasi warna kuning dan hitam juga diusulkan agar lebih mudah dikenali. Selain itu, rekomendasi mencakup pemasangan rambu peringatan operasional forklift pada area persimpangan, serta penambahan rambu batas kecepatan pada jalur dengan mobilitas pekerja yang tinggi.

Selain itu, disusun pula usulan layout jalur forklift yang diharapkan dapat menjadi acuan dalam pengaturan lalu lintas internal perusahaan. Rekomendasi tersebut bertujuan meminimalkan potensi pertemuan langsung antara forklift dan pejalan kaki. Dengan begitu, tercipta lingkungan kerja yang lebih aman, tertib, dan mendukung produktivitas perusahaan.

Pembelajaran Berharga dari Dunia Industri

Kegiatan magang memberikan pengalaman langsung mengenai pentingnya proses identifikasi bahaya, penilaian risiko, dan penyusunan rekomendasi pengendalian berdasarkan kondisi nyata di lapangan. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa penerapan K3 tidak hanya bergantung pada kepatuhan terhadap prosedur kerja. Penerapan K3 juga memerlukan rekayasa lingkungan kerja yang mampu mengurangi potensi bahaya sejak awal.

Menurut mahasiswa, kegiatan magang menjadi pengalaman yang memperluas pemahaman mengenai implementasi K3 di industri manufaktur. Proses identifikasi potensi bahaya, analisis risiko, hingga penyusunan rekomendasi pengendalian berdasarkan kondisi nyata di lapangan memberikan gambaran penting. Gambaran tersebut menunjukkan bahwa penerapan K3 tidak hanya berfokus pada kepatuhan terhadap prosedur kerja, tetapi juga memerlukan perancangan lingkungan kerja yang aman untuk mencegah terjadinya kecelakaan.

Pengalaman magang ini sekaligus mengembangkan kompetensi mahasiswa dalam mengidentifikasi potensi bahaya, menganalisis risiko, dan menyusun rekomendasi pengendalian. Kompetensi tersebut menjadi bekal penting dalam mempersiapkan lulusan yang mampu berkontribusi terhadap peningkatan budaya keselamatan kerja di dunia industri.

[BACA JUGA: Verifikasi Geometri Bantu Jaga Ketepatan Radioterapi Kanker Nasofaring]

Penulis: Moch. Rizqi Al Akbar

Editor: Nadya Tika (Tim Branding Vokasi)