Kenali Stres Kerja dan Langkah Pencegahan

Ilustrasi pekerja yang mengalami beban kerja mental sebagai faktor penyebab stres kerja

VOKASI NEWS – Sebagian besar orang menganggap stres kerja hanya dipengaruhi oleh pekerjaan yang menguras tenaga fisik. Padahal, tekanan kerja juga dapat muncul pada pekerjaan yang menuntut konsentrasi tinggi, ketelitian, pengambilan keputusan secara cepat, serta tanggung jawab yang besar. Kondisi tersebut berkaitan dengan beban kerja mental. Faktor ini sering kali kurang disadari di lingkungan kerja.

Mahasiswa Program Studi D-IV Keselamatan dan Kesehatan Kerja Fakultas Vokasi Universitas Airlangga, Arneta Amaliatus Zahra, mengangkat isu mengenai beban kerja mental dan kaitannya dengan stres kerja. Topik ini menjadi semakin relevan. Kesehatan pekerja tidak hanya dipengaruhi oleh bahaya fisik. Kondisi psikologis juga berperan penting dalam menjaga keselamatan dan produktivitas kerja.

Apa Itu Beban Kerja Mental?

Beban kerja mental merupakan tuntutan terhadap kemampuan berpikir selama seseorang melakukan pekerjaan. Aktivitas tersebut meliputi mempertahankan konsentrasi, menganalisis situasi, mengambil keputusan, hingga mengendalikan emosi. Berbeda dengan beban kerja fisik, beban kerja mental melibatkan proses berpikir. Oleh karena itu, kondisi ini sering kali tidak disadari oleh pekerja maupun perusahaan (Tarwaka, 2019).

Beban kerja mental dapat meningkat akibat target pekerjaan yang tinggi. Selain itu, tekanan waktu, tanggung jawab yang besar, pekerjaan yang monoton, maupun sistem kerja shift juga berpengaruh. Apabila kondisi tersebut berlangsung dalam waktu yang lama tanpa diimbangi waktu istirahat yang memadai, risiko munculnya stres kerja dapat meningkat.

Respons Tubuh terhadap Stres Kerja

Stres kerja merupakan respons fisik dan psikologis ketika tuntutan pekerjaan dirasakan melebihi kemampuan seseorang untuk mengatasinya (World Health Organization [WHO], 2021). Saat menghadapi tekanan, otak mengirimkan sinyal kepada tubuh untuk melepaskan hormon adrenalin dan kortisol. Akibatnya, tubuh menjadi lebih waspada.

Respons tersebut bermanfaat dalam jangka pendek karena membantu tubuh menghadapi tantangan. Namun, kondisi ini tidak boleh berlangsung terus-menerus. Peningkatan hormon stres dapat mengganggu kualitas tidur. Selain itu, kondisi tersebut juga dapat meningkatkan tekanan darah, menurunkan daya tahan tubuh, serta memengaruhi kemampuan berkonsentrasi dan mengambil keputusan.

Gejala Stres Kerja

Stres kerja sering berkembang secara perlahan sehingga banyak pekerja tidak menyadari gejalanya. Pada sebagian orang, kondisi ini kerap dianggap sebagai kelelahan akibat rutinitas kerja. Beberapa tanda yang umum dirasakan antara lain mudah lelah, sulit berkonsentrasi, sakit kepala, sulit tidur, mudah marah, merasa cemas, dan kehilangan motivasi dalam bekerja.

Apabila tidak ditangani, stres kerja dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya kesalahan saat bekerja. Kondisi tersebut juga dapat menurunkan produktivitas. Bahkan, risiko kecelakaan kerja dapat meningkat, terutama pada pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi tinggi dan ketelitian.

Faktor yang Meningkatkan Risiko Stres Kerja

Setiap pekerja memiliki risiko mengalami stres kerja. Namun, risiko tersebut cenderung lebih tinggi pada pekerjaan yang membutuhkan fokus dalam waktu lama, ketelitian, pengambilan keputusan secara cepat, serta tanggung jawab yang besar.

Selain karakteristik pekerjaan, lingkungan kerja juga memengaruhi munculnya stres kerja. Hubungan dengan rekan kerja, dukungan organisasi, serta kemampuan seseorang dalam mengelola tekanan turut berperan. Oleh karena itu, pengelolaan faktor psikososial di tempat kerja perlu menjadi perhatian. Lingkungan kerja yang mendukung dapat membantu pekerja menghadapi tuntutan pekerjaan sekaligus mengurangi risiko munculnya stres kerja.

Cara Mencegah Stres Kerja

Pencegahan stres kerja dapat dimulai dengan mengelola beban kerja sesuai kapasitas pekerja. Selain itu, perusahaan perlu menyediakan waktu istirahat yang cukup serta menciptakan lingkungan kerja yang mendukung kesehatan mental.

Perusahaan juga dapat memberikan edukasi mengenai kesehatan psikologis. Pemantauan kondisi mental pekerja secara berkala, penyediaan layanan konseling apabila diperlukan, serta evaluasi beban kerja dapat membantu menjaga tuntutan pekerjaan tetap sesuai dengan kapasitas pekerja.

Di sisi lain, pekerja dapat menjaga kualitas tidur, menerapkan pola hidup sehat, melakukan peregangan atau relaksasi singkat di sela pekerjaan, serta memanfaatkan waktu istirahat secara optimal. Dengan mengenali penyebab, gejala, dan langkah pencegahannya sejak dini, pekerja maupun perusahaan dapat menciptakan lingkungan kerja yang lebih sehat, aman, dan produktif.

[BACA JUGA: Peran Volume Kandung Kemih dalam Meningkatkan Kualitas Visualisasi Uterus pada USG Transabdominal]

***

Penulis: Arneta Amaliatus Zahra

Pembimbing: Indah Lutfiya, S.KM., M.Kes.

Editor: Cheiza Xaviera (Tim Branding Vokasi)