VOKASI NEWS – Operator yang bertugas di Central Control Room (CCR) pembangkit listrik menghadapi tekanan kerja yang tidak ringan setiap hari. Selama 24 jam penuh, operator CCR memantau dan mengendalikan sistem kelistrikan melalui layar monitor, serta mengambil keputusan secara cepat setiap kali terjadi gangguan pada sistem kelistrikan yang dipantau. Sistem kerja shift yang bergilir turut mengganggu ritme sirkadian tubuh sehingga risiko kelelahan psikologis pada operator ikut meningkat. Fenomena kelelahan psikologis akibat stres kerja kronis dikenal luas dengan istilah burnout, yang apabila tidak ditangani dapat menurunkan semangat serta kinerja pekerja.
Fenomena burnout menjadi perhatian di berbagai negara. Indonesia bahkan menempati peringkat keenam dengan tingkat burnout tertinggi di dunia dengan skor indeks mencapai 5,29. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh jam kerja yang panjang, kurangnya waktu tidur, serta tekanan pekerjaan yang intens (Aprillia et al., 2025). Situasi tersebut melatarbelakangi penelitian mengenai hubungan antara burnout dan motivasi kerja pada operator CCR di PT X.
Metode Penelitian
Penelitian menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Seluruh operator CCR shift pagi yang berjumlah 28 orang dilibatkan sebagai responden melalui teknik sampling jenuh. Tingkat burnout diukur menggunakan instrumen Maslach Burnout Inventory-Human Services Survey (MBI-HSS), sedangkan motivasi kerja diukur menggunakan Multidimensional Work Motivation Scale (MWMS). Hubungan antara kedua variabel dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman Rank karena data bersifat ordinal dengan jumlah sampel yang relatif kecil.
Tingkat Burnout dan Motivasi Kerja Operator
Hasil penelitian menunjukkan lebih dari separuh responden, yaitu 15 orang (53,6%), berada pada kategori burnout rendah, sedangkan 13 orang (46,4%) berada pada kategori sedang. Tidak ditemukan responden dengan kategori burnout tinggi. Pada dimensi depersonalisasi, sebagian operator mulai menunjukkan kecenderungan menjaga jarak secara emosional terhadap lingkungan kerja, meskipun secara umum kategori rendah masih mendominasi.
Pada aspek motivasi kerja, tidak terdapat responden dengan kategori rendah. Sebanyak 15 orang (53,6%) berada pada kategori sedang, sedangkan 13 orang (46,4%) berada pada kategori tinggi. Hasil tersebut menunjukkan bahwa motivasi yang tumbuh karena pekerjaan dirasakan bermakna dan memberikan kepuasan pribadi lebih dominan dibandingkan motivasi yang didorong oleh faktor imbalan materi.
Burnout Berkorelasi Signifikan dengan Motivasi Kerja
Bagian utama penelitian ini terdapat pada hasil uji korelasi Spearman Rank yang menunjukkan nilai koefisien rs = -0,433 dengan nilai signifikansi p = 0,021 (p < 0,05). Hasil tersebut membuktikan adanya hubungan negatif yang signifikan antara burnout dan motivasi kerja dengan kekuatan hubungan yang tergolong sedang. Semakin tinggi tingkat burnout yang dialami operator CCR, semakin rendah motivasi kerja yang dimiliki. Sebaliknya, semakin rendah burnout, semakin tinggi motivasi kerja operator.
“Hasil penelitian menunjukkan bahwa performa operator CCR tidak hanya ditentukan oleh keterampilan teknis, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh kondisi psikologis selama bekerja. Oleh karena itu, upaya menjaga kesehatan mental pekerja perlu menjadi bagian dari strategi perusahaan dalam mempertahankan motivasi kerja dan keselamatan operasional,” ujar Aulia Gita Prameswari.
Implikasi bagi Keselamatan Kerja
Temuan ini memiliki relevansi langsung terhadap penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di sektor ketenagalistrikan. Burnout yang tidak tertangani berpotensi menurunkan kewaspadaan, konsentrasi, dan fungsi kognitif operator. Pada pekerjaan berisiko tinggi seperti pengendalian sistem kelistrikan, kondisi tersebut dapat meningkatkan peluang terjadinya kesalahan kerja. Dampaknya dapat mengancam keselamatan pekerja maupun keandalan sistem.
Perusahaan disarankan memperhatikan kesehatan mental melalui program promosi kesehatan, seperti layanan konseling psikologis dan pelatihan manajemen stres. Kegiatan yang memperkuat hubungan sosial antaroperator juga perlu dikembangkan. Upaya tersebut diharapkan mampu menekan tingkat burnout sekaligus mempertahankan motivasi kerja sehingga keselamatan pekerja dan keandalan sistem ketenagalistrikan dapat terus terjaga.
[BACA JUGA: Mengenal Obat Berdasarkan Sistem Tubuh]
Penulis: Aulia Gita Prameswari
Pembimbing: Dr. Neffrety Nilamsari, S.Sos., M.Kes
Editor: Vioretha (Tim Branding Vokasi)



