VOKASI NEWS – Pemeriksaan ultrasonografi pada area perut sering kali menghadapi tantangan besar ketika dilakukan pada pasien dengan indeks massa tubuh tinggi. Lapisan jaringan lemak subkutan yang tebal pada dinding perut menjadi penghalang gelombang suara yang dipancarkan oleh alat USG. Lemak tersebut menyerap, memantulkan, dan menghamburkan gelombang suara sehingga gambar organ dalam yang muncul pada monitor sering kali tertutup kabut abu-abu. Kondisi ini dapat menyulitkan dokter dalam menegakkan diagnosis klinis.
Fenomena tersebut terjadi akibat aberrasi fase dan hamburan gelombang samping yang menurunkan kualitas citra. Akibatnya, kekuatan sinyal utama yang diterima kembali oleh transduser ikut menurun. Padahal, ketajaman visual sangat diperlukan untuk mengevaluasi potensi patologi pada kantung empedu. Kondisi inilah yang mendorong pengembangan parameter teknologi pemeriksaan agar mampu mengatasi keterbatasan akibat jaringan lemak tubuh pasien.
Keunggulan B-Mode Konvensional
Pemeriksaan menggunakan mode B-Mode dengan frekuensi dasar rendah memiliki keunggulan dalam daya tembus terhadap jaringan perut. Berdasarkan hukum akustik, nilai koefisien atenuasi atau pelemahan gelombang suara berbanding lurus dengan peningkatan frekuensi transduser serta ketebalan lemak subkutan (Rezaei-Dalouei et al., 2018). Gelombang suara pada mode konvensional terbukti mampu membantu menentukan posisi anatomis kantung empedu yang terdorong lebih dalam akibat penumpukan jaringan lemak.
Keunggulan tersebut tercermin dari tingginya nilai Signal-to-Noise Ratio yang dihasilkan. Meskipun demikian, mode menggunakan B-Mode masih memiliki keterbatasan pada resolusi kontras. Akibatnya, batas antara dinding organ dan rongga bagian dalam belum dapat divisualisasikan secara optimal.
Keunggulan Tissue Harmonic Imaging
Masalah kabut tebal pada pasien dengan obesitas dapat diatasi melalui mode Tissue Harmonic Imaging (THI). THI bekerja pada spektrum frekuensi harmonik kedua yang lebih tinggi dan terbentuk akibat propagasi nonlinear gelombang ultrasound di dalam jaringan (Anvari et al., 2015). Berkas gelombang kedua yang lemah akan tereliminasi sehingga rongga cairan kantung empedu tampak lebih bersih dari artefak. Hasilnya, visualisasi batas anatomi organ menjadi lebih tegas, tajam, dan memiliki Contrast-to-Noise Ratio yang lebih baik.
Meskipun unggul dalam meningkatkan kontras citra, mode harmonik tetap memiliki keterbatasan. Energi gelombang pada frekuensi tinggi lebih cepat mengalami pelemahan sehingga sinyal harmonik sulit mencapai bagian organ yang berada pada kedalaman ekstrem. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tidak ada satu mode pencitraan yang sepenuhnya unggul. Sebaliknya, kedua teknik memiliki karakteristik yang saling melengkapi.
Optimalisasi Pemeriksaan pada Pasien Obesitas
Berdasarkan hasil komparasi tersebut, penerapan protokol pemindaian kombinasi menjadi langkah yang direkomendasikan dalam pemeriksaan kantung empedu pada pasien obesitas. Tahap awal pemeriksaan sebaiknya memanfaatkan keunggulan penetrasi dari mode konvensional untuk menentukan posisi anatomis organ.
Setelah target berhasil diidentifikasi, mode Tissue Harmonic Imaging dapat diaktifkan untuk mengurangi artefak dan meningkatkan ketajaman visualisasi. Kombinasi kedua teknik tersebut diharapkan mampu mengoptimalkan kualitas pelayanan diagnostik serta meningkatkan akurasi pemeriksaan pada pasien obesitas.
[BACA JUGA: Mengenal Picture Archiving and Communication System untuk Akses Hasil Radiologi]
***
Penulis: Armareta Berliana Kristanti
Pembimbing: Prof. Dr. Anggraini Dwi S., dr., Sp.Rad., Subsp. NKL(K) dan Krizky Eka Putra Sulistya, S.Tr.Kes.
Editor: Cheiza Xaviera (Tim Branding Vokasi)



