VOKASI NEWS – Pemeriksaan SGOT dan SGPT di Laboratorium Patologi Klinik RSPAL dr. Ramelan Surabaya menyoroti pentingnya deteksi dini gangguan fungsi hati pada pasien hepatitis akut. Selama kegiatan magang yang berlangsung pada 4 Agustus hingga 20 September 2025, ditemukan peningkatan enzim hati yang konsisten. Temuan tersebut semakin menguatkan arah diagnosis klinis.
RSPAL dr. Ramelan Surabaya dikenal sebagai rumah sakit TNI Tingkat I sekaligus pusat rujukan pasien TNI terbesar di wilayah Indonesia bagian Timur. Di laboratorium rumah sakit ini, pemeriksaan kimia klinik telah terintegrasi dengan sistem informasi laboratorium. Dengan demikian, hasil pemeriksaan dapat diperoleh secara cepat, akurat, dan mudah ditelusuri.
Alur Pemeriksaan Sampel
Sampel darah vena pasien diterima menggunakan tabung Serum Separator Tube. Selanjutnya, sampel diproses melalui sentrifugasi untuk memisahkan serum dari sel darah. Setelah itu, kondisi serum diperiksa terlebih dahulu guna memastikan kelayakan sampel sebelum dianalisis.
Blanko permintaan pemeriksaan kemudian diverifikasi dan dipindai ke dalam sistem. Setelah seluruh data sesuai, sampel memasuki tahap pemeriksaan berikutnya. Proses tersebut dilakukan untuk menjaga ketepatan identifikasi sampel.
Pemeriksaan SGOT dan SGPT dilakukan menggunakan alat SAL 6000 yang menggabungkan pemeriksaan kimia klinik dan imunoserologi. Sampel ditempatkan pada rak khusus, kemudian alat bekerja secara otomatis setelah perintah dijalankan. Selanjutnya, hasil pemeriksaan harus melalui tahap verifikasi dan validasi agar mutu informasi laboratorium tetap terjaga.
Temuan Kasus Pasien
Kasus yang diamati melibatkan pasien laki-laki berusia 31 tahun dengan riwayat hepatitis akut dan gastroenteritis bakteri. Pasien datang dengan keluhan diare, mual, muntah, nyeri ulu hati, sesak napas, serta nyeri kepala. Meskipun telah mendapatkan terapi sebelumnya, kondisi pasien belum menunjukkan perbaikan.
Oleh karena itu, pemeriksaan laboratorium dilakukan secara berulang untuk memantau perkembangan kerusakan hati. Pemantauan tersebut membantu tenaga medis melihat perubahan kondisi pasien dari waktu ke waktu.
Hasil pemeriksaan menunjukkan tren peningkatan yang jelas. Pada rumah sakit rujukan, nilai SGOT tercatat 106 U/L dan SGPT 273 U/L pada 9 Agustus 2025. Selanjutnya, nilai tersebut meningkat menjadi 195 U/L dan 398 U/L pada 10 Agustus 2025. Saat diperiksa di RSPAL dr. Ramelan pada 11 Agustus 2025, nilai SGOT mencapai 315 U/L dan SGPT 573 U/L. Angka tersebut jauh melebihi nilai rujukan 0–50 U/L. Bahkan, berbagai literatur menyebutkan bahwa peningkatan SGOT dan SGPT sering dikaitkan dengan kerusakan sel hati akibat hepatitis virus.
Arti Klinis Hasil
Kenaikan enzim hati selama tiga hari berturut-turut menunjukkan adanya proses kerusakan hati yang masih aktif. Oleh karena itu, kondisi tersebut memerlukan perhatian medis yang serius. Pola tersebut juga selaras dengan penjelasan ilmiah mengenai peningkatan enzim transaminase saat sel hati mengalami peradangan atau nekrosis.
Dengan demikian, pemeriksaan SGOT dan SGPT tidak hanya menghasilkan angka laboratorium. Hasil tersebut juga menjadi dasar penting untuk menilai perkembangan penyakit dan efektivitas terapi yang diberikan kepada pasien.
Selain itu, evaluasi kasus ini menegaskan bahwa ketelitian laboratorium memegang peranan besar dalam menjaga mutu hasil pemeriksaan. Tahap praanalitik, analitik, dan pascaanalitik harus dilakukan secara disiplin agar hasil pemeriksaan benar-benar mencerminkan kondisi pasien. Dalam kasus hepatitis akut, ketepatan hasil laboratorium dapat membantu tenaga medis menentukan langkah penanganan yang paling sesuai.
[BACA JUGA: Kayu Manis: Rempah Dapur yang Berpotensi Jadi Solusi Alami untuk Jerawat]
***
Penulis: Marsyifa Putri Naura Raudah
Pembimbing: Erlinda Widyastuti
Editor: Cheiza Xaviera (Tim Branding Vokasi)



