VOKASI NEWS – Kanker nasofaring merupakan salah satu keganasan pada area kepala dan leher yang membutuhkan penanganan dengan tingkat ketelitian tinggi. Letaknya berada di belakang rongga hidung dan dekat dengan beberapa organ penting, sehingga proses terapi harus dilakukan secara presisi (Chen et al., 2019).
Salah satu teknik radioterapi yang digunakan dalam penanganan kanker nasofaring adalah Intensity Modulated Radiotherapy atau IMRT. Teknik ini mampu mengatur distribusi dosis radiasi agar lebih sesuai dengan bentuk target kanker, sekaligus membantu mengurangi paparan radiasi pada jaringan sehat di sekitarnya (Luo et al., 2019).
Pergeseran Geometri Menjadi Tantangan Akurasi Penyinaran
Keberhasilan radioterapi tidak hanya bergantung pada kecanggihan alat, tetapi juga pada ketepatan posisi pasien selama penyinaran. Pergeseran kecil pada posisi pasien dapat memengaruhi ketepatan arah radiasi yang diberikan (Kearney et al., 2020).
Hal tersebut menjadi fokus kajian ini yaitu, membahas mengenai nilai pergeseran geometri pada pasien kanker nasofaring yang menjalani radioterapi eksternal dengan teknik IMRT. Data diperoleh dari 10 pasien kanker nasofaring melalui proses verifikasi posisi menggunakan Electronic Portal Imaging Device atau EPID. Citra EPID kemudian dicocokkan dengan Digital Reconstructed Radiograph atau DRR dari fraksi pertama hingga fraksi ke-33. Pergeseran dianalisis pada tiga arah, yaitu sumbu-x, sumbu-y, dan sumbu-z.
Hasil kajian menunjukkan adanya pergeseran geometri pada seluruh sumbu koordinat. Pergeseran terbesar pada sumbu-x mencapai 8,50 mm, sumbu-y sebesar 7,60 mm, dan sumbu-z sebesar 8,60 mm. Rata-rata pergeseran terbesar ditemukan pada sumbu-y, yaitu 2,08 ± 1,63 mm. Temuan tersebut menunjukkan bahwa pemantauan posisi pasien perlu dilakukan secara berkala selama rangkaian radioterapi. Dalam layanan radioterapi, pergeseran beberapa milimeter bukan sekadar angka kecil, melainkan sinyal penting untuk memastikan radiasi tetap mengenai target yang telah direncanakan.
Verifikasi Posisi Pasien Perlu Dilakukan Secara Berkala
Verifikasi geometri secara berkala diperlukan untuk menjaga akurasi penyinaran IMRT pada pasien kanker nasofaring. Ketepatan ini menjadi penting karena proses radioterapi dilakukan dalam beberapa fraksi, sehingga posisi pasien perlu dijaga agar tetap konsisten dari awal hingga akhir terapi (Royal College of Radiologists, 2021).
Selain nilai pergeseran, kajian ini juga mengidentifikasi beberapa faktor yang dapat memengaruhi perubahan posisi pasien. Faktor tersebut meliputi kondisi pasien, alat imobilisasi, proses setup, lingkungan LINAC, dan ketelitian petugas radioterapi dalam melakukan verifikasi posisi.
Kondisi pasien menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan karena dapat berubah selama rangkaian terapi. Rasa tidak nyaman, kelelahan, perubahan kondisi fisik pasien, serta perubahan kontur wajah dan leher dapat memengaruhi kemampuan pasien dalam mempertahankan posisi yang sama pada setiap fraksi penyinaran (Kearney et al., 2020).
Berbagai Faktor Memengaruhi Stabilitas Posisi Pasien
Alat imobilisasi juga memiliki peran penting dalam menjaga kestabilan posisi pasien. Masker termoplastik yang digunakan selama terapi perlu dievaluasi secara berkala. Agar tetap sesuai dengan kondisi pasien, terutama pada fraksi tengah hingga akhir.
Kajian ini memberikan gambaran bahwa kualitas radioterapi tidak hanya ditentukan oleh teknologi. Kualitas radioterapi juga ditentukan oleh prosedur setup, alat bantu posisi, kondisi pasien, serta ketelitian tenaga kesehatan. Verifikasi geometri yang konsisten dapat membantu menjaga ketepatan penyinaran dan meminimalkan risiko ketidaktepatan dosis radiasi. Dengan evaluasi posisi yang lebih rutin, layanan radioterapi pada pasien kanker nasofaring diharapkan dapat berjalan lebih aman, tepat, dan optimal.
[BACA JUGA: Sistem Pengendalian Internal Pembayaran Utang Usaha kepada Supplier di HARRIS Hotel & Conventions Gubeng Surabaya]
Penulis: Fauzia Shofianti
Pembimbing: Ayub Manggala Putra dan Weni Purwanti
Editor: Vioretha (Tim Vokasi Branding)



