VOKASI NEWS – Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi salah satu masalah kesehatan global yang masih menjadi perhatian. Berdasarkan data World Health Organization (WHO), sebanyak 88.593 kasus dengue terkonfirmasi dilaporkan di Indonesia sepanjang tahun 2024. Tingginya jumlah kasus tersebut menunjukkan bahwa DBD masih menjadi tantangan kesehatan di Indonesia. Dalam penatalaksanaannya, pemeriksaan laboratorium berperan penting dalam membantu diagnosis, memantau perkembangan penyakit, serta mendukung pengambilan keputusan klinis.
Masyarakat umumnya mengenal penurunan jumlah trombosit sebagai ciri khas DBD. Namun, selain memantau trombosit, dokter juga dapat mempertimbangkan evaluasi fungsi hati melalui pemeriksaan Serum Glutamic Oxaloacetic Transaminase (SGOT) dan Serum Glutamic Pyruvic Transaminase (SGPT) sesuai kondisi klinis pasien. Pemantauan kedua parameter tersebut penting karena infeksi dengue tidak hanya memengaruhi sistem hematologi, tetapi juga dapat melibatkan organ hati.
Mengapa Fungsi Hati Perlu Dipantau?
Virus dengue tidak hanya menyebabkan penurunan jumlah trombosit, tetapi juga dapat melibatkan organ hati. Saat menginfeksi tubuh, virus dengue memicu respons peradangan yang dapat merusak hepatosit atau sel hati. Kerusakan tersebut menyebabkan enzim SGOT dan SGPT yang semula berada di dalam sel, dilepaskan ke aliran darah sehingga kadarnya meningkat. Oleh karena itu, pemeriksaan kedua enzim tersebut dapat membantu menilai keterlibatan fungsi hati selama infeksi berlangsung.
Gambaran Pemeriksaan Laboratorium pada Pasien DBD
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa SGOT lebih sering mengalami peningkatan dibandingkan dengan SGPT pada pasien DBD. Hal ini berkaitan dengan karakteristik kedua enzim tersebut, karena SGOT tidak hanya terdapat pada hati, tetapi juga pada jaringan lain seperti otot rangka dan otot jantung sehingga lebih mudah meningkat ketika terjadi infeksi. Sebaliknya, SGPT lebih spesifik berada di hati sehingga peningkatannya lebih mencerminkan kerusakan hepatosit.
Selain peningkatan enzim hati, sebagian besar pasien DBD juga mengalami penurunan jumlah trombosit atau trombositopenia akibat gangguan pembentukan trombosit di sumsum tulang, meningkatnya penghancuran trombosit oleh sistem imun, serta peningkatan konsumsi trombosit selama proses inflamasi.
Masing-masing parameter laboratorium memiliki peran yang saling melengkapi dalam evaluasi kondisi pasien. Pemeriksaan trombosit membantu menilai resiko perdarahan, sedangkan enzim SGOT dan SGPT dapat menunjukkan adanya keterlibatan fungsi hati selama masa infeksi. Oleh karena itu, interpretasi hasil pemeriksaan laboratorium secara menyeluruh penting untuk dilakukan agar tenaga kesehatan dapat memperoleh gambaran klinis yang lebih komprehensif dalam memantau perjalanan penyakit serta mendukung pengambilan keputusan klinis.
[BACA JUGA: Teknologi IndoBERT Bantu Konsumen Pilih Tabir Surya Secara Cerdas]
Penulis: Kharin Athiya Ulya
Editor: Vioretha (Tim Branding Vokasi)



