VOKASI NEWS – Stres tidak hanya memengaruhi suasana hati, tetapi juga dapat memicu gangguan pencernaan yang dikenal sebagai dispepsia. Kondisi ini banyak dialami perempuan usia produktif akibat tekanan akademik maupun sosial yang terus-menerus. Sebuah penelitian dari Program Studi Sarjana Terapan Pengobat Tradisional, Fakultas Vokasi, Universitas Airlangga, mengangkat topik ini. Penelitian tersebut menemukan bahwa terapi akupresur pada tiga titik daun telinga mampu menurunkan tingkat stres pada penderita dispepsia secara signifikan.
Data World Health Organization (WHO) mencatat prevalensi dispepsia di dunia mencapai 15 hingga 30 persen setiap tahun. Sementara itu, di Surabaya angkanya tercatat sebesar 31,2 persen. Di sisi lain, Kementerian Kesehatan RI pada 2019 melaporkan 36,7 hingga 71,6 persen mahasiswa Indonesia mengalami stres akademik. Angka kejadian stres pada perempuan pun tercatat lebih tinggi dibandingkan laki-laki. Tingginya prevalensi kedua kondisi ini mendorong perlunya alternatif terapi yang aman dan mudah diakses.
Penelitian yang dilakukan Rifda Shofia Febriana ini menggunakan metode true experimental dengan desain pretest-posttest control group. Sebanyak 34 responden perempuan berusia 18-25 tahun di Surabaya dibagi menjadi kelompok perlakuan dan kelompok kontrol, masing-masing 17 orang. Seluruh responden merupakan wanita yang mengalami gangguan stres dengan skala sedang berdasarkan skor PSS-10. Responden juga mengalami gejala dispepsia skala sedang yang diukur dengan skor SF-LDQ.
Tiga Titik di Telinga sebagai Kunci Terapi
Kelompok perlakuan menerima terapi auriculopressure menggunakan biji Vaccaria yang ditempelkan pada titik Lambung, Hati, dan Shenmen di daun telinga. Penekanan dilakukan tiga kali sehari, yaitu pagi, siang, dan malam, selama 14 hari berturut-turut. Sementara itu, kelompok kontrol hanya menerima penempelan plaster tanpa biji dan tanpa penekanan pada titik yang sama.
Ketiga titik tersebut dipilih karena perannya dalam pengobatan tradisional Tiongkok atau Traditional Chinese Medicine (TCM). Titik Lambung berfungsi mengharmonisasikan proses pencernaan. Titik Hati berperan mengatasi stagnasi Qi dan menenangkan emosi, sedangkan titik Shenmen dikenal efektif meredakan kecemasan dan menenangkan pikiran. Rangsangan pada permukaan telinga dipercaya dapat menyalurkan efek terapeutik ke organ tubuh yang berhubungan melalui jaringan meridian.
Skor Stres Turun Signifikan Setelah Dua Minggu
Tingkat stres responden diukur menggunakan kuesioner Perceived Stress Scale atau PSS-10. Instrumen baku ini lazim digunakan untuk menilai persepsi stres seseorang, dan diisi sebelum serta sesudah masa terapi. Hasil uji Paired Sample T-test menunjukkan skor PSS-10 kelompok perlakuan turun dari rerata 23,35 menjadi 15,82 dengan nilai signifikansi kurang dari 0,001. Sebaliknya, kelompok kontrol tidak menunjukkan perubahan bermakna, dengan nilai signifikansi 0,400.
“Penurunan skor PSS-10 pada kelompok yang menerima penekanan aktif menunjukkan bahwa rangsangan pada titik Lambung, Hati, dan Shenmen benar-benar memberi efek menenangkan, bukan sekadar efek plaster yang ditempelkan,” ujar Rifda Shofia Febriana. Hasil uji Independent Sample T-test turut memperkuat temuan ini, dengan perbedaan skor yang signifikan antara kedua kelompok setelah intervensi.
Berpotensi Jadi Terapi Komplementer yang Aman
Secara fisiologis, penekanan pada titik auricular diketahui merangsang ujung saraf yang terhubung dengan otak melalui cabang saraf vagus. Rangsangan ini memicu pelepasan hormon serotonin dan endorfin yang memberi efek rileks. Sementara dari sudut pandang TCM, penekanan tersebut membantu memperlancar aliran Qi yang tersumbat akibat stres, sehingga fungsi Hati dan Lambung kembali seimbang.
Terapi ini dinilai memiliki keunggulan karena sifatnya yang non-invasif, mudah diterapkan, dan minim risiko. Karena itu, terapi ini berpotensi menjadi pilihan terapi komplementer bagi penderita dispepsia yang berkaitan dengan stres. Meski demikian, penelitian ini masih memiliki keterbatasan. Pengukuran stres hanya bersumber dari kuesioner self-report tanpa didukung biomarker objektif seperti kadar kortisol. Oleh karena itu, penelitian lanjutan dengan durasi lebih panjang dan kombinasi terapi lain seperti herbal maupun pijat masih perlu dilakukan.
[BACA JUGA: Screen Time Tinggi, Kebugaran Menurun? Hubungan Screen Time dengan VO₂Max pada Mahasiswa]
Penulis: Rifda Shofia Febriana
Pembimbing: Rini Hamsidi, Wurlina
Editor: Nadya Tika (Tim Branding Vokasi)



