VOKASI NEWS – Anemia masih menjadi salah satu masalah kesehatan yang banyak dialami wanita usia produktif di Indonesia. Kondisi ini terjadi ketika kadar hemoglobin dalam darah berada di bawah nilai normal sehingga pasokan oksigen ke seluruh tubuh berkurang. Akibatnya, penderita dapat mengalami mudah lelah, sulit berkonsentrasi, hingga penurunan produktivitas.
Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, prevalensi anemia pada wanita berusia 15–24 tahun mencapai sekitar 32 persen. Angka tersebut menunjukkan bahwa upaya pencegahan dan penanganan anemia masih perlu terus ditingkatkan. Salah satu alternatif yang mulai banyak diteliti adalah pemanfaatan tanaman herbal, termasuk daun katuk (Sauropus androgynus L. Merr).
Daun Katuk Kaya Kandungan yang Mendukung Pembentukan Hemoglobin
Selama ini, daun katuk lebih dikenal sebagai tanaman yang membantu meningkatkan produksi ASI. Namun, tanaman ini juga memiliki kandungan gizi yang berpotensi mendukung pembentukan sel darah merah.
Setiap 100 gram daun katuk segar mengandung sekitar 3,5 mg zat besi, 164 mg vitamin C, 6,4 gram protein, dan 10.020 µg β-karoten. Kombinasi nutrisi tersebut berperan dalam proses pembentukan hemoglobin sehingga berpotensi membantu mengatasi anemia.
Seduhan Daun Katuk Tunjukkan Hasil Menjanjikan
Penelitian yang dilakukan di Program Studi Sarjana Terapan Pengobat Tradisional, Fakultas Vokasi Universitas Airlangga menguji efektivitas seduhan simplisia daun katuk terhadap peningkatan kadar hemoglobin.
Sebanyak 30 wanita berusia 18–24 tahun yang mengalami anemia dilibatkan dalam penelitian tersebut. Responden dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok perlakuan mengonsumsi seduhan daun katuk selama 14 hari, sedangkan kelompok kontrol hanya mengonsumsi air putih. Pengukuran kadar hemoglobin dilakukan sebelum dan sesudah intervensi menggunakan alat pengukur hemoglobin digital.
Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan kadar hemoglobin yang signifikan pada kelompok perlakuan. Nilai rata-rata hemoglobin meningkat sebesar 2,25 g/dL, yaitu dari 10,19 g/dL menjadi 12,45 g/dL (p < 0,001). Sebaliknya, kelompok kontrol hanya mengalami peningkatan sebesar 0,57 g/dL, dengan perubahan yang tidak signifikan secara statistik.
Kandungan Daun Katuk Bekerja Secara Sinergis
Secara biomedis, vitamin C membantu meningkatkan penyerapan zat besi dengan mengubah ion besi ferri menjadi ferro yang lebih mudah diserap tubuh. Protein berperan dalam pembentukan transferrin, yaitu protein pengangkut zat besi menuju sumsum tulang.
Selain itu, flavonoid dan polifenol dalam daun katuk berfungsi sebagai antioksidan yang melindungi sel darah merah dari kerusakan. Seluruh kandungan tersebut bekerja secara sinergis untuk mendukung proses pembentukan eritrosit maupun hemoglobin.
Dalam perspektif Traditional Chinese Medicine (TCM), daun katuk memiliki rasa manis (Gan) dan sifat sejuk (Liang). Karakteristik tersebut dipercaya membantu menyeimbangkan fungsi organ limpa yang berperan dalam pembentukan energi (Qi) dan darah.
Berpotensi Menjadi Terapi Komplementer
Hasil penelitian menunjukkan bahwa seduhan daun katuk berpotensi menjadi terapi komplementer yang mudah diperoleh dan relatif terjangkau. Cara penyajiannya juga sederhana, yaitu dengan menyeduh simplisia daun katuk menggunakan air panas selama sekitar 10 menit sebelum dikonsumsi.
Meski demikian, beberapa responden melaporkan efek samping ringan, seperti mual dan peningkatan frekuensi buang air besar pada awal konsumsi. Keluhan tersebut diduga berkaitan dengan kandungan serat, tanin, dan saponin, serta berangsur membaik setelah tubuh beradaptasi.
Penelitian lanjutan masih diperlukan untuk memperkuat temuan tersebut. Penambahan jumlah responden, durasi intervensi yang lebih panjang, serta pemeriksaan laboratorium yang lebih lengkap diharapkan mampu memberikan bukti ilmiah yang lebih kuat mengenai manfaat daun katuk dalam penanganan anemia.
[BACA JUGA: Konflik Kepentingan Dalam Kebijakan Penjualan Kredit Sebagai Pemicu Risiko Piutang Tak Tertagih]
Penulis: Kevin Dwi Saputera
Pembimbing: Rini Hamsidi dan Myrna Adianti
Editor: Inviana (Tim Vokasi Branding)



