Hubungan Antara Intensitas Kebisingan dan Aktivitas Fisik dengan Tekanan Darah pada Pekerja di Area LOSD (UPT Depo Lokomotif Sidotopo)

Hubungan Antara Intensitas Kebisingan dan Aktivitas Fisik dengan Tekanan Darah pada Pekerja di Area LOSD (UPT Depo Lokomotif Sidotopo)

VOKASI NEWS – Lingkungan kerja transportasi perkeretaapian, khususnya depo lokomotif, memiliki tingkat kebisingan yang cukup tinggi. Kondisi tersebut disebabkan oleh pengoperasian mesin diesel dan berbagai alat yang digunakan dalam perbaikan sarana. Selain terpapar kebisingan, pekerja di area ini juga menjalani aktivitas fisik yang cukup berat. Aktivitas tersebut dilakukan secara berulang selama jam kerja. Paparan kebisingan yang berlebihan dan aktivitas fisik yang intensif dapat memicu peningkatan tekanan darah. Kondisi tersebut terjadi melalui mekanisme stres fisiologis yang muncul dalam tubuh. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis hubungan antara intensitas kebisingan dan aktivitas fisik dengan peningkatan tekanan darah pada pekerja. Subjek penelitian adalah pekerja di area losd UPT Depo Lokomotif Sidotopo.

Gambaran Kondisi Kerja dan Tekanan Darah Pekerja

Penelitian ini dilakukan pada 52 pekerja di area losd UPT Depo Lokomotif Sidotopo, Surabaya. Tujuannya adalah untuk menggambarkan hubungan antara intensitas kebisingan, aktivitas fisik, dan tekanan darah pada pekerja. Hasil pengukuran menunjukkan bahwa seluruh area kerja memiliki intensitas kebisingan di atas Nilai Ambang Batas yang ditetapkan. Selain itu, mayoritas pekerja tergolong memiliki tingkat aktivitas fisik yang berat. Kondisi tersebut sejalan dengan hasil pengukuran tekanan darah pada pekerja. Sebagian besar pekerja mengalami peningkatan tekanan darah setelah menjalani aktivitas kerja.

Hubungan Intensitas Kebisingan dan Aktivitas Fisik dengan Peningkatan Tekanan Darah

Temuan penelitian menunjukkan bahwa intensitas kebisingan memiliki hubungan yang bermakna dengan peningkatan tekanan darah pekerja. Selain itu, aktivitas fisik juga terbukti berhubungan secara signifikan dengan peningkatan tekanan darah pekerja. Semakin tinggi tingkat kebisingan yang diterima pekerja, semakin besar kecenderungan terjadinya peningkatan tekanan darah. Temuan ini menunjukkan bahwa lingkungan kerja yang bising berkontribusi terhadap munculnya respons stres fisiologis pada tubuh. Pola yang serupa juga ditemukan pada aktivitas fisik, di mana beban kerja fisik yang tinggi turut berkaitan dengan perubahan tekanan darah pekerja selama bekerja.

Mekanisme Pengaruh Kebisingan terhadap Tekanan Darah

Kebisingan yang melebihi ambang batas dapat memicu aktivasi sistem saraf simpatis dan pelepasan hormon stres dalam tubuh, sehingga menyebabkan penyempitan pembuluh darah, peningkatan denyut jantung, dan naiknya tekanan darah. Semakin lama dan semakin tinggi intensitas kebisingan yang diterima pekerja, semakin besar pula respons stres tubuh yang muncul. Kondisi ini menegaskan pentingnya pengendalian kebisingan di lingkungan kerja sebagai upaya menjaga kesehatan kardiovaskular pekerja.

Pengaruh Aktivitas Fisik terhadap Perubahan Tekanan Darah

Aktivitas fisik yang dilakukan secara terus-menerus dengan durasi panjang dan tanpa waktu pemulihan yang cukup juga dapat membebani kerja jantung, sehingga tekanan darah cenderung meningkat selama bekerja. Menariknya, pekerja dengan tingkat aktivitas fisik paling berat justru menunjukkan proporsi peningkatan tekanan darah yang sedikit lebih rendah dibandingkan kelompok dengan aktivitas fisik ringan dan sedang. Pola ini diduga berkaitan dengan adaptasi fisiologis tubuh pekerja yang telah terbiasa dengan beban kerja berat, sehingga sistem kardiovaskularnya menjadi lebih efisien dalam merespons tuntutan fisik tersebut.

Temuan ini menggarisbawahi bahwa pengendalian risiko kesehatan di lingkungan kerja perkeretaapian tidak dapat hanya berfokus pada satu aspek saja, melainkan perlu mempertimbangkan kombinasi antara pengendalian kebisingan dan pengaturan beban kerja fisik. Pemasangan peredam suara, pemeliharaan mesin secara berkala, penyediaan alat pelindung telinga, serta pembatasan durasi paparan sesuai ketentuan yang berlaku perlu terus dioptimalkan. Kemudian, pengaturan rotasi kerja, waktu istirahat yang memadai, dan program pemeriksaan kesehatan berkala termasuk pemantauan tekanan darah juga penting dilakukan agar risiko gangguan kardiovaskular pada pekerja dapat dideteksi dan dicegah sejak dini, sehingga kesehatan dan keselamatan kerja di lingkungan depo lokomotif dapat lebih terjamin.

[BACA JUGA: Interactive Health Education to Improve Children’s Immune Health at TPQ GBA]

Penulis: Hania Salsabila Putri

Pembimbing: Indah Lutfiya, S.KM., M.Kes.

Editor: Aghnia Faizatus (Tim Branding Vokasi)