Implementasi Internet of Things (IoT) pada Smart Board untuk Mendukung Komunikasi Penderita Stroke

Smart board berbasis IoT untuk membantu komunikasi penderita stroke

VOKASI NEWS – Perkembangan teknologi Internet of Things (IoT) telah mendorong berbagai sektor menghadirkan solusi yang lebih responsif dan inklusif, termasuk bidang kesehatan. Salah satu tantangan yang masih dihadapi ialah komunikasi penderita stroke yang mengalami gangguan bicara atau afasia. Menurut National Aphasia Association, lebih dari 30 persen penyintas stroke mengalami afasia sehingga kesulitan menyampaikan kebutuhan dasar kepada keluarga maupun pendamping, terutama ketika berada sendirian.

Pada umumnya, penderita stroke yang mengalami gangguan bicara hanya mengandalkan ekspresi wajah atau gerakan tubuh untuk berkomunikasi. Cara tersebut berpotensi menimbulkan kesalahpahaman, keterlambatan penanganan, hingga risiko kesehatan tambahan, seperti dehidrasi akibat kebutuhan dasar yang tidak segera tersampaikan. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, dikembangkan smart board berbasis IoT yang mampu mengirimkan notifikasi kebutuhan pasien secara real-time kepada keluarga.

Perancangan Smart Board Berbasis IoT

Sistem yang dikembangkan terdiri atas dua perangkat utama, yaitu transmitter dan receiver. Perangkat transmitter berfungsi sebagai media bagi pasien untuk menyampaikan kebutuhan dasar. Sementara itu, receiver berfungsi sebagai keluaran notifikasi berupa suara. Kedua perangkat menggunakan mikrokontroler ESP32 yang terhubung melalui jaringan Wi-Fi.

Perangkat transmitter dilengkapi lima push button yang mewakili kebutuhan dasar pasien, yaitu makan, minum, ke toilet, rasa sakit, dan kondisi darurat. Selain itu, perangkat ini juga dilengkapi baterai rechargeable 18650, battery shield, serta switch sehingga dapat digunakan secara portabel. Adapun receiver terdiri atas ESP32, modul amplifier PAM8403, dan speaker yang mengubah data menjadi keluaran suara.

Mekanisme Kerja Sistem

Komunikasi data antara transmitter, server, dan receiver memanfaatkan server berbasis PHP Laravel serta basis data SQLite. Ketika tombol pada transmitter ditekan, data dikirim menggunakan metode HTTP POST ke server. Selanjutnya, data diteruskan ke aplikasi monitoring KASA dan perangkat receiver melalui metode long polling.

Melalui mekanisme tersebut, sistem mampu mendukung komunikasi antara pasien dan keluarga secara cepat. Notifikasi dapat diterima baik ketika keluarga berada di dalam rumah maupun di luar rumah sehingga kebutuhan pasien dapat segera diketahui.

Hasil Pengujian Sistem

Hasil pengujian menunjukkan bahwa sistem mampu mengirimkan data dengan tingkat keberhasilan mencapai 100 persen. Waktu respons yang dihasilkan berkisar antara 1,3 hingga 2,6 detik. Intensitas suara berada pada rentang 72,65 hingga 73,56 desibel sehingga tetap terdengar jelas di tengah kebisingan lingkungan rumah. Tegangan output yang dihasilkan berkisar antara 2,5 hingga 2,7 volt.

Pengujian konsumsi daya juga menunjukkan hasil yang baik. Baterai rechargeable 18650 berkapasitas 1200 mAh mampu bertahan hingga 8,72 jam pada mode siaga (idle) dan 5,51 jam pada mode aktif. Waktu yang dibutuhkan untuk pengisian penuh sekitar empat jam. Selain itu, uji coba kepada dua penderita stroke berusia 64 dan 74 tahun menunjukkan tingkat keberhasilan penekanan tombol mencapai 100 persen dengan delay sekitar satu detik. Kedua pasien juga mampu mengoperasikan alat secara mandiri menggunakan bantuan pengikat jari sederhana.

Manfaat dan Kontribusi terhadap SDGs

Penerapan smart board berbasis IoT memberikan manfaat langsung bagi penderita stroke karena memungkinkan mereka menyampaikan kebutuhan dasar secara mandiri dan cepat tanpa bergantung sepenuhnya pada kehadiran orang lain. Selain itu, sistem ini memudahkan keluarga memantau kondisi pasien dari jarak jauh sehingga respons terhadap kebutuhan pasien dapat diberikan dengan lebih cepat.

Penelitian ini mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera), melalui peningkatan kualitas hidup penderita stroke. Penelitian ini juga mendukung SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) melalui penerapan teknologi IoT pada layanan home-care. Selain itu, kontribusi terhadap SDG 10 (Berkurangnya Kesenjangan) diwujudkan melalui biaya produksi alat yang relatif terjangkau, yaitu sekitar Rp400.000. Dengan kinerja yang andal, waktu respons yang cepat, serta biaya implementasi yang rendah, smart board berbasis IoT ini berpotensi menjadi solusi komunikasi yang praktis dan inklusif bagi penderita stroke.

[BACA JUGA: Penyelesaian Gugatan Atas Penolakan Keberatan Wajib Pajak]

***

Penulis: Naely Nurul Mustabsyiroh

Editor: Cheiza Xaviera (Tim Branding Vokasi)