VOKASI NEWS – Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) merupakan aspek penting dalam menciptakan lingkungan kerja yang aman. Hal ini terutama berlaku di industri fabrikasi yang memiliki berbagai potensi bahaya. Penggunaan mesin, peralatan kerja, serta proses produksi yang kompleks dapat meningkatkan risiko kecelakaan kerja apabila tidak diimbangi dengan perilaku kerja yang aman.
Salah satu penyebab utama kecelakaan kerja adalah unsafe action atau tindakan tidak aman yang dilakukan oleh pekerja. Berdasarkan data National Safety Council (NSC), sekitar 88 persen kecelakaan kerja dipicu oleh perilaku tidak aman. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk menganalisis hubungan antara karakteristik individu dan safety leadership dengan unsafe action pada pekerja workshop PT X.
Pengetahuan dan Safety Leadership Berperan Penting
Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional. Penelitian melibatkan seluruh 30 pekerja workshop sebagai responden. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah total sampling.
Variabel penelitian meliputi usia, masa kerja, tingkat pendidikan, pengetahuan, pelatihan K3, safety leadership, dan unsafe action. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 90 persen pekerja memiliki tingkat unsafe action yang rendah.
Selain itu, sebanyak 90 persen responden menilai penerapan safety leadership di perusahaan sudah tergolong baik. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa budaya keselamatan telah terintegrasi dengan baik di lingkungan workshop PT X.
Faktor yang Memengaruhi Unsafe Action
Analisis hubungan antarvariabel menunjukkan bahwa usia, masa kerja, dan tingkat pendidikan hanya memiliki korelasi yang sangat lemah terhadap unsafe action. Sebaliknya, pengetahuan, pelatihan K3, dan safety leadership memiliki hubungan negatif yang kuat.
Artinya, semakin baik pengetahuan pekerja mengenai keselamatan kerja, semakin rutin mereka mengikuti pelatihan K3. Selain itu, penerapan safety leadership yang baik juga mampu menurunkan kecenderungan pekerja melakukan unsafe action.
Temuan tersebut menegaskan bahwa perilaku kerja yang aman tidak hanya dipengaruhi oleh faktor individu. Di sisi lain, kemampuan pemimpin dalam membangun budaya keselamatan juga berperan penting. Pemimpin yang mampu menjadi teladan, berkomunikasi secara efektif, memberikan umpan balik, dan mendorong kepatuhan terhadap prosedur keselamatan dapat membentuk perilaku kerja yang lebih aman.
Mendorong Budaya Keselamatan yang Berkelanjutan
Berdasarkan hasil penelitian, perusahaan disarankan untuk menyelenggarakan pelatihan K3 secara berkala. Tujuannya agar pengetahuan pekerja selalu diperbarui sesuai perkembangan potensi bahaya di tempat kerja.
Selain itu, pelaksanaan toolbox meeting secara rutin sebelum pekerjaan dimulai dapat menjadi sarana untuk mengingatkan pekerja mengenai potensi bahaya dan prosedur kerja yang aman. Penguatan safety leadership pada setiap tingkat pengawasan juga perlu dilakukan secara konsisten. Dengan demikian, budaya keselamatan dapat semakin kokoh di lingkungan kerja.
Hasil penelitian ini diharapkan menjadi masukan bagi perusahaan, praktisi K3, dan dunia industri. Melalui peningkatan pengetahuan, pelatihan K3 yang berkelanjutan, serta safety leadership yang efektif, risiko unsafe action dapat ditekan. Pada akhirnya, lingkungan kerja yang lebih aman, sehat, dan produktif dapat terwujud.
[BACA JUGA: Gambaran Perilaku Aktivitas Gym di Hobby Gym Kabupaten Nganjuk]
***
Penulis: Ghinaayu Aliyyah Tsaabitah
Pembimbing: Fadilatus Sukma Ika Noviarmi
Editor: Cheiza Xaviera (Tim Branding Vokasi)



