VOKASI NEWS – Infeksi Saluran Kemih (ISK) menjadi salah satu penyakit infeksi yang banyak ditemukan di fasilitas pelayanan kesehatan. Salah satu penyebab utama ISK adalah bakteri Escherichia coli. Bakteri ini secara normal hidup di saluran pencernaan manusia. Namun, bakteri tersebut dapat menyebabkan infeksi ketika masuk ke saluran kemih.
Tantangan penanganan ISK semakin meningkat dengan munculnya Escherichia coli penghasil Extended Spectrum Beta-Lactamase (ESBL). Bakteri ini mampu menghasilkan enzim yang membuat beberapa jenis antibiotik tidak efektif. Kondisi tersebut terutama terjadi pada antibiotik golongan β-laktam, seperti sefalosporin generasi ketiga.
Sebuah penelitian dilakukan untuk mengetahui prevalensi Escherichia coli penghasil ESBL, pola sensitivitas antibiotik, serta faktor risiko yang berkaitan dengan infeksi tersebut. Penelitian dilakukan pada pasien ISK di RSPAL dr. Ramelan Surabaya periode 2025.
Tingginya Temuan Escherichia coli Penghasil ESBL pada Pasien ISK
Penelitian menggunakan metode observasional analitik dengan pendekatan retrospektif. Data penelitian berasal dari hasil kultur urin, uji sensitivitas antibiotik menggunakan sistem VITEK 2 Compact, serta rekam medis pasien selama tahun 2025.
Dari 308 data kultur urin yang tersedia, sebanyak 100 sampel memenuhi kriteria penelitian. Hasil analisis menunjukkan bahwa 67 persen pasien ISK mengalami infeksi akibat Escherichia coli penghasil ESBL. Sementara itu, 33 persen lainnya disebabkan oleh Escherichia coli non-ESBL.
Sebagian besar pasien yang mengalami infeksi tersebut merupakan perempuan dengan persentase 77 persen. Kelompok usia lanjut menjadi kelompok terbanyak dengan persentase 47 persen. Berdasarkan lokasi perawatan, sebanyak 58 persen pasien berasal dari ruang non-ICU.
Tingginya angka kejadian Escherichia coli penghasil ESBL menunjukkan bahwa bakteri resisten antibiotik menjadi perhatian penting dalam penanganan ISK. Pemilihan antibiotik yang tepat diperlukan agar terapi yang diberikan tetap efektif.
Meropenem Menunjukkan Efektivitas Tertinggi
Hasil pengujian sensitivitas antibiotik menunjukkan bahwa meropenem memiliki efektivitas tertinggi terhadap Escherichia coli penghasil ESBL. Tingkat sensitivitas antibiotik tersebut mencapai 93,8 persen.
Selain meropenem, antibiotik lain yang masih menunjukkan efektivitas tinggi yaitu amikasin sebesar 89,1 persen dan nitrofurantoin sebesar 88,6 persen. Hasil tersebut menunjukkan bahwa beberapa antibiotik masih memiliki potensi untuk digunakan dalam terapi ISK.
Sebaliknya, tingkat resistensi tertinggi ditemukan pada ciprofloxacin sebesar 83,3 persen, cefotaxime sebesar 76,6 persen, dan ceftriaxone sebesar 75 persen. Temuan tersebut menunjukkan bahwa beberapa antibiotik yang sebelumnya sering digunakan mulai mengalami penurunan efektivitas.
Nitrofurantoin masih berpotensi menjadi pilihan terapi pada kasus ISK tanpa komplikasi. Namun, penggunaan antibiotik tetap harus disesuaikan dengan hasil pemeriksaan laboratorium dan kondisi klinis pasien.
Faktor Risiko Infeksi Escherichia coli Penghasil ESBL
Selain menganalisis pola resistensi antibiotik, penelitian juga mengidentifikasi faktor risiko yang berhubungan dengan infeksi Escherichia coli penghasil ESBL. Faktor yang dianalisis meliputi usia, jenis kelamin, jenis perawatan, dan riwayat ISK berulang.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perawatan di ruang ICU memiliki hubungan yang signifikan terhadap kejadian infeksi Escherichia coli penghasil ESBL. Pasien ICU memiliki risiko lebih tinggi karena sering mendapatkan antibiotik spektrum luas, menjalani tindakan invasif, serta membutuhkan waktu perawatan yang lebih lama.
Sementara itu, faktor usia dan jenis kelamin tidak menunjukkan hubungan yang bermakna terhadap kejadian infeksi Escherichia coli penghasil ESBL.
Pentingnya Penggunaan Antibiotik Secara Tepat
Penelitian ini menunjukkan bahwa resistensi antibiotik pada bakteri penyebab ISK menjadi tantangan yang perlu mendapat perhatian. Pemeriksaan kultur urin dan uji sensitivitas antibiotik diperlukan sebelum menentukan terapi yang tepat, terutama pada pasien dengan faktor risiko tinggi.
Penerapan penggunaan antibiotik secara rasional melalui program Antimicrobial Stewardship juga menjadi langkah penting untuk mengendalikan penyebaran bakteri resisten di lingkungan rumah sakit.
Hasil penelitian ini dapat menjadi bahan evaluasi bagi tenaga kesehatan dalam menentukan terapi antibiotik berdasarkan pola resistensi lokal. Dengan pemilihan terapi yang tepat, keberhasilan pengobatan pasien ISK dapat meningkat dan risiko berkembangnya bakteri resisten dapat ditekan.
[BACA JUGA: Tujuan Pembayaran Angsuran PPh Pasal 25 dan Penyelesaian Apabila Terjadi Lebih Bayar]
Penulis: Masyidha Febriyanti Putri
Editor: Sinta Rahmah (Tim Vokasi Branding)



