Apa Kata Publik soal Core Tax di Media Sosial?

VOKASI NEWS – Analisis sentimen berbasis AI mengungkap mayoritas opini publik di media sosial X terhadap Core Tax bernada negatif akibat berbagai kendala teknis.

Transformasi digital di sektor perpajakan terus dilakukan pemerintah melalui implementasi Core Tax Administration System (Core Tax). Sistem yang dikembangkan Direktorat Jenderal Pajak (DJP) ini bertujuan mempermudah proses administrasi perpajakan, mulai dari pelaporan hingga pembayaran pajak secara daring. Namun, bagaimana tanggapan masyarakat setelah sistem tersebut diterapkan?

Melalui pemanfaatan kecerdasan buatan, penelitian ini menganalisis 3.000 cuitan di media sosial X yang diunggah pada periode Februari 2024 hingga Mei 2026. Analisis dilakukan untuk mengetahui apakah masyarakat memberikan respons positif, negatif, atau netral terhadap implementasi Core Tax.

Percakapan Masih Terbatas Sebelum Core Tax Diluncurkan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum Core Tax resmi diterapkan, tepatnya pada Januari hingga Agustus 2024, percakapan di media sosial masih relatif sedikit. Dari periode tersebut hanya terkumpul 178 cuitan dengan distribusi sentimen yang cukup berimbang antara positif, negatif, dan netral.

Memasuki masa sosialisasi pada September hingga Desember 2024, jumlah percakapan meningkat menjadi 462 cuitan. Pada tahap ini mulai muncul berbagai keluhan teknis, terutama terkait kesulitan pengguna saat melakukan proses login ke dalam sistem. Meski demikian, intensitas keluhan masih belum terlalu tinggi.

Sentimen Negatif Meningkat Setelah Sistem Beroperasi

Lonjakan percakapan terjadi setelah Core Tax mulai diimplementasikan pada Januari 2025. Hingga Mei 2026, penelitian mengumpulkan sebanyak 2.360 cuitan atau sekitar 78,7 persen dari seluruh data yang dianalisis.

Mayoritas percakapan pada periode ini didominasi sentimen negatif. Pengguna media sosial banyak mengeluhkan server yang sering mengalami gangguan, proses autentikasi yang bermasalah, tampilan antarmuka yang dinilai kurang ramah pengguna, hingga lambatnya respons terhadap kendala yang dihadapi.

Salah satu topik yang paling sering dibahas adalah kesulitan mengakses sistem pada jam-jam sibuk. Banyak pengguna mengaku baru dapat menggunakan layanan pada dini hari ketika jumlah pengguna berkurang. Kondisi tersebut memunculkan berbagai ekspresi frustrasi yang tergambar dalam unggahan mereka di media sosial.

AI Membantu Memahami Opini Masyarakat

Untuk mengolah ribuan data, penelitian ini memanfaatkan model kecerdasan buatan Distilled Bidirectional Encoder Representations from Transformers (DistilBERT). Model tersebut mampu memahami makna dan konteks bahasa. Kemampuan ini memungkinkan sistem mengelompokkan setiap unggahan secara otomatis ke dalam kategori sentimen positif, negatif, atau netral. Hasil pengujian menunjukkan model terbaik mencapai tingkat akurasi sebesar 75,5 persen. Kemampuan mendeteksi sentimen negatif bahkan mencapai lebih dari 80 persen.

Selain mengidentifikasi sentimen, penelitian juga memetakan topik yang paling banyak diperbincangkan masyarakat. Empat isu utama yang mendominasi percakapan meliputi gangguan server, kendala autentikasi atau login, serta masalah pada fitur pelaporan pajak. Percakapan tersebut juga dipenuhi berbagai bentuk frustrasi akibat akumulasi kendala teknis yang dialami pengguna.

Masukan untuk Pengembangan Layanan Perpajakan Digital

Temuan penelitian memberikan gambaran mengenai pengalaman nyata masyarakat dalam menggunakan Core Tax. Digitalisasi layanan perpajakan dinilai sebagai langkah penting untuk meningkatkan efisiensi administrasi, tetapi keberhasilannya juga bergantung pada kesiapan infrastruktur teknologi serta kemudahan penggunaan sistem.

Hasil analisis sentimen ini diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi bagi Direktorat Jenderal Pajak dalam meningkatkan stabilitas sistem, menyempurnakan pengalaman pengguna, serta memperbaiki kualitas layanan digital. Dengan sistem yang lebih andal dan mudah diakses, kepercayaan masyarakat terhadap layanan perpajakan digital diharapkan semakin meningkat sehingga dapat mendukung kepatuhan wajib pajak.

[BACA JUGA: Belajar Merawat Arsip, Menjaga Jejak Organisasi di Balai Diklat Industri Surabaya]

Penulis: Hamid Zuhdi Wijanarko

Pembimbing: Tesa Eranti Putri, S.Kom., M.Kom.

Editor: Alkeshar (Tim Vokasi Branding)