VOKASI NEWS – Saat seseorang mengalami asma atau sesak napas, penggunaan inhaler sering menjadi pilihan utama dibandingkan obat minum. Banyak orang menganggap inhaler hanyalah alat bantu pernapasan biasa. Padahal, inhalasi termasuk salah satu bentuk obat sediaan khusus dengan teknologi penghantaran obat modern yang dirancang agar zat aktif dapat langsung mencapai paru-paru.
Berbeda dengan obat oral yang harus melewati saluran pencernaan terlebih dahulu, sediaan inhalasi bekerja dengan mengantarkan partikel obat langsung ke saluran pernapasan melalui proses penghirupan aerosol. Sistem ini membuat obat dapat bekerja lebih cepat dan lebih efektif pada penyakit paru-paru seperti asma, PPOK, hingga infeksi saluran pernapasan tertentu (Matera et al., 2021).
Bagaimana Obat Inhalasi Bekerja?
Sediaan inhalasi menggunakan teknologi aerosol untuk menghasilkan partikel obat berukuran sangat kecil agar dapat mencapai saluran napas bagian dalam. Ketika dihirup, partikel tersebut akan masuk melalui hidung atau mulut menuju bronkus dan paru-paru. Ukuran partikel menjadi faktor penting dalam efektivitas terapi. Partikel yang terlalu besar akan tertahan di tenggorokan, sedangkan partikel yang terlalu kecil dapat keluar kembali saat bernapas.
Penelitian menunjukkan bahwa partikel aerosol berukuran sekitar 1–5 mikrometer merupakan ukuran paling optimal untuk mencapai paru-paru bagian dalam. Karena itulah, pembuatan obat inhalasi membutuhkan teknologi formulasi khusus agar partikel aerosol tetap stabil dan mudah terdispersi saat digunakan.
Fakta Unik: Paru-Paru Bisa Menjadi Jalur Penghantaran Obat
Paru-paru memiliki luas permukaan yang sangat besar dan kaya pembuluh darah, sehingga menjadi jalur penghantaran obat yang efektif. Dalam dunia farmasi, metode ini dikenal sebagai pulmonary drug delivery system.
Keunggulan utama sistem inhalasi adalah obat dapat bekerja langsung di organ target sehingga dosis yang digunakan lebih kecil dibandingkan obat oral. Hal ini membantu mengurangi efek samping sistemik pada tubuh (Kwok, 2021). Tidak hanya digunakan untuk asma, teknologi inhalasi kini juga dikembangkan untuk penghantaran antibiotik, antikanker, hingga terapi berbasis nanopartikel dan liposom.
Inhaler dan Nebulizer, Apa Bedanya?
Dalam praktik medis, sediaan inhalasi dapat diberikan menggunakan beberapa alat seperti metered-dose inhaler (MDI), dry powder inhaler (DPI), dan nebulizer. MDI bekerja dengan menyemprotkan aerosol obat dalam dosis tertentu, sedangkan DPI menggunakan serbuk halus yang dihirup langsung oleh pasien.
Nebulizer berbeda karena mengubah cairan obat menjadi kabut aerosol secara terus-menerus sehingga sering digunakan pada anak-anak atau pasien dengan gangguan napas berat (Ari, 2021). Menariknya, efektivitas inhalasi tidak hanya dipengaruhi obat, tetapi juga teknik penggunaan alat. Kesalahan penggunaan inhaler dapat menyebabkan sebagian besar obat tidak mencapai paru-paru.
Teknologi Modern di Balik Sediaan Inhalasi
Perkembangan farmasi modern membuat teknologi inhalasi semakin canggih. Peneliti mulai mengembangkan sistem penghantaran obat berbasis mikrosfer, nanopartikel, dan liposom untuk meningkatkan stabilitas serta efektivitas obat di paru-paru.
Salah satu inovasi tersebut adalah penggunaan mikrosfer inhalasi yang mampu melindungi obat sekaligus meningkatkan kemampuan partikel mencapai jaringan paru-paru secara lebih optimal (Hariyadi et al., 2021). Selain itu, teknologi liposom inhalasi juga mulai dikembangkan untuk menghasilkan pelepasan obat yang lebih terkontrol dan tahan lama pada saluran pernapasan (Paul et al., 2021).
Mengapa Sediaan Inhalasi Dinilai Efektif?
Karena obat diberikan langsung ke paru-paru, onset kerja sediaan inhalasi cenderung lebih cepat dibandingkan obat oral. Sistem ini juga membantu mengurangi metabolisme obat di hati sehingga efektivitas terapi meningkat. Keunggulan lain dari inhalasi adalah kemampuannya memberikan efek lokal dengan dosis lebih kecil.
Oleh karena itu, sediaan inhalasi menjadi salah satu inovasi penting dalam pengobatan penyakit pernapasan modern. Di balik bentuknya yang kecil dan praktis, inhaler ternyata merupakan hasil perkembangan teknologi farmasi yang kompleks dan terus berkembang hingga saat ini.
[BACA JUGA: Obat Herbal Ternyata Bukan Hanya Sekadar Jamu]
Penulis: Gracela Yolanda Sitanggang
Pembimbing: Hafna Ilmy Muhalla
Editor: Vioretha (Tim Vokasi Branding)
Sumber:
Ari, A. (2021). A path to successful patient outcomes through aerosol drug delivery to children: a narrative review. Annals of Translational Medicine, 9(7), 593–593. https://doi.org/10.21037/atm-20-1682
Hariyadi, D. M., Hendradi, E., Pratama, H. E., & Rahmadi, M. (2021). Microspheres as pulmonary delivery systems – A review. Journal of Chinese Pharmaceutical Sciences, 30(7), 545–555. https://doi.org/10.5246/jcps.2021.07.043
Kwok, P. C. L. (2021). Advances in Inhalation Drug Delivery. Current Pharmaceutical Design, 27(12), 1435–1435. https://doi.org/10.2174/138161282712210421084343
Matera, M. G., Calzetta, L., Ora, J., Rogliani, P., & Cazzola, M. (2021). Pharmacokinetic/pharmacodynamic approaches to drug delivery design for inhalation drugs. Expert Opinion on Drug Delivery, 18(7), 891–906. https://doi.org/10.1080/17425247.2021.1873271
Paul, S., Roy, T., Bose, A., Chatterjee, D., Chowdhury, V. R., Rana, M., & Das, A. (2021). Liposome mediated pulmonary drug delivery system: An updated review. RESEARCH JOURNAL OF PHARMACY AND TECHNOLOGY, 14(3), 1791–1796. https://doi.org/10.5958/0974-360X.2021.00318.8



