VOKASI NEWS – Aktivitas bongkar muat di pelabuhan tidak hanya menuntut ketelitian, tetapi juga kekuatan fisik yang tinggi. Proses mengangkat, membawa, menarik, mendorong, hingga menyusun barang secara berulang masih menjadi bagian dari aktivitas Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM). Pada beberapa proses bongkar muat, pekerjaan juga masih dilakukan secara manual material handling sehingga pekerja menerima beban yang besar pada sistem muskuloskeletal, terutama di daerah punggung bawah. Kondisi tersebut menjadikan TKBM sebagai salah satu kelompok pekerja yang rentan mengalami keluhan Low Back Pain (LBP). World Health Organization (WHO) melaporkan bahwa sekitar 619 juta penduduk dunia mengalami Low Back Pain pada tahun 2020 dan jumlah tersebut diperkirakan meningkat menjadi 843 juta kasus pada tahun 2050 (WHO, 2023).
Menelusuri Faktor Penyebab Low Back Pain pada TKBM
Kondisi tersebut melatarbelakangi penelitian yang dilakukan pada tahun 2026 terhadap 75 Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM) di PT X. Penelitian ini mengkaji hubungan usia, masa kerja, kebiasaan merokok, dan beban kerja fisik dengan keluhan Low Back Pain (LBP). Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner Nordic Body Map untuk mengidentifikasi keluhan LBP serta pengukuran beban kerja fisik berdasarkan SNI 7269:2009. Analisis data menggunakan uji Spearman Rank untuk mengetahui hubungan setiap variabel dengan keluhan LBP.
Usia, Rokok, dan Beban Kerja Jadi Faktor Risiko
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden berusia lebih dari 40 tahun (45,3%), memiliki masa kerja lebih dari lima tahun (52%), serta termasuk kategori perokok sedang (56%). Sebanyak 60% responden memiliki beban kerja fisik kategori sedang, sedangkan 48% responden mengalami keluhan Low Back Pain pada tingkat risiko sedang. Analisis Spearman Rank menunjukkan bahwa usia (p=0,005), masa kerja (p=0,006), kebiasaan merokok (p=0,004), dan beban kerja fisik (p<0,001) berhubungan secara signifikan dengan keluhan Low Back Pain. Temuan ini menunjukkan bahwa usia, masa kerja, kebiasaan merokok, dan beban kerja fisik berkaitan dengan keluhan Low Back Pain pada Tenaga Kerja Bongkar Muat.
Bertambahnya usia dan lamanya masa kerja berkaitan dengan menurunnya kemampuan tubuh menerima beban fisik sehingga pekerja lebih rentan mengalami keluhan. Selain itu, kebiasaan merokok dapat mengurangi suplai oksigen ke jaringan tubuh sehingga pemulihan jaringan menjadi kurang optimal. Aktivitas manual material handling yang dilakukan secara berulang, terutama dengan postur kerja kurang ergonomis, memberikan tekanan lebih besar pada punggung. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa karakteristik individu dan beban kerja fisik perlu diperhatikan dalam upaya pencegahan keluhan Low Back Pain.
Mencegah Nyeri Punggung Sejak di Tempat Kerja
Temuan penelitian ini dapat menjadi masukan bagi perusahaan dalam memperkuat program keselamatan dan kesehatan kerja. Pengaturan beban kerja, edukasi mengenai teknik manual material handling yang benar, penerapan peregangan kerja, serta pemeriksaan kesehatan berkala merupakan langkah yang dapat diterapkan perusahaan. Berbagai upaya tersebut dapat mendukung pencegahan keluhan Low Back Pain pada Tenaga Kerja Bongkar Muat. Penerapan upaya tersebut juga dapat membantu menciptakan lingkungan kerja yang lebih aman dan sehat bagi pekerja. Dengan demikian, perhatian terhadap faktor individu dan beban kerja fisik perlu menjadi bagian dari upaya pencegahan keluhan Low Back Pain di lingkungan kerja.
[BACA JUGA: Perkembangan Transformasi Bisnis Digital Melalui Program Kerja Lokal Berdaya pada Kegiatan BBK 7]
Penulis: Laila Nur Aini
Pembimbing: Indah Lutfiya
Editor: Aghnia Faizatus (Tim Branding Vokasi)



