Doom Spending Terbukti Menjadi Faktor Dominan Risiko Kredit Digital Pengguna Paylater

Doom Spending Terbukti Menjadi Faktor Dominan Risiko Kredit Digital Pengguna Paylater

VOKASI NEWS – Layanan Buy Now Pay Later (BNPL) atau paylater semakin diminati masyarakat Indonesia karena menawarkan kemudahan bertransaksi tanpa pembayaran langsung. Pertumbuhan layanan ini tercermin dari outstanding pembiayaan pinjaman daring yang telah mencapai lebih dari Rp101 triliun pada Maret 2026. Di balik angka tersebut, risiko gagal bayar juga menunjukkan tren peningkatan yang mengkhawatirkan. Hal ini ditandai dengan kenaikan Tingkat Wanprestasi 90 Hari (TWP90) menjadi 4,52 persen, yang mendekati batas aman industri sebesar 5 persen. Kondisi ini mendorong lahirnya penelitian mengenai faktor-faktor yang memengaruhi perilaku berisiko dalam penggunaan kredit digital, khususnya di kalangan masyarakat Pulau Jawa. (Otoritas Jasa Keuangan, 2026).

Penelitian dilakukan terhadap 161 pengguna aktif paylater berusia minimal 18 tahun yang berdomisili di Pulau Jawa. Analisis menggunakan metode regresi linear berganda menunjukkan bahwa faktor emosional berupa doom spending menjadi variabel yang paling berpengaruh. Variabel tersebut berpengaruh terhadap perilaku kredit digital berisiko (digital risk credit behavior). Sementara itu, literasi keuangan dan financial self-efficacy tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan secara parsial terhadap perilaku tersebut. Data diperoleh melalui pengolahan kuesioner daring menggunakan aplikasi SPSS versi 32. Hasil analisis menunjukkan bahwa ketiga variabel secara bersama-sama mampu menjelaskan 47,7 persen variasi perilaku kredit digital berisiko. (Skripsi Patricia Adelita Arief Saputri, Universitas Airlangga, 2026).

Faktor Emosional Lebih Dominan dari Pengetahuan Keuangan

Fenomena doom spending menggambarkan kecenderungan individu untuk melakukan pembelian sebagai respons terhadap stres, kecemasan, maupun ketidakpastian ekonomi yang dirasakan. Kemudahan akses layanan paylater dinilai mampu memperkuat perilaku tersebut karena transaksi dapat dilakukan tanpa pembayaran langsung di tempat. Berdasarkan hasil penelitian, semakin tinggi kecenderungan doom spending, semakin besar pula risiko individu melakukan penggunaan kredit digital. Kondisi tersebut berpotensi mengarah pada keterlambatan pembayaran hingga gagal bayar. Kondisi ini menunjukkan bahwa dorongan emosional dapat mengalahkan pertimbangan rasional meskipun individu memiliki pemahaman keuangan yang memadai. (Skripsi Patricia Adelita Arief Saputri, Universitas Airlangga, 2026).

Tingkat literasi keuangan maupun keyakinan terhadap kemampuan mengelola keuangan (financial self-efficacy) tidak terbukti mampu mencegah perilaku kredit berisiko. Kondisi tersebut terjadi ketika dorongan emosional menjadi faktor utama dalam pengambilan keputusan. Temuan ini sejalan dengan konsep knowledge-attitude gap, yaitu kesenjangan antara pengetahuan yang dimiliki dengan perilaku yang diterapkan dalam kehidupan nyata. Individu yang memahami risiko kredit digital sekalipun dapat terdorong untuk menggunakan paylater secara impulsif ketika menghadapi tekanan emosional. Hal ini menegaskan bahwa pengetahuan keuangan saja tidak cukup untuk membentuk perilaku kredit yang sehat dan bertanggung jawab.

“Temuan ini menunjukkan bahwa pengendalian emosi memiliki peran yang tidak kalah penting dibandingkan pengetahuan keuangan dalam mencegah risiko gagal bayar pada penggunaan layanan paylater,” ujar Patricia Adelita Arief Saputri, mahasiswa Program Studi Sarjana Terapan Perbankan dan Keuangan, Fakultas Vokasi, Universitas Airlangga.

Perlunya Pendekatan Holistik dalam Edukasi Keuangan Digital

Hasil penelitian menjadi masukan penting bagi regulator, penyedia layanan keuangan digital, maupun masyarakat luas untuk memperluas fokus edukasi keuangan. Program literasi keuangan tidak hanya perlu meningkatkan pemahaman mengenai bunga, cicilan, maupun risiko utang, tetapi juga perlu memperhatikan aspek psikologis yang memengaruhi perilaku konsumsi. Pendekatan yang mengintegrasikan dimensi emosional dan kognitif dinilai lebih efektif dalam membentuk perilaku keuangan yang sehat di era digital. (Skripsi Patricia Adelita Arief Saputri, Universitas Airlangga, 2026).

Penyedia layanan paylater juga diharapkan dapat mengembangkan fitur mitigasi risiko yang lebih adaptif terhadap profil perilaku penggunanya, seperti notifikasi peringatan saat terdeteksi pola transaksi impulsif yang berulang. Masyarakat, khususnya generasi muda, diimbau untuk lebih bijak dalam memanfaatkan fasilitas paylater sebagai instrumen pembiayaan yang terencana, bukan sebagai sarana memenuhi kebutuhan konsumtif yang dipicu tekanan emosional sesaat. Pengelolaan keuangan yang memperhatikan keseimbangan antara kemampuan finansial dan kesehatan psikologis dinilai menjadi langkah penting untuk menekan risiko gagal bayar pada era keuangan digital. Masih terdapat faktor lain di luar penelitian yang turut memengaruhi keputusan masyarakat dalam menggunakan layanan paylater, sehingga penelitian lanjutan dengan cakupan variabel yang lebih luas sangat diperlukan. (Skripsi Patricia Adelita Arief Saputri, Universitas Airlangga, 2026).

[BACA JUGA: Investor Bank BUMN, Jangan Cuma Lihat Bunga: Ini yang Sebenarnya Dilihat Pasar]

Penulis: Patricia Adelita Arief Saputri

Pembimbing: Eka Lestari Hafqi Putri

Editor: Aghnia Faizatus (Tim Branding Vokasi)