VOKASI NEWS — Mahasiswa D-III Keperawatan Fakultas Vokasi UNAIR mengedukasi masyarakat Gresik tentang sediaan obat padat dan penggunaan obat yang rasional melalui metode diskusi interaktif.
Mahasiswa D-III Keperawatan Fakultas Vokasi UNAIR melaksanakan kegiatan sosialisasi edukasi sediaan obat padat kepada masyarakat di Balai Amerta, Perumahan Graha Amerta Bunder RT 04 RW 18, Kecamatan Kebomas, Gresik. Kegiatan ini merupakan bagian dari praktik mata kuliah Farmakologi yang dilaksanakan pada pukul 16.30–17.00 WIB dengan dukungan Ketua RT setempat, Ibu Erni Wahyu Ningrum.
Kegiatan sosialisasi ini dilaksanakan sebagai bagian dari rangkaian kegiatan rutin PKK di lingkungan setempat. Acara diawali dengan pembukaan berupa menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars PKK, serta dilanjutkan dengan kegiatan rutin seperti pengocokan undian. Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan sesi edukasi oleh mahasiswa.
Urgensi Literasi Obat dalam Kehidupan Sehari-hari
Kurangnya pemahaman masyarakat terhadap penggunaan obat yang tepat masih menjadi permasalahan yang sering terjadi dan berpotensi menimbulkan risiko kesehatan, seperti kesalahan dosis hingga menurunnya efektivitas terapi. Oleh karena itu, edukasi kesehatan menjadi langkah penting dalam meningkatkan literasi masyarakat terkait penggunaan obat yang rasional.
Pengenalan Sediaan Obat Padat dan Prinsip Penggunaannya
Materi edukasi disampaikan oleh Frida Dwi Lestari dan Syakira Amalia Putri Prayogo sebagai perwakilan mahasiswa kelompok. Dalam sesi ini, dijelaskan berbagai bentuk sediaan obat padat mulai dari pengertian, bentuk fisik, cara konsumsi, aturan penggunaan, larangan dan anjuran, hingga cara penyimpanan obat yang tepat.
Dalam kegiatan ini, peserta dikenalkan dengan berbagai jenis sediaan obat padat yang umum digunakan dalam kehidupan sehari-hari seperti Tablet, Tablet Salut, Tablet Kunyah, Kapsul, Granul, Serbuk, Pil, Suppositoria, hingga Tablet Effervescent. Penyampaian materi dilakukan secara kontekstual agar mudah dipahami oleh masyarakat.
Peserta juga diberikan pemahaman mengenai prinsip penggunaan obat yang benar. Tablet tertentu seperti tablet salut dan lepas lambat tidak dianjurkan untuk dihancurkan karena dapat mengubah mekanisme pelepasan obat di dalam tubuh. Selain itu, kapsul tidak disarankan untuk dibuka tanpa anjuran tenaga kesehatan karena dapat memengaruhi stabilitas dan efektivitas obat.
Fakta menarik: Tablet lepas lambat dirancang untuk bekerja secara bertahap dalam tubuh, sehingga penghancuran tablet dapat menyebabkan obat bekerja terlalu cepat dan berisiko menimbulkan efek samping.
Risiko Kesalahan Penggunaan Obat dan Dampaknya
Edukasi juga menekankan pentingnya penggunaan obat secara rasional. Antibiotik harus dikonsumsi sesuai resep dokter dan dihabiskan untuk mencegah resistensi bakteri, yaitu kondisi ketika bakteri menjadi kebal terhadap pengobatan. Selain itu, penggunaan paracetamol perlu memperhatikan dosis yang dianjurkan karena penggunaan berlebihan dapat berdampak pada fungsi hati.
Fakta menarik: Resistensi antibiotik dapat menyebabkan infeksi menjadi lebih sulit diobati dan membutuhkan terapi yang lebih kompleks di kemudian hari. Penghentian konsumsi antibiotik secara oral sebelum waktunya dapat menyebabkan resistensi bakteri sehingga pengobatan menjadi lebih sulit di kemudian hari. Sedangkan untuk penggunaan antibiotik berbentuk serbuk (topikal/oles) pada luka di kulit sebaiknya dihentikan ketika luka telah sembuh dan tidak digunakan terlalu lama tanpa evaluasi tenaga kesehatan, agar tidak memicu iritasi maupun resistens.
Diskusi Interaktif sebagai Metode Pembelajaran Efektif
Metode yang digunakan dalam kegiatan ini adalah Small Group Discussion (SGD) dengan pendekatan Discussion-Based Learning (DBL). Metode ini terbukti mampu mendorong partisipasi aktif peserta serta meningkatkan pemahaman melalui interaksi dua arah.
Selama kegiatan berlangsung, peserta menunjukkan antusiasme yang tinggi. Salah satu peserta menanyakan mengenai sediaan obat berbentuk kapsul yang berisi granul di dalamnya. Pertanyaan tersebut dijawab bahwa sediaan tersebut tetap termasuk kapsul karena bentuk luarnya berupa kapsul, sedangkan granul merupakan isi di dalamnya. Diskusi juga berkembang ketika peserta lain menyampaikan pengalaman penggunaan suppositoria sebagai alternatif pemberian obat.
Fakta menarik: Suppositoria digunakan sebagai alternatif rute pemberian obat ketika pasien tidak dapat mengonsumsi obat melalui mulut, seperti pada kondisi muntah atau kesulitan menelan.
Dampak Kegiatan dan Antusiasme Masyarakat
Kegiatan ini diikuti oleh 20 peserta yang mayoritas merupakan keluarga muda. Suasana diskusi berlangsung interaktif dan komunikatif, sehingga materi dapat diterima dengan baik oleh peserta. Ketua RT setempat, Ibu Erni Wahyu Ningrum, menyampaikan apresiasinya
terhadap kegiatan tersebut. “Terima kasih ya mbak, sudah mau mengisi kegiatan sore ini. Sangat terbantu sekali dengan adanya kegiatan sore ini,” ujarnya.
Sebagai bentuk evaluasi, dilakukan pre-test dan post-test untuk mengukur pemahaman peserta sebelum dan setelah kegiatan. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pemahaman setelah kegiatan berlangsung.
Kegiatan ini menunjukkan bahwa pendekatan edukasi berbasis diskusi interaktif lebih efektif dalam meningkatkan pemahaman masyarakat dibandingkan metode ceramah satu arah. Melalui interaksi langsung, peserta dapat mengaitkan materi dengan pengalaman sehari-hari sehingga informasi lebih mudah dipahami.
Dengan demikian, edukasi kesehatan yang dilakukan secara komunikatif dan partisipatif dapat menjadi strategi yang efektif dalam meningkatkan literasi penggunaan obat secara rasional di masyarakat.
[BACA: Mengasah Kompetensi TLM di RSUD dr. Koesma]
Penulis: Frida Dwi Lestari
Pembimbing: Hafna Ilmy Muhalla
Editor: Inviana (Tim Vokasi Branding)



