VOKASI NEWS – Aktivitas di pelabuhan menuntut pekerja untuk selalu sigap dalam mengawasi proses bongkar muat. Tanggung jawab tersebut membuat chief foreman dan foreman bekerja dengan tingkat konsentrasi yang tinggi. Apabila berlangsung terus-menerus, kondisi tersebut dapat memicu kelelahan kerja yang berdampak pada penurunan kinerja.
Kelelahan kerja menjadi salah satu persoalan penting dalam keselamatan dan kesehatan kerja (K3). Selain memengaruhi produktivitas, kondisi ini juga meningkatkan risiko terjadinya kesalahan kerja dan kecelakaan di lingkungan pelabuhan.
Kelelahan Kerja Berdampak pada Produktivitas
Menurut Tarwaka (2019), kelelahan kerja merupakan mekanisme alami tubuh untuk melindungi individu dari beban kerja yang berlebihan. Kondisi ini ditandai dengan menurunnya kemampuan fisik dan mental, berkurangnya konsentrasi, serta melambatnya waktu reaksi.
Pekerja yang mengalami kelelahan cenderung kehilangan fokus ketika menjalankan tugas. Stamina tubuh juga menurun sebelum jam kerja berakhir. Apabila tidak segera dikendalikan, kondisi tersebut dapat mengurangi produktivitas sekaligus meningkatkan risiko kecelakaan kerja.
Beban Kerja Tinggi Memicu Kelelahan
Chief foreman dan foreman memiliki tanggung jawab besar dalam operasional pelabuhan. Mereka mengawasi proses bongkar muat, mengoordinasikan tenaga kerja, berkomunikasi dengan pihak kapal, hingga menyelesaikan dokumen operasional.
Selain beban kerja yang tinggi, pekerja juga menjalani sistem shift bergilir dan terpapar panas matahari dalam waktu yang lama. Faktor lingkungan, seperti kebisingan dan tekanan pekerjaan, turut meningkatkan risiko kelelahan.
Tarwaka (2019) menjelaskan bahwa kelelahan kerja dipengaruhi oleh berbagai faktor. Beban kerja berlebih, kondisi lingkungan, tekanan psikologis, pola makan yang kurang baik, serta waktu istirahat yang tidak memadai dapat memperburuk kondisi pekerja.
Penelitian Temukan Hubungan dengan Kinerja
Penelitian terhadap chief foreman dan foreman di Terminal Jamrud menunjukkan adanya hubungan antara kelelahan kerja dan kinerja pekerja. Semakin tinggi tingkat kelelahan yang dialami, semakin rendah pula kinerja yang ditunjukkan. Penurunan konsentrasi, kewaspadaan, dan motivasi membuat pekerja kurang optimal dalam menjalankan tugasnya.
Temuan tersebut sejalan dengan Job Demands-Resources Model yang dikembangkan oleh Bakker dan Demerouti (2007). Model tersebut menjelaskan bahwa tuntutan pekerjaan yang tinggi tanpa dukungan sumber daya yang memadai dapat menguras energi pekerja secara bertahap.
Kondisi tersebut dikenal sebagai proses strain. Apabila berlangsung terus-menerus, strain dapat berkembang menjadi kelelahan fisik, mental, maupun emosional. Dampaknya terlihat pada menurunnya produktivitas serta meningkatnya risiko kesalahan kerja.
Pengendalian Kelelahan Perlu Dilakukan
Pengendalian kelelahan kerja perlu dilakukan secara menyeluruh. Perusahaan dapat menyederhanakan proses administrasi yang berulang dan memanfaatkan sistem digital untuk mendukung operasional. Pemanfaatan teknologi pemantauan juga dapat mengurangi intensitas pekerjaan di lapangan. Selain itu, perusahaan perlu menyediakan ruang istirahat yang memadai, melakukan pemeriksaan kesehatan berkala, memberikan edukasi gizi kerja, serta menyediakan alat pelindung diri (APD) sesuai kebutuhan.
Dari sisi pekerja, kebiasaan tidur selama tujuh hingga delapan jam setiap hari menjadi langkah penting untuk menjaga kebugaran. Konsumsi makanan bergizi, olahraga secara teratur, serta melakukan relaksasi di sela pekerjaan juga dapat membantu mengurangi kelelahan. Melalui pengelolaan kelelahan yang baik, perusahaan dapat mempertahankan kinerja pekerja sekaligus meningkatkan keselamatan operasional di lingkungan pelabuhan.
[BACA JUGA: Semakin Lama di Depan Layar, Semakin Tinggi Risiko Computer Vision Syndrome pada Pekerja Kantor]
Penulis: Nadia Icha Febrianti
Pembimbing: Neffrety Nilamsari
Editor: Inviana (Tim Vokasi Unair)



