VOKASI NEWS – Industri peleburan logam merupakan salah satu sektor manufaktur dengan risiko lingkungan kerja yang ekstrem. Proses produksinya melibatkan pencairan bahan baku menggunakan tungku (furnace). Proses pencairan tersebut dilakukan dengan suhu operasional yang melampaui 1.300°C. Kondisi ini memancarkan radiasi panas tinggi secara konstan ke lingkungan sekitar pekerja. Berdasarkan laporan International Labour Organization (ILO), panas berlebih di tempat kerja menjadi ancaman global. Ancaman tersebut memicu jutaan cedera dan ribuan kematian setiap tahunnya.
Di PT X, aktivitas peleburan, pemanasan, dan penuangan logam cair (pouring) memiliki risiko khusus. Aktivitas tersebut dikategorikan memiliki risiko medium hingga tinggi terhadap keselamatan dan kesehatan kerja. Paparan suhu tinggi yang berpadu dengan kelembapan udara serta aktivitas fisik kontinu dapat membebani pekerja. Beban kerja tersebut menyerang sistem pengaturan suhu tubuh atau termoregulasi pekerja. Kondisi terjadi ketika tubuh menerima beban termal melebihi batas kemampuan alaminya. Tubuh kesulitan membuang panas melalui keringat dan sirkulasi darah. Akibatnya, timbullah respons fisiologis akut berupa heat strain.
Gejala seperti pusing, dehidrasi, lemas, hingga penurunan konsentrasi dapat muncul. Gejala tidak hanya mengancam kesehatan pekerja tetapi juga meningkatkan peluang kecelakaan kerja. Peningkatan peluang terjadinya kecelakaan kerja tersebut terjadi secara signifikan. Oleh karena itu, kajian dilakukan untuk menganalisis hubungan iklim kerja panas dan beban kerja fisik. Analisis dihubungkan dengan tingkat heat strain pada pekerja shift 1 area peleburan logam PT X.
Metode dan Hasil Pengukuran Lapangan
Kajian menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Evaluasi dilakukan terhadap 81 pekerja shift 1 di area produksi peleburan logam PT X. Evaluasi iklim kerja panas diukur secara objektif menggunakan WBGT Meter. Pengukuran tersebut mengacu pada Peraturan Menteri Ketenagakerjaan No. 5 Tahun 2018. Pengukuran beban kerja fisik dievaluasi melalui observasi aktivitas sesuai SNI 7269:2009. Sementara itu, tingkat heat strain diukur menggunakan kuesioner Heat Strain Score Index (HSSI).
Hasil pengukuran lapangan menunjukkan bahwa sebagian besar area kerja memiliki suhu ekstrem. Sebanyak 42 pekerja (51,9%) terpapar iklim kerja panas melebihi Nilai Ambang Batas (NAB). Batas tersebut merupakan standar yang dipersyaratkan oleh regulasi. Berdasarkan beban kerja fisik, sebaran pekerja didominasi kategori ringan dan sedang. Masing-masing kategori tersebut berjumlah sebanyak 39 pekerja (48,1%). Sementara itu, sisanya sebanyak 3 pekerja (3,7%) berada pada kategori beban kerja berat.
Mengenai tingkat ketegangan panas, mayoritas responden didominasi oleh kategori heat strain berat. Jumlah responden tersebut yaitu sebanyak 44 pekerja (54,3%). Melalui uji statistik korelasi Spearman Rank, ditemukan hubungan positif yang signifikan. Hubungan terjadi antara iklim kerja panas dengan tingkat heat strain (p=0,005; r=0,310). Selain itu, terdapat pula hubungan positif yang signifikan antara beban kerja fisik dengan kejadian heat strain (p=0,003; r=0,326). Namun, karakteristik individu seperti usia (p=0,193) dan masa kerja (p=0,343) tidak menunjukkan hubungan signifikan. Pemenuhan air minum (p=0,728) juga tidak menunjukkan hubungan yang signifikan dengan heat strain.
Analisis Dampak Fisiologis dan Solusi Tempat Kerja
Tingginya angka kejadian heat strain berat (54,3%) pada pekerja shift 1 berkaitan erat dengan kontribusi ganda. Kontribusi berasal dari faktor eksternal lingkungan dan internal tubuh. Paparan panas radiasi langsung dari logam cair dan furnace memaksa pembuluh darah kulit melebar. Pelebaran bertujuan demi mengalirkan panas ke permukaan tubuh. Di saat bersamaan, tuntutan aktivitas fisik membelah fokus curah jantung (cardiac output). Pembelahan fokus berfungsi untuk memasok oksigen ke otot-otot yang bergerak aktif.
Kombinasi inilah yang memicu kompetisi aliran darah di dalam sistem kardiovaskular pekerja. Ketika jantung harus bekerja ekstra keras memenuhi kedua kebutuhan dalam durasi lama, akumulasi panas meningkat progresif. Hubungan positif pada hasil uji statistik membuktikan sebuah fenomena linear. Setiap peningkatan intensitas suhu lingkungan dan beratnya aktivitas fisik akan memperparah tingkat heat strain. Meskipun PT X telah melakukan mitigasi melalui alat bantu mekanis, beban termal masih memerlukan perbaikan komprehensif.
Kesimpulannya, terdapat hubungan positif yang signifikan dengan tingkat kekuatan sedang. Hubungan terjadi antara iklim kerja panas dan beban kerja fisik terhadap kejadian heat strain. Fenomena ini ditemukan pada pekerja shift 1 area peleburan logam PT X. Semakin ekstrem paparan suhu lingkungan kerja dan semakin berat beban aktivitas fisik, risiko ketegangan panas semakin tinggi.
Sebagai saran, perusahaan direkomendasikan menerapkan pengendalian teknis. Pengendalian berupa pemasangan lembaran reflektif aluminium di sekeliling tungku. Selain itu, perlu dilakukan optimalisasi sistem ventilasi mekanis seperti blower dan exhaust fan. Secara administratif, pemantauan berkala indikator suhu WBGT perlu dijalankan. Perusahaan juga perlu mengadakan edukasi berkala melalui safety talk. Penyediaan fasilitas drinking station yang higienis juga penting untuk menjaga hidrasi pekerja.
[BACA JUGA: Menerima SP2DK Karena Ketidaksesuaian Pelaporan? Simak Alur Penyelesaiannya!]
Penulis: Faridhatul Qoimah
Pembimbing: Indah Lutfiya
Editor: Nawal Eka Paramita (Tim Vokasi Branding)



