VOKASI NEWS – Penggunaan komputer telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari aktivitas sehari-hari, terutama di lingkungan kerja. Berbagai pekerjaan administratif, pengolahan data, hingga komunikasi digital kini dilakukan menggunakan komputer atau laptop. Namun, penggunaan perangkat tersebut dalam jangka waktu lama juga dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan mata yang dikenal sebagai Computer Vision Syndrome (CVS).
Computer Vision Syndrome (CVS) merupakan sekumpulan gejala gangguan penglihatan dan ketidaknyamanan pada mata akibat penggunaan komputer dalam waktu yang lama. Gejala yang umum dirasakan meliputi mata lelah, mata kering, mata terasa panas, mata terasa nyeri, sakit kepala, hingga nyeri yang menjalar ke leher dan bahu. Apabila tidak ditangani dengan tepat, kondisi tersebut dapat menurunkan produktivitas kerja sekaligus memengaruhi kesejahteraan fisik pekerja.
Berangkat dari kondisi tersebut, mahasiswa Program Studi D4 Keselamatan dan Kesehatan Kerja Fakultas Vokasi Universitas Airlangga melakukan penelitian mengenai hubungan Computer Vision Syndrome (CVS) dengan durasi penggunaan komputer serta kondisi pencahayaan di ruang kerja. Penelitian dilaksanakan pada tahun 2026 di salah satu perusahaan di Sidoarjo, Jawa Timur. Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi dasar dalam menyusun upaya pencegahan CVS di lingkungan kerja.
Durasi Penggunaan Komputer dan Pencahayaan Memengaruhi Risiko CVS
Pekerjaan perkantoran menuntut penggunaan komputer secara intensif untuk menyelesaikan berbagai aktivitas. Durasi penggunaan komputer yang panjang tanpa jeda dapat meningkatkan ketegangan otot mata karena mata terus-menerus berfokus pada jarak dekat. Selain itu, kondisi pencahayaan ruangan juga berperan penting dalam menjaga kenyamanan mata selama bekerja.
Pencahayaan yang terlalu redup maupun terlalu terang dapat menimbulkan silau dan kontras berlebihan antara layar dengan lingkungan sekitar. Akibatnya, mata bekerja lebih keras sehingga risiko munculnya keluhan Computer Vision Syndrome semakin meningkat.
Penelitian dilakukan terhadap seluruh karyawan perusahaan menggunakan kuesioner CVS-Q untuk mengukur keluhan kelelahan mata. Selain itu, peneliti juga mengukur intensitas pencahayaan ruangan menggunakan luxmeter. Pemilihan lokasi penelitian didasarkan pada tingginya intensitas penggunaan komputer di lingkungan kerja tersebut sehingga risiko terjadinya CVS dinilai cukup tinggi untuk diteliti.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar karyawan yang menggunakan komputer dalam durasi panjang mengalami keluhan CVS positif. Selain itu, kondisi pencahayaan ruangan yang belum sesuai standar turut berkontribusi terhadap munculnya keluhan tersebut. Temuan ini menunjukkan bahwa durasi penggunaan komputer dan pencahayaan ruangan merupakan dua faktor yang saling berkaitan dalam menjaga kesehatan mata pekerja.
Langkah Pencegahan Computer Vision Syndrome
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pencegahan Computer Vision Syndrome perlu dilakukan melalui beberapa langkah sederhana di lingkungan kerja. Salah satunya ialah memberikan waktu istirahat bagi mata secara teratur selama menggunakan komputer. Karyawan dianjurkan menerapkan metode 20-20-20, yaitu mengalihkan pandangan dari layar setiap 20 menit dengan melihat objek sejauh 20 kaki selama 20 detik. Cara tersebut memberikan kesempatan bagi otot mata untuk beristirahat dari ketegangan akibat menatap layar secara terus-menerus.
Selain itu, penggunaan perangkat lunak pengingat waktu istirahat dapat membantu pekerja membangun kebiasaan tersebut. Perusahaan juga perlu memperhatikan kondisi pencahayaan ruang kerja. Penggantian lampu yang sudah redup dengan lampu LED sesuai standar Nilai Ambang Batas (NAB) serta penambahan lampu pada area yang masih kurang terang dapat membantu menciptakan pencahayaan yang lebih merata.
Pengadaan kacamata antiradiasi yang disesuaikan dengan kondisi penglihatan masing-masing karyawan juga direkomendasikan sebagai bentuk perlindungan individu. Berbagai langkah tersebut diharapkan mampu mengurangi risiko keluhan Computer Vision Syndrome pada pekerja yang menggunakan komputer dalam aktivitas sehari-hari.
Membangun Lingkungan Kerja yang Lebih Sehat
Pencegahan Computer Vision Syndrome tidak hanya bergantung pada kebiasaan pekerja, tetapi juga memerlukan dukungan dari lingkungan kerja. Kesadaran perusahaan terhadap pentingnya ergonomi visual menjadi salah satu faktor yang berperan dalam menjaga kesehatan mata karyawan.
Melalui penelitian ini, mahasiswa Program Studi D4 Keselamatan dan Kesehatan Kerja Fakultas Vokasi Universitas Airlangga turut memberikan kontribusi dalam pengembangan upaya pencegahan Computer Vision Syndrome di lingkungan kerja. Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi dasar dalam meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya menjaga kesehatan mata sehingga produktivitas kerja tetap terpelihara tanpa mengabaikan keselamatan dan kesehatan pekerja.
[BACA JUGA: Mahasiswa Vokasi UNAIR Teliti Kesiapsiagaan Masyarakat Hadapi Gigitan Ular]
Penulis: Athifah Ari Sausan Nabila
Pembimbing: Indah Lutfiya
Editor: Cheiza Xaviera (Tim Branding Vokasi)



