VOKASI NEWS – Reference interval (RI) merupakan acuan penting dalam pemeriksaan laboratorium klinik. Acuan ini digunakan untuk membedakan kondisi tubuh yang normal dan tidak normal. Ketepatan reference interval berpengaruh terhadap penegakan diagnosis, pemantauan penyakit, serta evaluasi terapi.
Namun, banyak laboratorium di Indonesia masih menggunakan reference interval dari pabrikan alat atau penelitian di luar negeri. Kondisi tersebut dapat menimbulkan perbedaan hasil interpretasi. Pasalnya, reference interval dipengaruhi oleh usia, jenis kelamin, etnis, karakteristik genetik, status gizi, dan pola hidup masyarakat.
Pentingnya reference interval untuk pemeriksaan fungsi hati
Aspartate Aminotransferase (AST) dan Alanine Aminotransferase (ALT) merupakan enzim yang banyak digunakan sebagai biomarker fungsi hati. Peningkatan kedua enzim tersebut dapat mengindikasikan kerusakan sel hati akibat hepatitis, penyakit hati berlemak, sirosis, efek obat yang bersifat hepatotoksik, maupun gangguan hepatobilier lainnya.
Oleh karena itu, reference interval yang sesuai dengan karakteristik populasi lokal diperlukan agar hasil pemeriksaan laboratorium dapat diinterpretasikan dengan lebih akurat.
Penelitian menggunakan data MCU RS PHC Surabaya
Penelitian ini bertujuan menetapkan reference interval AST dan ALT menggunakan metode tidak langsung (indirect method). Data penelitian berasal dari hasil Medical Check Up (MCU) RS PHC Surabaya periode 2022 hingga 2025.
Metode tidak langsung dipilih karena memanfaatkan data laboratorium yang telah tersedia dalam jumlah besar. Selain lebih efisien dari sisi waktu dan biaya, metode ini mampu menggambarkan karakteristik populasi apabila didukung proses seleksi dan validasi data yang baik.
Data penelitian diperoleh dari sistem informasi laboratorium RS PHC Surabaya. Selanjutnya, data dibersihkan menggunakan kriteria inklusi dan eksklusi untuk memperoleh populasi yang mewakili individu sehat.
Tahap analisis meliputi identifikasi data pencilan menggunakan metode Tukey, pengujian distribusi data, serta penetapan reference interval berdasarkan persentil ke-2,5 hingga ke-97,5 sesuai rekomendasi Clinical and Laboratory Standards Institute (CLSI) EP28-A3c.
Hasil menunjukkan perbedaan berdasarkan jenis kelamin
Hasil penelitian menunjukkan bahwa reference interval AST dan ALT berbeda pada laki-laki dan perempuan. Pada laki-laki, reference interval AST berada pada rentang 13–37 U/L. Sementara itu, pada perempuan rentangnya sebesar 14–37 U/L.
Untuk ALT, reference interval pada laki-laki berada pada rentang 8–57 U/L. Adapun pada perempuan, rentangnya sebesar 9–54 U/L.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa reference interval berbasis populasi lokal mampu memberikan gambaran yang lebih sesuai dibandingkan reference interval dari pabrikan. Hal tersebut disebabkan oleh adanya perbedaan karakteristik populasi yang dilayani setiap laboratorium.
Penetapan reference interval lokal diharapkan dapat mendukung standardisasi pelayanan laboratorium klinik. Selain itu, hasil penelitian ini dapat meningkatkan ketepatan interpretasi pemeriksaan dan memperkuat pengambilan keputusan klinis.
Tidak hanya bermanfaat bagi RS PHC Surabaya, penelitian ini juga diharapkan menjadi referensi bagi laboratorium kesehatan lain di Indonesia. Dengan demikian, pengembangan reference interval yang sesuai dengan karakteristik populasi lokal dapat terus dilakukan untuk meningkatkan mutu pelayanan laboratorium klinik.
[BACA JUGA: Keberatan Wajib Pajak atas Penerbitan SKPKB PPh Orang Pribadi]
Penulis: Bintang Aurel Murni Pardede
Editor: Sinta (Tim Vokasi Branding)



