Waspada! Stres Skripsi Picu Nyeri Otot Akibat Academic Burnout

VOKASI NEWS – Fase akhir perkuliahan sering kali menjadi tantangan terberat bagi mahasiswa dalam perjalanan akademisnya. Tuntutan penyelesaian tugas akhir yang kompleks memunculkan tekanan psikologis dan fisik secara bersamaan. Banyak mahasiswa bahkan menghabiskan waktu berjam-jam menyusun draf penelitian dengan postur duduk yang statis di kedai kopi favorit, yang rentan memicu sindrom academic burnout atau kejenuhan akademik. Sindrom tersebut dapat merusak komponen psikologis penting yang menunjang keberhasilan kelulusan mahasiswa.

Menurut Linares et al. (2022), academic burnout berkorelasi negatif dengan efikasi diri, motivasi, dan keterlibatan akademik. Kondisi psikologis yang memburuk ini ternyata memiliki manifestasi fisik yang nyata dan sangat mengganggu. Salah satu dampak fisik yang paling sering muncul adalah myofascial pain. Keluhan ini seringkali berpusat pada area leher, bahu, dan punggung bawah akibat ketegangan otot yang terakumulasi.

Mekanisme Stres Merusak Keseimbangan Otot

Terdapat keterkaitan fisiologis yang sangat erat antara kondisi mental dan respons fisik tubuh. Stres kronis yang dialami mahasiswa memicu aktivasi berkelanjutan pada poros Hypothalamic-Pituitary-Adrenal (HPA) yang meningkatkan produksi hormon kortisol. Menurut studi dari Choksi dan Gokhale (2022), peningkatan kortisol dan aktivitas saraf simpatis ini memicu pelepasan asetilkolin secara berlebihan pada motor end-plate. Proses kimiawi ini memaksa serat otot berkontraksi secara terus-menerus meskipun tubuh dalam kondisi sedang beristirahat.

Kontraksi persisten ini menciptakan area hipereksitabilitas pada otot yang dikenal sebagai myofascial trigger points. Lam et al. (2024) menjelaskan bahwa ketegangan otot yang terus berlangsung menyebabkan kompresi pada kapiler lokal sehingga terjadi iskemia jaringan atau kekurangan suplai oksigen. Akibatnya, produk sisa metabolisme menumpuk dan memicu pelepasan mediator inflamasi yang menimbulkan sensasi nyeri serta kaku.

Fakta Nyeri Otot pada Mahasiswa Tingkat Akhir

Sebuah studi observasional dilakukan terhadap tepat 106 mahasiswa tingkat akhir, Evaluasi kejenuhan akademik diukur menggunakan instrumen Maslach Burnout Inventory-Student Survey (MBI-SS) yang dikembangkan oleh Schaufeli et al. (2020). Sementara itu, pemetaan lokasi dan intensitas nyeri dilakukan menggunakan panduan visual Nordic Body Map (NBM), yang menurut Anjasmara, Tenriwulan, dan Rabbani (2023) terbukti mempermudah responden dalam mengidentifikasi derajat keluhan muskuloskeletal.

Hasil penelitian mengungkap bahwa mayoritas responden mengalami academic burnout dan myofascial pain tingkat sedang. Lokasi keluhan nyeri yang paling dominan dirasakan berada pada area leher bawah dan leher atas. Analisis statistik menemukan adanya hubungan positif yang sangat kuat, yang berarti semakin tinggi tingkat stres akademik yang dirasakan, semakin parah pula keluhan nyeri fisik yang mendera.

Langkah Efektif Mencegah Nyeri Otot

Memutus rantai nyeri psikosomatis ini membutuhkan pendekatan yang menyeluruh secara fisik maupun mental. Manajemen stres akademik menjadi kunci utama, yang dapat dilakukan melalui teknik relaksasi secara rutin. Selain itu, penerapan prinsip ergonomi saat bekerja di depan laptop mutlak diperlukan setiap saat. Melakukan peregangan mandiri (stretching) dan mengambil jeda istirahat aktif (active break) sangat efektif untuk mencegah ketegangan otot.

[BACA JUGA: Mahasiwa UNAIR Dampingi UMKM Lontong Barokah Tingkatkan Tata Kelola Keuangan]

Penulis: Tyas Annisa Rahmadita

Editor: Vioretha (Tim Branding Vokasi)