Mahasiswa Vokasi Unair Ungkap Penyebab Tipisnya Margin UMKM Mild Sleep

VOKASI NEWS – Mahasiswa Program Studi D-III Akuntansi Fakultas Vokasi Universitas Airlangga, Nita Maia Wulandari, melaksanakan Praktik Kerja Lapangan (PKL) di UMKM Mild Sleep. Usaha produksi bantal dan guling tersebut berlokasi di Jalan Kramat Kali No. 14, Jajar Tunggal, Kecamatan Wiyung, Surabaya. Selama kegiatan PKL, pendampingan difokuskan pada penghitungan biaya produksi yang belum diterapkan secara rinci oleh pemilik usaha.

Kendala Pencatatan Keuangan

Mild Sleep berdiri sejak 26 Februari 2016 di bawah kepemilikan Asep Mulyono. Saat ini, usaha tersebut melayani pesanan dari pelanggan perorangan, perusahaan, hingga hotel. Meskipun permintaan terus meningkat, pencatatan keuangan masih dilakukan secara manual dan sederhana. Selain itu, biaya tenaga kerja pemilik belum pernah dimasukkan ke dalam perhitungan biaya produksi. Akibatnya, biaya produksi yang sebenarnya sulit diketahui secara akurat.

“Selama ini pencatatan hanya dilakukan seadanya karena dirasa sudah cukup untuk memantau usaha sehari-hari,” ungkap Asep Mulyono, pemilik Mild Sleep.

Pendampingan Selama Praktik Kerja Lapangan

Selama PKL berlangsung, pendampingan dilakukan melalui empat metode, yaitu partisipasi langsung dalam pencatatan transaksi harian, wawancara dengan pemilik usaha, observasi proses produksi, dan dokumentasi kegiatan.

Selanjutnya, setiap transaksi penjualan, penerimaan kas, dan pengeluaran kas dicatat secara rinci. Pencatatan juga mencakup penggunaan bahan baku untuk setiap produk. Kemudian, seluruh biaya dikelompokkan ke dalam tiga komponen utama, yaitu biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik.

Hasil Perhitungan Biaya Produksi

Berdasarkan pengolahan data selama September 2025, harga pokok produksi bantal mencapai Rp171.548.161. Sementara itu, harga pokok produksi guling sebesar Rp90.925.755.

Dengan harga jual Rp27.000 per bantal dan Rp35.000 per guling, margin keuntungan kotor yang diperoleh tergolong tipis. Margin tersebut hanya sekitar 3 persen untuk bantal dan 4 persen untuk guling. Temuan ini menunjukkan bahwa pencatatan biaya produksi secara rinci sangat diperlukan. Tanpa pencatatan yang baik, pemilik usaha berisiko menetapkan harga jual yang belum mencerminkan biaya produksi yang sebenarnya.

Rekomendasi untuk Keberlanjutan Usaha

Berdasarkan hasil pendampingan, terdapat beberapa rekomendasi untuk meningkatkan pengelolaan keuangan Mild Sleep. Rekomendasi tersebut meliputi pendokumentasian setiap pembelian bahan baku secara rinci, pencatatan biaya tenaga kerja pemilik ke dalam biaya produksi, serta penyusunan laporan keuangan yang memuat biaya produksi, pendapatan, dan laba bersih setiap bulan.

Dengan demikian, pemilik usaha dapat memantau kondisi keuangan secara lebih akurat sekaligus menentukan strategi harga jual yang lebih tepat. Selain itu, pendampingan ini menunjukkan bahwa pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) masih memerlukan pemahaman mengenai akuntansi biaya agar usaha dapat berkembang secara berkelanjutan (Khaerunnisa & Pardede, 2021).

[BACA JUGA: Kampus Berdampak: Dosen Fakultas Vokasi dan FKH Unair Skrining Status Gizi Siswa di Bojonegoro]

Penulis: Nita Maia Wulandari

Editor: Sinta Rahmah (Tim Vokasi Branding)