AI Tingkatkan Kualitas Penulisan Ilmiah Mahasiswa

AI Tingkatkan Kualitas Penulisan Ilmiah Mahasiswa

VOKASI NEWS – Artificial Intelligence (AI) semakin berperan dalam mendukung berbagai aktivitas akademik, mulai dari pencarian referensi hingga penyusunan naskah ilmiah. Namun, penggunaan AI juga memunculkan pertanyaan mengenai batas pemanfaatannya agar tetap menjaga kualitas serta integritas akademik. Topik tersebut menjadi pembahasan utama dalam seminar “ASCEND 2026: AI for Academic Excellence – Enhancing Scholarly Writing and Publication Readiness through Collaboration with The University of Melbourne” yang diselenggarakan oleh Airlangga Global Engagement (AGE), Universitas Airlangga.

Haeun Kim Bahas AI dalam Penulisan Akademik

Seminar menghadirkan Haeun Kim, PhD, Lecturer in Applied Linguistics dari School of Languages and Linguistics, The University of Melbourne, sebagai pembicara utama. Kegiatan ini dimoderatori oleh Samuel dan diikuti oleh mahasiswa, dosen, serta sivitas akademika yang ingin memperdalam pemahaman mengenai pemanfaatan AI dalam penulisan akademik dan publikasi ilmiah.

Pentingnya Keterampilan Menyusun Prompt AI

Dalam pemaparannya, Haeun Kim menjelaskan bahwa AI, khususnya ChatGPT, kini banyak dimanfaatkan untuk membantu proses penulisan. Akan tetapi, hasil yang diberikan AI sangat bergantung pada prompt atau instruksi yang digunakan. Melalui penelitian yang memanfaatkan 30 esai argumentatif dari International Corpus of Learner English (ICLE) dengan GPT-4 API, ditemukan bahwa prompt seperti proofread this atau check grammar hanya menghasilkan perbaikan pada aspek tata bahasa dan ejaan. Sementara itu, prompt seperti revise this atau rewrite this menghasilkan perubahan yang lebih menyeluruh terhadap isi dan struktur tulisan. Temuan tersebut menunjukkan bahwa kemampuan menyusun prompt menjadi keterampilan penting dalam memanfaatkan AI secara efektif.

Keterbatasan AI dalam Mengevaluasi Tulisan Akademik

Selain membahas teknik prompting, seminar juga mengulas kemampuan AI dalam mengevaluasi tulisan akademik. Berdasarkan penelitian yang membandingkan penilaian ChatGPT terhadap esai English Placement Test (EPT) di Iowa State University dengan penilaian manusia, AI dinilai cukup akurat dalam mengidentifikasi kesalahan tata bahasa, ejaan, dan pilihan kosakata. Namun, AI masih memiliki keterbatasan dalam menilai kualitas argumentasi, organisasi ide, koherensi, serta kedalaman analisis. Oleh karena itu, AI sebaiknya digunakan sebagai alat bantu, sedangkan proses evaluasi akhir tetap memerlukan pertimbangan manusia.

Keterbatasan AI dalam Mengevaluasi Tulisan Akademik

Pembahasan berikutnya menyoroti perkembangan multimodal AI yang mampu memproses teks, gambar, audio, hingga video secara bersamaan. Teknologi ini dinilai memiliki potensi besar untuk mendukung pembelajaran bahasa melalui aktivitas yang lebih interaktif. Aktivitas tersebut mencakup latihan berbicara, mendengarkan, serta pemberian umpan balik yang lebih komprehensif.

Mendorong Penggunaan AI secara Bertanggung Jawab

Sesi diskusi berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan dari peserta mengenai penggunaan AI secara bertanggung jawab. Salah satu peserta menanyakan bagaimana mahasiswa dapat memanfaatkan AI tanpa kehilangan kemampuan berpikir kritis dan menulis secara mandiri. Menanggapi hal tersebut, Haeun Kim menekankan bahwa AI seharusnya menjadi pendukung proses belajar, bukan pengganti kemampuan akademik seseorang. Mahasiswa tetap perlu memahami materi, menyusun argumen, serta melakukan evaluasi terhadap setiap hasil yang diberikan AI.

AI Membawa Tantangan Baru bagi Publikasi Ilmiah

Peserta juga menanyakan dampak AI terhadap publikasi ilmiah. Menurut Haeun Kim, AI memang membantu penulis, terutama mereka yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa kedua, dalam meningkatkan kualitas bahasa dan mempercepat proses penulisan. Namun, kemudahan tersebut juga meningkatkan jumlah naskah yang dikirimkan ke jurnal ilmiah sehingga editor dan reviewer menghadapi tantangan lebih besar dalam menjaga mutu publikasi.

Memilih Platform AI Sesuai Kebutuhan Akademik

Menutup sesi seminar, Haeun Kim menyampaikan bahwa tidak ada satu platform AI yang paling unggul untuk seluruh kebutuhan akademik. Mahasiswa dan peneliti disarankan mencoba berbagai platform, seperti ChatGPT, Gemini, Claude, maupun Llama, kemudian memilih yang paling sesuai dengan tujuan penggunaannya. Melalui kolaborasi antara Universitas Airlangga dan The University of Melbourne, seminar ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman sivitas akademika. Pemahaman tersebut mencakup pemanfaatan AI secara etis, kritis, dan bertanggung jawab. Dengan demikian, sivitas akademika dapat menghasilkan karya ilmiah yang berkualitas. Karya ilmiah tersebut diharapkan mampu bersaing di tingkat internasional.

[BACA JUGA: Transformasi Kampung Adat Segunung melalui Penguatan Wisata dan Ekonomi Kreatif]

Penulis: Samuel

Editor: Aghnia Faizatus (Tim Branding Vokasi)